“ana (saya, red) masih Islam tua, biar semua bilang itu agama aneh. Tapi, itu agama dari kita pe
orang tua, cuma itu titipan terakhir sebelum meninggal” ujar Fredy, teman lama
dari Sangihe. Saat kemarin sore, menyeruput kopi dengannya di Bakoel koffie,
Cikini-Jakarta.
Jawaban
santai Fredy, itu muncul saat kami ‘terjebak’ diskusi tanpa ujung, berdiskusi
tentang kondisi sosial-politik Sangihe dan juga mendiskusikan tentang
perkembangan Islam Tua di Kabupaten Sangihe-Sulawesi Utara, Kabupaten yang
dekat dengan Philipina Selatan.
Saat
saya di Sangihe Tahun 2001, di Kampung Kendahe tabukan Utara, saya bertemu dan
berteman dengan Fredy. Ia dan beberapa keluarganya menganut agama Islam Tua,
juga beberapa kali saya mengikuti ibadah mereka. Saat itu, penganut Islam Tua
berjumlah kurang-lebih 3000 jiwa.
Setiap
kali saya menyebut dan menulis keyakinan Fredy dan komunitasnya, saya harus
memastikan dua kata muncul bersamaan : “Islam” dan “Tua”. Kenapa? Selain untuk
memastikan Fredy dkk tidak tersinggung, juga nama itu mempunyai nilai
tersendiri bagi mereka.
Kata “Islam” karena mereka meyakini Tuhan itu satu dan Muhammad itu rasul Allah. Sementara “Tua” adalah kata pembeda dengan Islam mainstream. “Tua” juga mempunyai makna identitas sejarah, sebagai warga asli sangihe bukan pendatang dan juga mempertegas sebagai agama tertua di Sangihe.
Kata “Islam” karena mereka meyakini Tuhan itu satu dan Muhammad itu rasul Allah. Sementara “Tua” adalah kata pembeda dengan Islam mainstream. “Tua” juga mempunyai makna identitas sejarah, sebagai warga asli sangihe bukan pendatang dan juga mempertegas sebagai agama tertua di Sangihe.
Ya,
mereka beda dengan tata-cara Ibadah Islam pada Umumnya. Rumah ibadah mereka
tidak seperti Mesjid yang ada kubah dan menaranya, rumah Ibadah Islam Tua lebih
menyerupai gereja yang ada loncengnya.
Bila di mesjid setiap jam shalat ada adzan untuk memanggil shalat , mereka hanya memukul lonceng dan selanjutnya Fredy dan kawan-kawan datang untuk menjalankan shalat. Ketika shalat, Laki-lakinya ada juga memakai sarung sementara perempuannya mengunakan Jilbab.
Bila di mesjid setiap jam shalat ada adzan untuk memanggil shalat , mereka hanya memukul lonceng dan selanjutnya Fredy dan kawan-kawan datang untuk menjalankan shalat. Ketika shalat, Laki-lakinya ada juga memakai sarung sementara perempuannya mengunakan Jilbab.
Tata
cara Ibadah penganut Islam Tua lebih sederhana, pengikut islam tua berdiri dan
duduk membentuk lingkaran, sembari melafalkan doa-doa yang mengunakan bahasa
etnis Sangihe, dan sesekali terdengar lafal bismillah dan takbir Allahu akbar.
Khutbah Ramadhan atau Jummat mereka jauh
lebih menarik dan partisipatif. Dipimpin Imam, mereka berdiskusi tentang perbuatan
baik, situasi kampung, hasil pertanian, dan juga perkembangan komunitas mereka.
Tanpa harus ada yang sengaja berdiri di depan untuk menceramahi mereka tentang
hidup di dunia dan di akhirat kelak.
Bulan
puasa mereka juga puasa, tapi mereka tetap makan siang. “yang Puasa itu Batin
dan pikiran, pikiran itu harus jernih. Makanya di bulan puasa, kami lebih
banyak berdiam diri di rumah untuk mengurangi godaan duniawi.” Ujar Imam Islam
tua di kampung Kendahe saat itu. Di Bulan Puasa mereka juga bayar zakat.
Di
akhir bulan puasa pengikut islam tua membawah telur dan hasil pertanian mereka,
sebagai tanda pembayaran zakat. Selanjutnya, zakat yang terkumpul dibagikan
kepada siapapun yang membutuhkan tanpa melihat agamanya. Bila Idul Fitri
datang, juga sama dengan Islam pada umumnya, ibadah pagi dan dilanjutkan dengan
saling salaman serta berkunjung ke rumah kerabat mereka.
Jika
anda berkeinginan masuk Islam Tua pun, prosesinya begitu sederhana, cukup hanya
di sunnat oleh Imam besar Islam Tua. Bila anda penganut baru Islam Tua,
pastinya tidak akan di ‘cap’ sebagai mualaf dan tidak akan ada pernah menuntun
mendalami ritual islam tua.
Bagi
Islam Tua, yang membedakan pemeluk baru dan lama hanya pada perbuatannya. Makin
tidak tercelah perbuatan yang dilakukan orang itu, maka makin dianggap pengikut
lama dan setia pada ajaran Islam tua itu. Keren kan..?? Pemahaman ini
mengingatkan saya pada pelajaran tentang awal-awal Muhammad menyiarkan Islam.
Sepengatahuanku, Nabi Muhammad tidak pernah membedakan pengikutnya dari sisi
lamanya memeluk Islam.
Bagi
mereka yang senang menyesatkan keyakinan orang. Maka pastinya penganut Islam
Tua ini akan dituduh ajaran sesat, kafir dan menghina Islam. Ya,
tuduhan-tuduhan itu sudah lama mereka dapatkan, hanya tekanan ke penganut Islam
Tua tidak sebesar Ahmadiyah yang harus di kejar-kejar hanya karena keyakinanya.
Untuk
menghindari konflik dan tuduhan kafir atau ajaran sesat. Negara beberapa kali
mengganti nama agama Islam Tua, seperti Islam Handung, Islam Masade tapi ditolak
oleh pengikut islam tua. Usaha ini berhasil di tahun 1984, ketika agama islam
tua resmi dimasukan menjadi Himpunan Penghayat Kepercayaan Masade. Nama Masade,
diambil dari nama orang yang pertama menyebarkan ajaran ini. Meski dalam
kesehariannya, pengikut Islam Tua, lebih senang dan bangga mengakui dirinya
sebagai Islam Tua.
Islam
Tua dituduh kafir, selain karena tata-cara shalatnya beda dengan islam mainstream, mereka tidak percayai
Alquran sebagai Kitab Suci. Menurut Fredy, alasan mereka tidak percayai Alquran
karena pendahulu mereka tidak memiliki Alquran dalam bentuk tertulis, seperti
alquran saat ini yang sudah berbentuk buku. Mereka hanya di ajarkan agama
secara lisan, turun-temurun, dan tanpa teks tertulis atau buku sebagai rujukan.
Dan
bagi saya, Islam Tua Tidak salah bila tidak mengakui Alquran sebagai kitab
suci. Bila kita telusuri sejarah masuknya Islam Tua di Sangihe, bisa dikatakan
inilah ajaran Islam yang benar-benar murni lahir dari proses dagang, antara
masyarakat Sangihe dengan pedagang dari Islam Mindanao dan dari kerajaan islam Ternate/Tidore
di di abad ke 14. Proses asimilasi yang tidak tuntas, karena kerajaan-kerajaan Islam
itu keburu ditaklukan Portugis, dan selanjutnya sebagian besar penduduk Sangihe
memeluk agama Kristen.
Mereka
memahami Islam tanpa ada yang menuntun, tanpa pernah bertemu padagang arab yang
fasih membaca alquran, tanpa ada Tuan Guru dan Ulama yang secara khusus
mengajarkan mereka tentang Islam. seperti proses awal keberadaan Islam di Jawa
yang memunculkan Sunan Giri dan Wali lainnya.
Islam
Tua tidak mengenal Ulama atau Ustdaz, mereka hanya punya Imam, yang mereka
pilih diantara mereka. Pemilihan Imam-pun tidak diukur dari pemahaman agamanya
dan kemampuan bahasa arabnya. Mereka hanya mengunakan ukuran sederhana, tidak
pernah berbuat jahat dan selalu berbuat baik untuk kehidupan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar