Senin, 02 Mei 2016

Andai Karl Marx Bangkit Dari Kuburnya





Inti sari dari Das kapital jilid satu sampai tiga karya Karl Marx, Mbah Komunisme dunia, yaitu: Kapital, Modal atau apapun istilah lainnya adalah sumber malapetaka, sumber penghisapan manusia. Dan negara ada untuk melayani kepentingan Modal.

Masih menurut Marx dalam manifesto Komunis: Tidak ada jalan lain untuk menghentikan sumber penghisapan itu kecuali mengalahkan dan menghancurkannya; Pokoknya, sekali lagi pokoknya lawan itu Kapitalis!

Dalam perjalanannya, seruan itu telah melahirkan banyak varian gerakan. Mulai dari kiri benaran, kiri tengah, kiri-pinggiran, kiri kekini-kinian, sampai kiri-kanan ok. Hahaha..jadi teringat Rudi, teman yang mantan kiri, yang saban hari melototi fluktuasi harga saham.

Sadar atau tidak, seruan Karl Marx itulah yang kerap kita pakai untuk menghitam-putihkan sebuah peristiwa ekonomi-politik yang terjadi. Pendekatan kelas dan analisis struktural ini digunakan kalangan NGO atau gerakan sosial lainnya.

Saya tidak alergi dengan pilihan teori dan idiologi yang dianut, atau tidak ingin terlibat menghalangi-halangi seperti yang dilakukan FPI atau lainnya. Saya hanya merasa aneh saja kok hari gini masih merasa paling benar.

Menganggap mereka yang mendukung reklamasi pantai sebagai kelompok anti kemanusiaan. Menganggap relokasi warga dari lokasi kumuh sebagai pelanggaran HAM. Menuduh pembangunan Jakarta hanya untuk orang kaya.

Saking asyiknya menuduh sana-sini, akhinya kita lupa ukuran “kemanusiaan” itu seperti apa? Apakah membiarkan orang tiduran di bantaran sungai yang kumuh dan atau membiarkan nelayan dengan perahu tradisional tanpa ikan itu bagian penghormatan pada nilai kemanusiaan? Konyol Memang.

Bila kita menganjurkan nelayan dikuatin teknologinya. Ehh..di ujung meja sana sudah ada yang berteriak: “Jangan ajarkan alat produksi terbaru nanti merusak kearifan lokal.” Halaa, yang berteriak itu, sementara mengunakan alat produksi terbaru, macbook, tanpa pernah diteriaki akan merusak kearifan mesin ketik.

Mereka lupa bahwa Manusia hidup itu untuk mempertahankan hidup. Kata “mempertahankan hidup” itu manusia bekerja dan ia berproduksi. Setahuku, ini ada di Das kapital dasar jilid I.

Dari relasi produksi menghasikan pergerakan modal, dari gerak modal ini lahirlah peradaban manusia, seperti saat ini. Kita tidak mungkin menghentikan arus modal karena kalau dihentikan maka dinamika kehidupan itu berakhir. Sama saja menyuruh Tuhan mengiamatkan dunia.

Karena teori dasar itu, maka tidak ada yang aneh bila Pemodal, siapapun dia, tidak salah dalam mereklamasi pantai Jakarta atau pantai lainnya. Lagian juga terbuka lapangan kerja.

Pernahkah kita berhitung, berapa puluh ribu tenaga kerja yang dibutuhkan ketika pantai itu direklamasi. Pernahkah kita berpikir kalau lapangan kerja terbuka juga akan mengurangi kejahatan. Siapa yang akan diuntungkan bila kejahatan berkurang? Pastinya Anda-anda toh.

Tapi masih pada ngeyel jawabannya. Katanya, semuanya hanya menguntungkan pemodal. Lah, iyalah itu sudah pasti. Mana ada pengusaha di dunia yang tidak cari untung. Nabi Muhammad saja, sudah utusan Tuhan pun, tetap cari untung ketika berusaha.  Dodol banget sih.

Ada juga yang berteriak, reklamasi itu merusak ekosistem, merusak mata rantai kehidupan laut. Hoii..sadarlah, tanpa ada reklamasi, ekosistem laut sudah rusak, karena perilaku hidup kita membuat sampah serampangan. Kerusakan itu tidak melulu karena keberadaan pemodal.

Melihat wajah baik dari Kapitalisme itu penting. Karena hanya dengan cara itupun kita akan selalu berpikir positif tanpa menghilangkan kekritisan. Toh, mengagumi “karya monumental” dari para pemodal itu tidak akan mengurangi kadar anda sebagai aktivis.

Oh iya, tadi siang saya membaca salah satu media online nasional, yang menginformasikan bahwa warga yang digusur dari kawasan penjaringan, Jakarta Utara, telah hidup nyaman di Rumah susun. Nah, apakah kita masih akan menuduh Ahok hanya berpihak pada pemodal?

Juga pastinya, biaya untuk membangun Rumah susun, memperbaiki taman kota, yang sering kita datangi untuk bersantai, biaya memperbaiki bantaran sungai agar rumahmu tidak banjir, itu uangnya dari hasil pajak. Sudah pasti pembayar pajak tertinggi itu adalah pengusaha yang kalian lawan. Silahkan cek di kantor pajak.

Coba anda bayangkan, bila reklamasi pantai utara Jakarta itu jalan—tanpa mengabaikan analisis amdalnya—begitu banyak dana yang di dapatkan pemeritah DKI dari para pengembang itu. Pastinya, dana subsidi silang itu akan banyak membuat rakyat Jakarta sejahtera.

Bila dana 15% kontribusi dari reklamasi itu tidak digunakan Ahok, untuk membangun Kota Jakarta. Misalnya, ia gunakan untuk diri sendiri, barulah kita beramai-ramai menonjok Ahok.

Sesekali semuanya harus duduk santai—jangan lupa pesan kopi—melihat  kembali ajaran Marxis itu. Jangan-jangan ada yang salah dari ajaran Karl Marx. Bisa jadi, ia telah salah menulis Das Kapital. Lagian juga ia menulis Das Kapital di jaman Kapitalis primitif.

Saya meyakini, andaikan Marx bangkit dan hidup lagi, dia akan terkagum-kagum melihat sisi manusiawi dari kapitalisme. Ia akan membeli iphone 6 plus dan menulis pesan kepada anda semua: “Mulai Hari ini Das Kapital itu akan saya revisi, dan Kapitalis itu saudara bukan lawan”.







Kamis, 07 April 2016

Saya Masih Pilih Islam Tua


“ana (saya, red) masih Islam tua, biar semua bilang itu agama aneh. Tapi, itu agama dari kita pe orang tua, cuma itu titipan terakhir sebelum meninggal” ujar Fredy, teman lama dari Sangihe. Saat kemarin sore, menyeruput kopi dengannya di Bakoel koffie, Cikini-Jakarta.

Jawaban santai Fredy, itu muncul saat kami ‘terjebak’ diskusi tanpa ujung, berdiskusi tentang kondisi sosial-politik Sangihe dan juga mendiskusikan tentang perkembangan Islam Tua di Kabupaten Sangihe-Sulawesi Utara, Kabupaten yang dekat dengan Philipina Selatan.

Saat saya di Sangihe Tahun 2001, di Kampung Kendahe tabukan Utara, saya bertemu dan berteman dengan Fredy. Ia dan beberapa keluarganya menganut agama Islam Tua, juga beberapa kali saya mengikuti ibadah mereka. Saat itu, penganut Islam Tua berjumlah kurang-lebih 3000 jiwa.

Setiap kali saya menyebut dan menulis keyakinan Fredy dan komunitasnya, saya harus memastikan dua kata muncul bersamaan : “Islam” dan “Tua”. Kenapa? Selain untuk memastikan Fredy dkk tidak tersinggung, juga nama itu mempunyai nilai tersendiri bagi mereka.

Kata “Islam” karena mereka meyakini Tuhan itu satu dan Muhammad itu rasul Allah. Sementara “Tua” adalah kata pembeda dengan Islam mainstream. “Tua” juga mempunyai makna identitas sejarah, sebagai warga asli sangihe bukan pendatang dan juga mempertegas sebagai agama tertua di Sangihe.

Ya, mereka beda dengan tata-cara Ibadah Islam pada Umumnya. Rumah ibadah mereka tidak seperti Mesjid yang ada kubah dan menaranya, rumah Ibadah Islam Tua lebih menyerupai gereja yang ada loncengnya.

Bila di mesjid setiap jam shalat ada adzan untuk memanggil shalat , mereka hanya memukul lonceng dan selanjutnya Fredy dan kawan-kawan datang untuk menjalankan shalat. Ketika shalat, Laki-lakinya ada juga memakai sarung sementara perempuannya mengunakan Jilbab.

Tata cara Ibadah penganut Islam Tua lebih sederhana, pengikut islam tua berdiri dan duduk membentuk lingkaran, sembari melafalkan doa-doa yang mengunakan bahasa etnis Sangihe, dan sesekali terdengar lafal bismillah dan takbir Allahu akbar. 

Khutbah Ramadhan atau  Jummat mereka jauh lebih menarik dan partisipatif. Dipimpin Imam, mereka berdiskusi tentang perbuatan baik, situasi kampung, hasil pertanian, dan juga perkembangan komunitas mereka. Tanpa harus ada yang sengaja berdiri di depan untuk menceramahi mereka tentang hidup di dunia dan di akhirat kelak.

Bulan puasa mereka juga puasa, tapi mereka tetap makan siang. “yang Puasa itu Batin dan pikiran, pikiran itu harus jernih. Makanya di bulan puasa, kami lebih banyak berdiam diri di rumah untuk mengurangi godaan duniawi.” Ujar Imam Islam tua di kampung Kendahe saat itu. Di Bulan Puasa mereka juga bayar zakat. 

Di akhir bulan puasa pengikut islam tua membawah telur dan hasil pertanian mereka, sebagai tanda pembayaran zakat. Selanjutnya, zakat yang terkumpul dibagikan kepada siapapun yang membutuhkan tanpa melihat agamanya. Bila Idul Fitri datang, juga sama dengan Islam pada umumnya, ibadah pagi dan dilanjutkan dengan saling salaman serta berkunjung ke rumah kerabat mereka.

Jika anda berkeinginan masuk Islam Tua pun, prosesinya begitu sederhana, cukup hanya di sunnat oleh Imam besar Islam Tua. Bila anda penganut baru Islam Tua, pastinya tidak akan di ‘cap’ sebagai mualaf dan tidak akan ada pernah menuntun mendalami ritual islam tua.

Bagi Islam Tua, yang membedakan pemeluk baru dan lama hanya pada perbuatannya. Makin tidak tercelah perbuatan yang dilakukan orang itu, maka makin dianggap pengikut lama dan setia pada ajaran Islam tua itu. Keren kan..?? Pemahaman ini mengingatkan saya pada pelajaran tentang awal-awal Muhammad menyiarkan Islam. Sepengatahuanku, Nabi Muhammad tidak pernah membedakan pengikutnya dari sisi lamanya memeluk Islam.

Bagi mereka yang senang menyesatkan keyakinan orang. Maka pastinya penganut Islam Tua ini akan dituduh ajaran sesat, kafir dan menghina Islam. Ya, tuduhan-tuduhan itu sudah lama mereka dapatkan, hanya tekanan ke penganut Islam Tua tidak sebesar Ahmadiyah yang harus di kejar-kejar hanya karena keyakinanya.

Untuk menghindari konflik dan tuduhan kafir atau ajaran sesat. Negara beberapa kali mengganti nama agama Islam Tua, seperti Islam Handung, Islam Masade tapi ditolak oleh pengikut islam tua. Usaha ini berhasil di tahun 1984, ketika agama islam tua resmi dimasukan menjadi Himpunan Penghayat Kepercayaan Masade. Nama Masade, diambil dari nama orang yang pertama menyebarkan ajaran ini. Meski dalam kesehariannya, pengikut Islam Tua, lebih senang dan bangga mengakui dirinya sebagai Islam Tua.

Islam Tua dituduh kafir, selain karena tata-cara shalatnya beda dengan islam mainstream, mereka tidak percayai Alquran sebagai Kitab Suci. Menurut Fredy, alasan mereka tidak percayai Alquran karena pendahulu mereka tidak memiliki Alquran dalam bentuk tertulis, seperti alquran saat ini yang sudah berbentuk buku. Mereka hanya di ajarkan agama secara lisan, turun-temurun, dan tanpa teks tertulis atau buku sebagai rujukan.

Dan bagi saya, Islam Tua Tidak salah bila tidak mengakui Alquran sebagai kitab suci. Bila kita telusuri sejarah masuknya Islam Tua di Sangihe, bisa dikatakan inilah ajaran Islam yang benar-benar murni lahir dari proses dagang, antara masyarakat Sangihe dengan pedagang dari Islam Mindanao dan dari kerajaan islam Ternate/Tidore di di abad ke 14. Proses asimilasi yang tidak tuntas, karena kerajaan-kerajaan Islam itu keburu ditaklukan Portugis, dan selanjutnya sebagian besar penduduk Sangihe memeluk agama Kristen.

Mereka memahami Islam tanpa ada yang menuntun, tanpa pernah bertemu padagang arab yang fasih membaca alquran, tanpa ada Tuan Guru dan Ulama yang secara khusus mengajarkan mereka tentang Islam. seperti proses awal keberadaan Islam di Jawa yang memunculkan Sunan Giri dan Wali lainnya.

Islam Tua tidak mengenal Ulama atau Ustdaz, mereka hanya punya Imam, yang mereka pilih diantara mereka. Pemilihan Imam-pun tidak diukur dari pemahaman agamanya dan kemampuan bahasa arabnya. Mereka hanya mengunakan ukuran sederhana, tidak pernah berbuat jahat dan selalu berbuat baik untuk kehidupan.


Rabu, 23 Maret 2016

Saya Pilih Jasa Angkutan Berbasis Aplikasi



Jakarta lagi ramai dgn masalah jasa angkutan berbasis aplikasi. Apa untung dan ruginya?. Tentu pertanyaan itu yang bisa jawab adalah kita-kita sebagai konsumen.

Kemarin saya coba mengunakan aplikasi online ini. Saya coba manfaatkan aplikasi Go-jek, melalui aplikasi ini saya pesan makanan. Wah, kereen... hanya dalam waktu 10 menit, menu makanan yang dipesan telah tiba dan siap disantap. Malamnya, saya coba gunakan aplikasi Grab untuk pesan taksi. Sama dengan Go-Jek, hanya butuh 5 menit taksi yang dipesan telah ada dan siap mengantar ke tempat tujuan. Point yang saya dapatkan dari dua aplikasi ini adalah cepat, murah dan tidak ribet.

Logika saya sederhana saja, bila ada yang lebih gampang dan sesuai keinginan, kenapa harus memikirkan yang rumit?. Mungkin pikiran itu bisa mewakili sebagian besar konsumen di Jakarta, sejak kehadiran jasa online sebagian kerumitan hidup bisa terlewati.

So.. seharusnya jasa angkutan yang masih manual selayaknya untuk berubah. Produk yang ditawarkan selayaknya mengikuti logika pasar (Konsumen) karena hanya cara itu bisa bertahan. Sangat aneh, ketika yg lain sudah berubah, jasa angkutan manual masih berlindung di ketiak negara. Negara juga tidak akan mampu bertahan dalam logikanya sendiri, ia mau tidak mau mengikuti kehendak konsumen.

Mungkin yang berteriak untuk membubarkan atau mengevaluasi kehadiran jasa angkutan aplikasi online, lagi berusaha menolak kehendak peradaban, berusaha menuntut kembali ke jaman Nabi Nuh, bergerak setelah penumpang kapal penuh.

Saya ngak peduli berbagai urusan tetek-bengek seperti: belum ada ijin, tidak gabung organda, mematikan usaha lain, dan bla..bla. Itu bukan wilayah saya. Dalam urusan ini, saya berpikir sederhana saja: Cepat, tepat, sesuai kemampuan, aman, dan aman. Mungkin Itulah yang harus dipenuhi oleh siapapun yg bergerak di bisnis jasa seperti ini. Selamat Bersaing.!