Kamis, 16 Juli 2015

Shalat Idul Fitri di Mesjid Jami Di Ponegoro

Untuk pertama kalinya, saya shalat Idul fitri di Mesjid Jami Di Ponegoro, Airmandidi, Minahasa utara. Sekitar Jam 6.20 pagi, jama'ah mulai memadati mesjid yang lokasinya berdekatan Universitas Klabat.

Dilihat dari nama mesjidnya, mungkin punya keterkaitan dengan pangeran Di Ponegoro yang ditawan Belanda dan dibuang di Manado pada bulan Mei, tahun 1830
Add caption
Mesjid Jami yang mungkin terasa leluasa di hari biasa. Namun, hari ini tidak mampu menampung jama'ah yang jumlahnya cukup banyak. Akhirnya, jama'ah berdesakan dan yang tidak dapat tempat duduk harus rela berdiri menunggu waktu shalat.

Meski berdesak-desakan, tapi proses pelaksanaan sembayang id berjalan dengan normal
Jama'ah Sedang Mendengarkan Khutbah Idul Fitri
Seusai shalat, satu persatu jama'ah mulai meninggalkan mesjid sembari bersalam-salaman, bermohon maaf satu sama lain. Dan dari mesjid Jami Di Ponegoro, saya mengucapkan Selamat Idul Fitri, Mohon maaf lahir dan batin. 
+++++++++

Jumat, 03 April 2015

Perppu Pilkada dan Suksesi Pemimpin Sulut

Setelah terkatung-katung kurang lebih dari 3 bulan, nasib Perppu Pilkada langsung nampaknya mulai menemukan titik terang. Dari kalkulasi diatas kertas bisa dikatakan pendukung Perppu akan menang telak. Sampai saat ini yang menyatakan akan mendukung Perppu Pilkada yakni Partai yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Hebat (PDIP, Nasdem, PKB, Hanura, ) Partai Demokrat dan PAN. Dengan komposisi dukungan seperti ini, bila voting terjadi pendukung Perppu Pilkada langsung dipastikan akan menang .

Bisa jadi juga, Perppu Pikada diterima secara aklamasi oleh semua fraksi di DPR. Dengan hitungan semua Partai yang tergabung dalam KMP (Golkar, Gerindra, PKS, PAN dan PPP) menerima Perppu sebagaimana komitmen dengan SBY menjelang pemilihan ketua DPR-RI. Kemungkinan kearah itu cukup kuat, bila melihat hasil pertemuan SBY, Ical, Prabowo, Hatta dan ketua PKS. Singkatnya hasil pertemuan itu, menegaskan kembali komitmen yang telah disepakati untuk mendukung Perppu Pilkada langsung.

Kembalinya elite politik mendukung Perppu Pilkada langsung, juga tak lepas kuatnya tekanan publik menolak Pemilihan melalui DPRD. Seperti yang terlihat dari hasil survey Lembaga Survey Indonesia (LSI) pada bulan Oktober-November 2014. Dimana 84,1 persen menginginkan Pilkada langsung, 5,8 persen yang setuju Pilkada melalui DPRD, 6,8 persen menyatakan tidak masalah dengan kedua sistim itu, dan sisanya (3,3 persen) menyatakan tidak tahu.

Melihat peluang besar Perppu akan diterima DPR dalam masa sidang pertama setelah reses di bulan januari 2015. Lembaga penyelengggara Pemilu (KPU dan Banwaslu) bergerak cepat membuat renstra pelaksanaan Pilkada langsung, karena menurut amanat Perppu, kepala daerah yang habis masa jabatannya ditahun 2015, melakukan Pilkada secara serentak ditahun yang sama. Dari Raker tersebut disepakati pelaksanaan pemilukada serentak akan dilakukan pada pertengahan bulan Desember tahun 2015.

Persiapan menyambut perhelatan Pilkada langsung tahun 2015, sudah pada tahap final, ini juga sekaligus bisa dikatakan kemenangan demokrasi (daulat rakyat) yang nyaris menemui “kematian dini” bisa terselamatkan melalui Perppu yang dikeluarkan SBY diujung pengabdiannya. Pilkada Langsung bukan hanya sekedar penghormatan partisipasi rakyat, tapi lebih dari itu juga sebagai ruang seleksi kepimpinan, rakyat sendiri yang menilai siapa yang berhak menjadi pemimpin.

Mencari dan Menanti Pemimpin Baru
Sulawesi utara, merupakan salah satu dari 7 provinsi yang akan menyelenggarakan Pilkada langsung ditahun 2015. Menarik untuk dicermati siapa yang berhak menggantikan SHS yang sudah dua periode menjadi Gubernur.

Dari informasi yang berkembang, dan beberapa diantaranya telah terkonfirmasi akan maju dalam suskesi Gubernur Sulut, yaitu; Olly Dondokambey, Vreeke Runtu, Benny Mamoto, Willem Rampangiley, Vanda Sarundajang, Djouhary Kansil, Hanny Sondakh, Edwin Kawilarang, Wenny Warouw dan Maya Rumantir. Sementara Vecky Lumentut, sampai tulisan ini dibuat masih belum menentukan sikapnya, masih galau, antara bertarung di Pilgub atau Pilwako Kota Manado.

Tak kalah serunya dengan perebutan Kursi Gubernur, di Kota Manado yang juga akan melaksanakan Pilkada bersamaan dengan pelaksanaan Pilgub, juga mulai bermunculan calon-calon kuat yang siap bertarung memperebutkan kursi Walikota, diantaranya; Vecky Lumentut, Harley Mangindaan, Jemmy Asiku, Hanny Joost Pajouw, Tedy Kumaat, Andrei Angouw, Audy C Lieke, dan Jackson Kumaat.

Selain itu, menarik juga untuk disimak pertarungan Vecky Lumentut dan Harley Mangindaan dalam memperebutkan rekom Partai Demokrat. Keduanya adalah kader Demokrat yang mempunyai peluang yang sama mengunakan Partai Demokrat dalam Pilwako Kota Manado. Kenapa saya katakan keduanya mempunyai peluang yang sama?. Meski Vecky Lumentut saat ini sebagai ketua DPD Partai Demokrat, namun ia tidak otomatis akan bisa mengunakan Partai Demokrat.

Menurut kelaziman dan juga pengalaman lembaga kami, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), juga sudah menjadi komitmen dilingkaran DPP juga SBY, siapapun yang akan diusung PD dalam Pilkada akan selalu berangkat dari hasil Survey, dari survey setidaknya akan terlihat siapa yang berpotensi memenangkan Pemilukada. Cara ini pula juga tidak menutup kemungkinan munculnya tokoh-tokoh lain diluar dari kedua kader PD tersebut.

Bukan hanya Partai Demokrat yang akan mengunakan data Survey sebagai basis dasar untuk mengusung calon dalam pemilukada, tapi juga akan digunakan Partai Golkar, PDIP, dan partai lainnya. Karena bagaimanapun partai-partai besar yang akan bertarung dalam Pilwako dan Pilgub akan menghadirkan tokoh-tokoh terbaiknya dan yang paling utama bisa diterima publik.

Meski banyak tokoh yang menyatakan kesediaanya akan maju dalam Pilgub, namun melihat hasil pemilihan legislative tahun 2014, nampaknya pemilihan Gubernur Sulut, paling maksimal akan di ikuti 5 Calon Kepala daerah. Sementara Partai yang berpotensi mengusung calon yakni PDIP, Golkar, Demokrat, dan Gerindra.

Partai lainnya seperti PAN, Hanura, Nasdem, dan PKPI kemungkinan akan membangun atau ikut berkoalisi dengan partai yang saya sebutkan diatas. Sementara kemungkinan terjadinya koalisi partai dalam dua blok koalisi besar, yang tergabung dalam koalisi Merah Putih (KMP) dan koalisi Indonesia hebat (KIH) nampaknya akan sulit terwujud dalam pemilukada Sulut.

Dari beberapa ruang dan tempat diskusi, berkembang analisis yang menyatakan bahwa bila Olly Dondokambey bersedia maju dalam Pilgub, maka konon katanya ia akan memenangkan Pilkada Sulut. Analisis ini berangkat dari pemetaaan kemenangan PDIP dalam Pileg, Pilpres, dan beberapa wilayah Kabupaten dalam kendali PDIP.

Namun hal yang ingin ditegaskan dalam tulisan ini, yakni Pilkada beda dengan Pileg dan Pilpres. Dan bukanlah jaminan bila Partai politik dominan di wilayah itu, dengan otomatis kader yang akan diusung akan memenangkan Pilkada.

Dalam banyak pengalaman, ada banyak alasan pemilih menjatuhkan pilihan. Seperti faktor Sosiologis (etnis, suku, agama, aliran, dan asal-usul klas sosial lainnya). Juga faktor psikologi seperti partai Id, , figur, kharisma, dan karakteristik tokoh menurut persepsi pemilih. Selain dua hal itu, juga akan dipengaruhi faktor pendekatan rasional (rational choice) yaitu pemilih dalam menentukan pilihan berdasarkan informasi yang diterima, tentang apa dan siapa kandidat tersebut, ada keingintahuan pemilih untuk mengetahui siapa calon yang diusung, apakah sesuai atau tidak, apakah isu-isu kampanye yang diusung bisa merubah keadaan kearah yang lebih baik atau sebaliknya.

Dalam memahami perilaku pemilih, kita tidak mungkin hanya mengandalkan satu faktor tertentu saja, bisa dikatakan tidak ada faktor yang betul-betul seratus persen menjelaskan sebuah gejala dan perilaku politik. Dalam pemilukada, bahwa mesin politik (partai politik), kalaupun punya pengaruh penting tapi tidak cukup kuat untuk mendorong orang dalam menentukan pilihannya, kalau juga tidak ditunjang faktor-faktor lainnya, termasuk karakter dan figur calon dan yang akan diusung.

Dari penjelasan tersebut, bisa dinyatakan siapapun yang akan bertarung dalam Pemilukada Sulut dan Kota Manado, mempunyai peluang yang sama untuk menjadi pemenang. Guna meraih kemenangan, maka penting kandidat meramu strategi pemenangan yang tepat, membentuk tim yang solid, pengunaan media massa yang tepat, dan yang bagaimana strategi kampanye disusun dapat menjembatani harapan pemilih dan visi-misi sang calon.

Untuk mendukung efektivitas strategi kampanye, dalam strategi pemenangan modern selayaknya kandidat yang akan bertarung melakukan studi demografi dan survey persepsi publik. Dengan data-data yang valid tentang kondisi sosial-politik, harapan pemilih, mesin kampanye, media massa, dan bentuk kampanye yang efektif akan memudahkan para kandidat dalam meramu strategi pemenangan.

Dengan Survey, strategi pemenangan yang disusun berangkat dari realitas sesungguhnya, bukan berasal dari asumsi-asumsi dan penerawangan. Karena pada dasarnya Pilkada adalah proses demokrasi yang dapat diukur, dikalkulasi dan diprediksi dalam proses dan hasilnya secara ilmiah.

Pada akhirnya siapapun yang akan bertarung dalam Pemilukada Sulut dan Kota Manado, adalah tokoh-tokoh terbaik yang dimiliki Sulawesi Utara dan tentunya punya keinginan untuk meneruskan apa yang telah ditorehkan SHS selama 10 tahun terakhir. Dan pastinya, dalam beberapa bulan kedepan, kita akan disajikan berbagai ragam sosialisasi dan bentuk kampanye yang dilakukan oleh para kandidat calon Gubernur.

++++++++++++
Catatan : Dimuat di Manado Post, 5 Januari 2015