Ada hal yang menarik manakalah saya dan teman-teman menyusuri Pulau dewata, sepanjang jalan utama di pulau dewata, kami disugukan Baliho dan atribut partai yang hampir semuanya didominasi warna merah, warna yang selalu di identikkan dengan partai pimpinan Ibu Megawati, PDIP.
Aneh, seolah-olah diBali hanya pertarungan sesama kandidat PDIP, padahal menurut informasi resmi di KPU Bali, pilkada tanggal 15 Mei 2013 merupakan pertarungan Mangku Pastika yang didukung partai besar seperti Golkar, Gerindra dan Demokrat lawan Puspoyoga yang didukung PDIP. Kemana warna kuning, lambang kepala Garuda, dan warna Biru yang selalu nampak gagah berdiri di setiap pilkada lainnya di Indonesia..?. Sebegitu kuatnyakah PDIP sehingga warna partai lain enggan dan malu untuk memunculkan atributnya.?
Bila ditelisik lebih jauh, upaya “menyembunyikan” atribut partai yang mendukung Mangku Pastika bukan karena ketidak pedean dan atau ketidakmampuan membeli atribut partai, tapi ini sebuah strategi politik untuk mengaburkan fakta bahwa Mangku Pastika tidak lagi mengunakan PDIP seperti 5 tahun sebelumnya. Sebuah asumsi yang dibangun masyarakat Bali bisa termanifulasi dalam menentukan pilihan pada hari H nanti. Untuk mendukung pengaburan fakta itu hampir semua Baliho Mangku Pastika berlatar belakang merah dan bahkan menurut informasi kawan saya di Bali, Surat suara Mangku Pastika ikutan berwarna merah. Akhirnya saya hanya bisa tersenyum-senyum mendengar penjelasan kawan saya.
Usaha untuk mengaburkan fakta Mangku Pastika bukan calon PDIP, bangunan rasionalisasinya sangat lemah. Ada hal yang terlupakan Tim dan thing-thank sang petahana, bahwa melek politik masyarakat bali sangat tinggi hal ini karena tingkat pendidikan masyarakatnya relatif tinggi. Menurut data statistik pemilih bali yang lulusan SMA 30 persen dan lulusan perguruan tinggi 13 persen. Dari data ini saja, sudah menunjukkan strategi “pengaburan fakta” adalah sebuah kesia-siaan. Cepat atau lambat masyarakat bali yang nota bene pendukung fanatik PDIP akan tahu, hanya persoalan waktu saja.
Nampaknya, sang petahana mengalami dilema yang sangat akut dalam mengimbangi pergerakan kader-kader PDIP. Apalagi melihat kekuatan PDIP di Bali yang hampir menguasai seluruh wilayah Kabupaten/kota, 7 dari 9 kabupaten/kota bupatinya dari PDIP dan semua ketua DPRD kabupaten/kota diseluru wilayah dkendalikan PDIP.
Kekuatan PDIP di Bali, juga tidak bisa dipisahkan dari ketokohan Soekarno, Proklamator sekaligus pendiri PNI. Dan dalam sejarahnya Bali merupakan tulang-punggung atau basis utama PNI selain di jawa tengah, maka tak heran bila pemilu pertama 1955, PNI menang mutlak di pulau Bali. Histori dan kejayaan PNI kini diwarisi PDIP, yang terakumulasi menjadi kekuatan yang hegemonik di pulau dewata.
“Bertanding dikandang Banteng, harus berpura-pura jadi Banteng” nampaknya adalah usaha ditengah keterputus-asaan. Apalagi bila mendengar kasak-kusuk Mangku Pastika selama menjadi gubernur bali, semisal perlawanan beberapa NGO sebut saja Walhi yang menganggap kepimpinan Mangku Pastika gagal melestarikan lingkungan, padahal warga Bali sangat mendahulukan kelestarian lingkungan. Hal seperti ini juga akan menjadi batu sandungan sang petahana
Catatan dari Warung Mak Benk yang sangat Marhaenis.
Sanur, 13 April 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar