Mencari Wikana
Mencari Wikana (1)
Sepakterjang Pemuda dari Sumedang
(disadur dari Majalah Historia.com)
Dia berperan penting pada hari-hari buncit menjelang proklamasi. Hidupnya berakhir tragis.
PADA lokasi bekas rumah bersejarah di jalan Pegangsaan Timur No. 56 berdiri sebatang tiang menjulang tinggi dengan simbol petir di pucuknya. Sederet kalimat tertera pada dasar tiang itu: “Disinilah Dibatjakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada Tanggal 17 Agustus 1945 djam 10.00 pagi oleh Bung Karno dan Bung Hatta.”
Enam puluh lima tahun lalu, sesosok pemuda kurus berambut klimis berkacamata minus mendatangi rumah bersejarah yang dulu masih berdiri tegak. Wikana, pemuda itu, ditemani pemuda lain, Aidit, kelak menjadi orang nomor satu Partai Komunis Indonesia (PKI), Darwis, Yusuf Kunto dan Soebadio Sastrosatomo. Kepada Bung Karno Wikana meyakinkan kalau kemerdekaan harus segera diumumkan malam ini juga, kalau tidak “besok akan terjadi pertumpahan darah,” kata Wikana setengah mengancam. Bung Karno tersinggung. Dia membentak balik Wikana seraya menantang menyembelih lehernya malam itu juga, “Ini leher saya, seretlah saya ke pojok itu, sudahilah nyawa saya malam ini juga. Jangan menunggu sampai besok pagi!”
Cuplikan adegan itulah yang melambungkan nama Wikana sebagai pemuda revolusioner dan banyak dikutip di dalam kitab-kitab sejarah. Selebihnya, samar-samar. Padahal ada banyak peran penting lain yang dimainkannya. Dia pernah aktif dalam berbagai organisasi kepemudaan, mulai Angkatan Pemuda Indonesia (API) sampai Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo). Setahun setelah proklamasi, dia juga tercatat pernah menjadi Menteri Negara Urusan Pemuda selama empat kali periode kabinet, dua kali dalam kabinet Sjahrir dan dua kali pada kabinet Amir Sjarifuddin.
Wikana terlahir dari keluarga menak Sumedang. Ayahnya, Raden Haji Soelaiman, pendatang dari Demak, Jawa Tengah. Kendati menak merupakan golongan yang mendapatkan previlese semasa penjajahan, tidak demikian halnya dengan keluarga Wikana. “Dia datang dari keluarga perjuangan, kakaknya, Winanta seorang Digulis,” kata Soemarsono, tokoh pemuda angkatan ’45 yang ditemui pekan lalu (12/8) oleh Majalah Historia Online di kediaman putrinya di Bintaro, Jakarta Selatan.
Boleh dibilang Wikana punya otak encer. Sebagai anak priayi, dia punya hak untuk mengenyam pendidikan. Tapi untuk masuk ELS (Europeesch Lagere School), sekolah dasar yang menggunakan bahasa Belanda sebagai pengantar, tidak cukup bermodal anak raden saja. Kemampuan bahasa Belanda dan kepintaran si anak menjadi standar utama. Wikana kecil memenuhi syarat itu dan berhasil lulus dari ELS. Lepas dari ELS Wikana melanjutkan sekolah ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Semasa muda itulah Wikana sempat menjadi salah satu dari sekian pemuda satelit Bung Karno di Bandung.
Selain menguasai bahasa Belanda, Wikana juga pandai bercasciscus bahasa Inggris, Jerman, Prancis dan Rusia. Tati Sawitri Apramata, putri ketiga Wikana, mengenang ayahnya sebagai kutu buku yang pandai berbahasa asing. “Bapak bisa banyak bahasa, hobinya baca buku. Pulang dari sidang, selalu bawa buku, dari mana-mana selalu buku yang dibawa,” kenang perempuan berusia 61 tahun yang kini tinggal di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur itu. Sidang yang dimaksud Tati adalah sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), di mana ayahnya menjadi anggota.
Sosok Wikana yang cerdas dan tajam diamini oleh Soemarsono. Menurut lelaki yang pernah satu kos dengan Achmad Azhari, kawan sekerja Wikana, pemuda dari Sumedang itu dikenal sebagai orang yang tak banyak bicara, cerdas, dan tajam. Kepada Wikana pula Soemarsono sempat berguru soal teori-teori dalam dunia politik. “Dia yang mengajari saya tentang terminologi dan istilah-istilah dalam politik,” kata Soemarsono yang telah mengenal Wikana sebelum Jepang menduduki Indonesia pada 1942. Bukan saja Soemarsono, Aidit dan MH Lukman termasuk anak muda yang mengagumi pemimpin PKI Jawa Barat itu.
Dua tahun sebelum Jepang mendarat di Indonesia, Wikana, bersama dengan Adam Malik dan Pandu Kartawiguna sempat masuk kerangkeng atas tuduhan subversif terhadap pemerintah kolonial. Dia menyebarkan pamflet Menara Merah yang punya kaitan dengan PKI bawah tanah. PKI sendiri telah dilarang oleh pemerintah kolonial pascapemberontakan 1926.
Trikoyo Ramidjo, salah satu anggota PKI yang sempat terlibat dalam upaya pembangunan kembali partai setelah Madiun affairs, mengatakan kalau Wikana memang anggota PKI bawah tanah. “Dia jadi anggota partai sejak tahun 1930-an, cita-citanya jelas sekali untuk kemerdekaan Indonesia,” ujar pria yang pernah melewati masa kecilnya di Boven Digul, Papua mengikuti ayahnya sebagai tahanan politik kolonial.
Tak hanya sebagai anggota PKI bawah tanah, Wikana juga tercatat pernah aktif sebagai anggota Partai Indonesia (Partindo) yang didirkan oleh Mr Sartono pada 1931 pascapenangkapan Bung Karno. Pada 1938 ketika Barisan Pemuda Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) didirikan, dia terpilih sebagai ketuanya yang pertama. Keyakinannya yang anti-kolonialisme mendorong Wikana aktif mengikuti berbagai organisasi politik yang melawan Belanda secara frontal.
Semasa zaman kolonial, Wikana menjadi pemimpin PKI bawah tanah di Jawa Barat. Ia juga berkawan dekat dengan Widarta tokoh PKI bawah tanah yang bertanggungjawab di wilayah Jakarta. Widartalah yang merekrut Aidit dan MH Lukman masuk PKI namun ironisnya harus mati karena keputusan internal partainya sendiri. Sohib Wikana itu diadili in absentia oleh Amir Sjarifuddin gara-gara menjalankankan kebijakan yang dianggap tak sejalan dengan garis partai pada peristiwa Tiga Daerah di wilayah karesidenan Pekalongan. Sebuah eksekusi di Pantai Parangtritis meringkus nyawanya.
Berbeda dengan Widarta yang meregang nyawa di ujung bedil, karier Wikana jalan terus. Dia menjadi tokoh pemuda dari sekian banyak pemuda yang bergerak di pusaran arus revolusi. Ketokohan Wikana mendapatkan pengakuan dan karena itulah dia dipercaya oleh Perdana Menteri Sjahrir untuk duduk sebagai menteri negara urusan pemuda dalam kabinet Sjahrir kedua dan ketiga. Tak jelas capaian apa yang dia buat semasa memegang jabatan itu.
Tapi jalan terang hidup Wikana mulai meredup setelah peristiwa Madiun 1948. Posisinya sebagai Gubernur Militer wilayah Surakarta digantikan oleh Gatot Subroto. Sampai tahun 1950-an dia masih tercatat sebagai anggota Comite Central (CC) PKI yang mulai menggeliat di bawah kepemimpinan triumvirat Aidit, Njoto dan Lukman. Namun praktis Wikana tak memainkan peran penting sebagaimana yang pernah dilakukannya pada era-era awal revolusi. Dia punya posisi yang lumayan terhormat: sebagai anggota MPRS, anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan sejumlah aktivitas organisasi lainnya. Satu-satunya yang dia tak miliki adalah kekuasaan, baik di pemerintahan maupun di dalam partai.
Beberapa pekan sebelum peristiwa G.30.S 1965 terjadi, Wikana berserta beberapa elemen PKI lainnya pergi ke Peking untuk menghadiri perayaan hari Nasional Cina 1 Oktober 1965. Tapi sontak terdengar kabar dari tanah air tentang insiden penculikan dan pembunuhan para jenderal. PKI disalahkan. Delegasi terceraiberai. Wikana meminta anggota delegasi lain untuk tetap berada di Peking selagi menunggu kepastian dari berita yang simpang siur. Dia sendiri memilih pulang ke tanah air. “Kalau harus mati, saya pilih mati di tanah air,” kata Wikana sebagaimana dikatakan oleh Abriyanto, cucu menantu yang beberapa waktu belakangan tekun menyusun biografi Wikana.
Wikana benar. Kurang dari setahun setelah peristiwa G.30.S 1965, dia ditangkap. Sempat bermalam di Kodam Jaya namun dipulangkan kembali. Tak berapa lama kemudian segerombolan tentara tak dikenal datang ke rumahnya di Jalan Dempo No. 7 A, Matraman, Jakarta Pusat. Mereka membawa Wikana dan sampai hari ini, pemuda garang yang sempat membuat Bung Karno naik pitam itu, tak pernah kembali pulang. Dia hilang tak tentu rimbanya. [BONNIE TRIYANA]
Mencari Wikana (2)
Anak Menak Revolusioner
Kamis, 19 Agustus 2010 - 01:20:03 WIB
Lahir dari keluarga priayi bukan halangan untuk jadi pejuang. Sangat membenci penjajah.
MUNGKIN Nonoh tak pernah menyangka kalau anak lelakinya itu kelak menjadi seorang pemuda yang punya peran menentukan dalam periode revolusi Indonesia. Dia lahir pada 16 Oktober 1914 di Sumedang, Jawa Barat sebagai anak keempatbelas dari enambelas bersaudara. Ayahnya Raden Haji Soelaiman, seorang pendatang Demak, Jawa Tengah.
Wikana lahir pada tahun yang sama ketika Belanda memperkuat pertahanan kota Sumedang dari serangan musuh. Pada masa Perang Dunia I (1914-1918) Belanda membangun benteng-benteng di sekitar kota Sumedang. Perjuangan politik bukan hal baru buat keluarga menak itu. Kakaknya Winanta, pernah ditahan di Boven Digul atas tuduhan terlibat pemberontakan komunis 1926. Wikana muda belajar politik pada Winanta yang menuangkan pengalamannya selama di Digul dalam buku “Antara Hidup dan Mati atau Buron dari Boven Digul” yang disunting oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Cerita Dari Digul.
Menurut Ben Anderson, Wikana mengenyam pendidikan di ELS (Europeesche Lagere School) dan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). “Setelah lulus dari MULO pada 1932, Wikana bergerak dengan penanya dalam mingguan Fikiran Rakjat di Bandung. Dia masuk menjadi anggota Partai Indonesia (Partindo) cabang Bandung,” tulis mingguan Merdeka, 15 Mei 1947. Partindo merupakan pecahan dari Partai Nasionalis Indonesia (PNI) pascapenangkapan Bung Karno. PNI-Baru yang lain didirikan oleh Bung Hatta dengan mengganti “Partai” menjadi “Pendidikan” sesuai dengan nafas politiknya.
“Wikana (bersama Asmara Hadi, Soepeno, Sukarni, Goenadi, dan SK. Trimurti-Red) pernah menjadi anak didik Sukarno di Bandung (Sukarno bergabung dengan Partindo pada 1 Agustus 1932-Red),” tulis Anderson dalam Revolusi Pemuda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946.
Wikana juga mempunyai hubungan erat dengan sekolah Taman Siswa di Jawa Barat. Bahkan, “Wikana merupakan produk Taman Siswa yang terkemuka,” tulis LK Hing dalam The Taman Siswa in Postwar Indonesia.
“Wikana kemudian hijrah ke Surabaya pada 1935. Di sana dia memimpin mingguan Pedoman Masjarakat Baroe. Pada 1938, dia kemudian pindah ke Jakarta dan memimpin harian Kebangoenan. Pada tahun itu juga dia diangkat menjadi Penulis Umum II Partai Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo),” tulis mingguan Merdeka, 15 Mei 1947.
Gerindo yang didirikan pada 24 Mei 1937 di Jakarta oleh Amir Sjarifuddin dan Muhammad Yamin lahir setelah gerakan non-kooperatif yang dilancarkan Partindo dibubarkan pada November 1936, dan PNI-Baru lumpuh. Kandasnya gerakan non-kooperatif menimbulkan pemikiran baru yaitu gerakan kooperatif dengan Belanda untuk melawan ancaman fasisme, terutama fasisme Jepang.
Pada Kongres Gerindo pertama di Jakarta, 20-24 Juli 1938, AK Gani terpilih sebagai Ketua dan Amir Sjarifuddin sebagai Wakil Ketua. Dan pada Kongres Kedua, 24-30 Juli 1939 di Palembang, Amir Sjarifuddin terpilih menjadi Ketua dan Wilopo sebagai Wakil Ketua Komite Tetap.
Di bidang kepemudaan dibentuk Barisan Pemuda Gerindo setelah Juli 1938. Azas dari Barisan Pemuda Gerindo ini sama dengan Gerindo itu sendiri. Ia adalah pendukung dan pelaksana putusan-putusan Gerindo. “Wikana terpilih sebagai ketua pertamanya,” tulis Anderson.
Wikana kemudian diganti oleh Ismail Widjaja dan AM Hanafi sebagai Sekretaris Umum. “Saya menjabat Sekretaris Jenderal Pucuk Pimpinan Barisan Pemuda Gerindo sejak tahun 1939, menggantikan saudara Wikana yang didesak mengundurkan diri oleh Ketua PB. Gerindo Dr A.K. Gani karena tercium keradikalannya yang ‘komunistis’ demi untuk keselamatan dan kelangsungan perjuangan Gerindo,” kata AM Hanafi dalam bukunya AM Hanafi Menggugat.
Kira-kira satu tahun sebelum Jepang datang, Soemarsono kenal dengan Wikana karena kebetulan sama-sama berkegiatan di daerah Kemayoran.
“Di Jakarta, bapak tinggal di Jalan Garuda,” kata Lenina.
Soemarsono kenal Wikana sekaligus kenal temannya yang juga anggota Gerindo, Achmad Azhari dari Palembang. Soemarsono yang baru mau masuk Gerindo juga kenal dengan teman Wikana yang lain, yaitu pelukis S. Sudjojono dan Hariyadi.
“Ahmad Azhari dan Wikana satu tempat kerja sebagai tukang ketik di Percetakan Negara di Salemba. Azhari satu rumah sama saya. Saya banyak dengar mengenai Wikana dari Azhari. Azhari sangat menyanjung sekali Wikana. Wikana dianggap senior di antara pemuda-pemuda Gerindo. Wikana dianggap paling matang mengenai pengertian-pengertian perjuangan dan politik. Di kalangan pemuda pergerakan, Wikana memiliki pengaruh yang kuat. Ketokohannya satu level di bawah Amir Sjarifuddin,” kata Soemarsono.
Saat Wikana menikahi Asminah binti Oesman di Kemayoran pada 1940, Soemarsono datang memberi selamat. “Dia dapat anak Sunter. Saya datang waktu perkawinan itu karena Azhari. Saya kasih salam dan perkenalan sama Wikana,” ujar Soemarsono.
Dari hasil pernikahannya, Wikana dan Asminah dikaruniai enam anak, yaitu Lenina Soewarti Wiasti Wikana Putri, Temo Zein Karmawan Soekana Pria (alm.), Tati Sawitri Apramata, Kania Kingkin Pratapa, Rani Sadakarana, dan Remondi Sitakodana.
Pekerjaan sebagai organisatoris tak membuat Wikana alpa menulis. “Kalau sudah sampai di rumah, bapak pasti membaca dan menulis. Makan saja sampai dianter. Jadi kalau sudah namanya menulis, mengetik, dan baca buku, gak bisa diganggu,” kata Tati.
“Bapak adalah pembelajar otodidak. Dia bisa bahasa Jerman, Inggris, Rusia dan Prancis. Kalau bahasa Belanda adalah bahasa komunikasi sehari-hari,” kata Lenina.
Lenina menambahkan, kegemaran bapaknya adalah membaca buku. “Kalau anaknya ulangtahun, hadiahnya pasti buku. Kami diajak ke toko buku untuk memilih sendiri buku yang disukai. Kalau saya suka buku biografi dan sejarah,” ujar Lelina.
Melalui penanya Wikana menyebarkan gagasan-gagasan tentang pergerakan dan komunisme. Dia menulis Organisatie, Pengoempoelan Boeah Pena (Oesaha Penerbitan Tengara, 1947), Dokumentasi Pemuda Sekitar Proklamasi Indonesia Merdeka (bersama DN Aidit, Legiono, dan Badan Penerangan Pusat SBPI, 1948), Satu Dua Pandangan Marxisme (Revolusioner, 194?). Pada Oktober 1938, Wikana, Amir Sjarifuddin, Asmara Hadi, dan A.M. Sipahutar menjadi dewan redaksi dalam majalah bulanan politik Toedjoean Rakjat.
Menurut Harry Poeze, Wikana juga aktif dalam surat kabar Menara Merah yang diterbitkan oleh PKI bawah tanah. Menara Merah menganut garis Moskow, yang menetapkan pembentukan front rakyat untuk membendung gerakan maju kekuatan-kekuatan totaliter Jerman dan Jepang. Menara Merah kemudian dilanjutkan oleh “generasi ketiga” PKI di bawah pimpinan Widarta dan K. Midjaja.
“Wikana bertugas menyebarkan Menara Merah di Jawa Barat, tapi penanggungjawab utama adalah Pamoedji yang telah menyuruh suratkabar ini dicetak di Surabaya. Pada bulan Juni 1940, satu eksemplar surat kabar ini disita. Dalam hubungan ini, Amir Sjarifuddin, Adam Malik, dan Wikana diduga tersangkut,” tulis Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, Jilid 1, Agustus 1945-Maret 1946.
“Wikana ditangkap oleh Belanda karena menyebarkan Menara Merah dengan Adam Malik dan Pandu Kartawiguna,” tulis Anderson.
Wikana tidak suka sama Belanda. “Karena bapak pernah ditempeleng sama orang Belanda,” kata Tati. Wikana bersama Sukarni, Adam Malik, dan lainnya dibebaskan dari penjara Cilacap setelah penyerahan Belanda kepada Jepang pada 8-9 Maret 1942. Sidik Kertapati mengenang Wikana sebagai orang yang dikenal lama oleh para pemuda pergerakan sejak sama-sama aktif dalam gerakan revolusioner zaman Belanda. Karena aktivitasnya, “Wikana selalu menjadi buronan politik dan sering keluar-masuk penjara di zaman kolonial Belanda,”
Mencari Wikana (3)
Lakon dalam Pusaran Revolusi
Kamis, 19 Agustus 2010 - 01:16:22 WIB
Relasi Wikana yang luas di kalangan intelijen Jepang berhasil mengamankan pembacaan teks proklamasi.
KEMAYORAN, pada sebuah sore, 14 Agustus 1945. Beberapa pemuda berkumpul di sebuah kebun pisang dekat lapangan terbang Kemayoran. Saat itu Chaerul Saleh, Asmara Hadi, A.M. Hanafi, Sudiro, S.K. Trimurti dan Sajuti Melik berniat menemui Bung Karno dan Bung Hatta yang kabarnya akan mendarat dari Saigon, Vietnam. Sesuatu telah membuat mereka gundah. Jepang telah kalah perang sementara kemerdekaan untuk Indonesia direken sebagai hadiah Jepang.
Ketika Bung Karno dan Bung Hatta menapakkan kaki keluar dari tangga dan berjalan menjauhi pesawat tiba-tiba para pemuda itu menghampiri keduanya.
“Selamat datang kembali Bung Karno, Bung Hatta. Kami semua menunggu oleh-oleh yang Bung bawa dari Saigon,” kata Chaerul Saleh
“Pokoknya kemerdekaan sudah dekat. Kita semua harus siap,” sahut Bung Karno.
“Proklamirkan kemerdekaan sekarang juga Bung,” timpal Chaerul Saleh.
“Kita tidak bisa bicara soal itu di sini, Kempetai mengawasi kita. Bubarlah! Nanti kita bicarakan lagi,” tandas Bung Karno menutup percakapan.
Bung Karno dan Bung Hatta pergi begitu saja dan terkesan tak menghiraukan anak-anak muda itu. Mereka pun membubarkan diri kenang A.M. Hanafi dalam bukunya Menteng 31 Jembatan Dua Angkatan. Bola panas dari pertemuan itu masih terus bergulir pada beberapa jam ke depan.
Dalam pertemuan itu Wikana tidak hadir. Dia masih berada di kantor Subardjo di jalan Kebon Sirih. Menurut Suhartono, dalam buku Kaigun Penentu Krisis Proklamasi, meski saat itu Subardjo termasuk golongan tua dan Wikana golongan muda, namun keduanya dikenal memiliki hubungan yang cukup dekat. Ketika Maeda meminta Subardjo untuk mendirikan sebuah asrama pendidikan pemuda-pemuda Indonesia yang kemudian diberi nama Asrama Indonesia Merdeka, Subardjo meminta Wikana untuk mengepalai Asrama itu yang terletak di Jalan Bungur Raya 56. Di Asrama itu Wikana, atas permintaan Subardjo, mengadakan diskusi-diskusi politik dan kebangsaan yang menghadirkan Sukarno, Mohammad Hatta, Iwa Kusuma Sumantri, Sutan Sjahrir, RP Singgih, J. Latuharhary, Maramis, dan Buntaran sebagai pembicaranya.
Malam harinya sekitar pukul 20.00 para pemuda yang sempat menemui Bung Karno dan Bung Hatta di Kemayoran kembali berkumpul di belakang Eijkman Instituut (Lembaga Bakteriologi di Pegangsaan Timur No. 17 sekarang Fakultas Kesehatan Masyarakat UI-Red). Di sana pemuda dari kelompok Menteng 31 seperti Chaerul Saleh, Djohar Noer, Abu Bakar Lubis, Armansyah, dan Subadio Sastrosatomo sudah menunggu. Kali ini Wikana turut serta bersama Aidit. Mereka kembali membahas rencana proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Pada pukul 23.00 diputuskan untuk mengirim perwakilan pemuda menemui Bung Karno dan Bung Hatta. Wikana dipilih menjadi ketua utusan sekaligus juru bicara. Pertimbangannya, dia dianggap sudah kaya pengalaman berorganisasi. Wikana pernah menjadi anggota Barisan Pemuda Gerindo, Laskar Jawa Barat, Angkatan Pemuda Indonesia. “Saat itu Wikana termasuk yang paling senior. Dia sudah menjadi top figure,” kata Soemarsono.
Bersama Chaerul Saleh, Subadio Sastrosatomo dan beberapa pemuda lain Wikana menuju kediaman Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Di sana rupanya sudah ada Bung Hatta, Subarjo, Iwa Kusumasumantri, Joyopranoto dan Buntaran. Setelah menjelaskan maksud kedatangannya Wikana mulai melobi Bung Karno.
“Proklamasi kemerdekaan harus segera dibacakan,” kata Wikana
“Tunggu sebentar…” kata Bung Karno meminta pertimbangan tokoh-tokoh yang lain.
“… Kami tidak setuju kalau pemuda-pemuda yang memproklamasikan kemerdekaan, kecuali jika saudara-saudara memang sudah siap. Boleh coba! Saya ingin melihat kesanggupan saudara-saudara,” Bung Hatta menantang.
“Kalau Bung Karno tidak mau mengumumkan proklamasi, di Jakarta besok akan terjadi pertumpahan darah yang amat dahsyat…”
Mendengar ucapan Wikana yang bernada ancaman, Bung Karno naik darah. Setengah melompat dia berdiri di hadapan Wikana.
“Ini batang leherku. Seretlah saya ke pojok itu, sudahilah nyawa saya malam ini juga jangan menunggu besok…” Wikana terkejut mendengar kekukuhan hati Bung Karno. Dia sebenarnya tidak bermaksud mengancam namun “Bung Karno salah paham,” kata Soemarsono
Dalam autobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat, dia menceritakan alasan penolakannya. Saat itu Bung Karno merasa bahwa para pemuda belum memiliki kesiapan total bila sewaktu-waktu terjadi bentrokan fisik melawan kekuatan senjata Jepang. Sedangkan Harry Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia mengatakan penolakan Bung Karno dan Bung Hatta karena keduanya tak ingin meninggalkan anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang sudah berada di Jakarta untuk rapat.
Yang jelas lobi Wikana gagal. Menjelang sahur pukul 1.30 dini hari para pemuda akhirnya undur diri. Mereka melanjutkan rapat ke Asrama BAPERPI (Badan Permusyawaratan Pelajar-Pelajar Indonesia), Jalan Cikini No. 71, tak jauh dari kediaman Bung Karno.
Saat itu asrama merupakan eksponen penting dalam merancang strategi-strategi perjuangan menuju kemerdekaan. Ada tiga asrama yang saat itu popular sebagai dapur dialektika kebangsaan, rapat-rapat rahasia, dan merancang strategi perjuangan. Asrama Menteng 31, Asrama Indonesia Merdeka, dan Asrama Cikini 71. Menurut Ben Anderson dalam buku Revolusi Pemuda, asrama menjadi tempat yang penting bagi sejarah pergerakan kaum muda Indonesia di zaman pendudukan Jepang.
Hasil rapat para pemuda kemudian memutuskan kemerdekaan harus dinyatakan sendiri oleh rakyat, jangan menunggu kemerdekaan dari Jepang. Para pemuda juga berencana untuk menjauhkan Bung Karno dan Bung Hatta dari tangan Jepang. Para pemuda sepakat untuk membawa kedua tokoh keluar Jakarta, pilihan lokasi jatuh ke Rengasdengklok, Karawang.
Dari keterangan Sidik Kertapati dalam bukunya Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945 pukul 6.00 pagi sebuah mobil keluar dari Cikini 71 membawa beberapa orang yang akan menculik Bung Karno. Chaerul Saleh, Wikana, dan dr. Muwardi pergi ke Pegangsaan Timur No. 56 untuk membangunkan Sukarno dan menyiapkan keberangkatan. Sementara itu Sukarni dan Yusuf Kunto menuju kediaman Bung Hatta di Miyakodori (sekarang Jalan Diponegoro-Red).
Kepada Bung Karno Wikana mengatakan, “Situasi gawat dan tidak stabil Bung harus disingkirkan!”
“Lalu bagaimana dengan istri dan anakku.”
“Dibawa sekalian saja Bung. Segera kemasi barang-barang.”
Sementara itu, kelompok pemuda yang mendapat tugas mengambil Bung Hatta menggunakan dalih bahwa Bung Karno memanggil Bung Hatta karena ada situasi genting. “Para pemuda tahu Bung Hatta tidak bisa diancam apalagi ditakut-takuti makanya mereka menggunakan nama Bung Karno untuk membawanya,” tutur Soemarsono.
Tapi ternyata di Rengasdengklok para pemuda juga gagal membujuk Bung Karno dan Bung Hatta untuk membacakan proklamasi. Sementara itu di Jakarta muncul kepanikan karena hilangnya Bung Karno dan Bung Hatta. Subardjo dan Sudiro kemudian membujuk Wikana untuk mengatakan di mana Bung Karno dan Bung Hatta berada. Setelah mendengar janji Subardjo untuk membantu melaksanakan proklamasi kemerdekaan Wikana akhirnya tak kuat hati untuk terus menyimpan rahasia. Kepada Subardjo dan Sudiro dia ceritakan di mana Bung Karno dan Bung Hatta disembunyikan.
“Nyanyian” Wikana ini sempat disesalkan oleh Chaerul Saleh dan A.M. Hanafi. “Saya dan Chaerul Saleh menggasak Wikana habis-habisan. Tapi mau apalagi?! Untunglah dia mengakui kesalahannya kalau tidak habislah namanya sebagai pejuang di mata kami,” kata A.M. Hanafi mengungkapkan kekesalannya.
Setelah mengetahui di mana Bung Karno dan Bung Hatta berada Subardjo langsung menjemput keduanya kembali ke Jakarta. Pada saat yang bersamaan beberapa pemuda yang memang sengaja ditinggal di Jakarta untuk memantau situasi mengadakan rapat dadakan. Saat itu hadir Wikana, A.M. Hanafi, Pardjono, Pandu Kartawiguna, Djohar Noer, S.K. Wijoto dan Ridwan Bazar. Masing-masing membagi tugas untuk persiapan penyelenggaraan proklamasi. Djohar Noer, S.K. Wijoto dan Ridwan Bazar bertugas menghubungi kantor berita Domei dan kantor Radio Hosokioku. Pardjono mengurus stensil dan penyebaran kabar proklamasi kemerdekaan.
Sementara itu Wikana bertugas mengatur semua keperluan pembacaan proklamasi di rumah Bung Karno. Dia juga memastikan kesediaan Laksamana Maeda untuk menjadikan rumahnya sebagai tempat perumusan naskah proklamasi. Wikana pulalah yang mengatur agar para Kaigun (Angkatan Laut Jepang) untuk tidak mengganggu jalannya proklamasi. Melalui perantara Subardjo, Wikana memang punya hubungan luas di kalangan Jepang, tidak terkecuali di kalangan intelijen Kaigun. Karena perannyalah perhelatan proklamasi aman dari jamahan Kempetai yang bisa saja menghabisi para tokoh itu sewaktu-waktu.
Dini hari 17 Agustus 1945 setelah kembali dari Rengasdengklok Bung Karno dan Bung Hatta langsung mengadakan rapat bersama beberapa tokoh pemuda lain di antaranya Sukarni dan B.M. Diah untuk merumuskan teks naskah proklamasi. Setelah dirasa pas, Bung Karno dan Bung Hatta akhirnya menandatangani teks naskah proklamasi pada pukul 04.00 dinihari di kediaman Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol No. 1. Proklamasi baru dibacakan pagi hari pukul 10.00 di teras depan kediaman Bung Karno. Wikana sempat pula ketar-ketir karena si Bung Besar itu sedang kambuh sakit malarianya. Namun kekhawatirannya pupus ketika Bung Karno membacakan naskah proklamasi itu. Dan Indonesia pun menyatakan kemerdekaannya.[JAY AKBAR]
Mencari Wikana (4)
Saujana Merdeka Menteri Sederhana
Kamis, 19 Agustus 2010 - 01:13:27 WIB
Sempat menduduki beberapa jabatan penting. Hatta mendepaknya karena dia orang kiri.
SOSOKNYA tak terlalu tinggi. Kumis tipis melintang dan jenggot lumayan panjang menghiasi wajah tirusnya. Hanya kacamata bundar dan pakaian sederhana yang selalu menemaninya ke mana pun dia pergi. Gaya hidupnya bersahaja. Namun sosok pendiam itu memiliki peran yang tidak sedikit dalam hari-hari di sekitar revolusi 17 Agustus. Tekadnya dalam berjuang memerdekakan rakyat begitu kuat. “Rakyat kita belum merasakan benar apa kemerdekaan itu,” ujar Ibrahim Isa, mengutip keterangan Wikana kepada Fransisca C. Fanggidaej –orang yang pernah menumpang di rumah dinas Wikana di Solo– suatu waktu.
Nama Wikana hampir dilupakan orang selama puluhan tahun. Pria kelahiran Sumedang, 16 Oktober 1914, ini tak diketahui nasibnya setelah diculik oleh kawanan tentara tak dikenal pada medio 1966. Jasa-jasanya bagi negeri seakan ikut sirna bersama jiwa-raganya yang hilang entah ke mana.
Tak lama setelah proklamasi, pada 27 Agustus 1945 Wikana –pejuang dari golongan pemuda– terpilih menjadi salah seorang pengurus di dalam PNI (Partai Nasional Indonesia), partai negara yang didirikan dengan maksud sebagai wadah untuk memperkuat persatuan bangsa, memperbesar rasa cinta, setia, dan bakti kepada tanah air. Namun kehadiran partai itu tak lama. Banyak pihak menentang kehadirannya, tak terkecuali Sjahrir.
Wikana lalu masuk ke dalam organisasi Angkatan Pemuda Indonesia (API) di mana dia menjadi ketua organisasi yang berdiri pada 1 September 1945 itu. Bersama Soemarsono, dia mewakili API ke Kongres Pemuda Pertama di Yogyakarta, 10-11 November 1945. Wikana ikut menjadi pembicara di samping Amir Sjarifuddin dan Adam Malik. Agenda terpenting kongres itu adalah rencana peleburan gerakan pemuda dalam satu organsisasi atas dasar prinsip-prinsip sosialis.
Mencari Wikana (5)
Tersisih dari Perahu Partai
Kamis, 19 Agustus 2010 - 01:08:06 WIB
Wikana tersingkirkan oleh para pengagumnya. Garis politik memisahkan mereka.
PERISTIWA Madiun 1948 menyudutkan PKI ke tubir jurang kehancuran. Partai berlambang palu-arit itu dituduh berada di belakang peristiwa yang disebut-sebut sebagai “pemberontakan” itu. Sebelas orang tokoh PKI ditembak, yakni Amir Sjarifuddin, Maroeto Daroesman, Suripno, Oey Gee Hwat, Sardjono, Harjono, Sukarno, Djokosujono, Katamhadi, Ronomarsono dan D. Mangku. Sebelum mereka dieksekusi, Musso telah terlebih dahulu ditembak mati oleh tentara.
Peristiwa itu melumpuhkan PKI. Partai yang sempat melancarkan perlawanan pada era kolonial itu harus menemui kenyataan diperangi oleh saudara sebangsanya sendiri saat negeri telah merdeka. Sebagian pengikut PKI kocar-kacir menyelamatkan diri. Aidit dan Lukman dua dari sekian komunis muda yang menyembunyikan diri di tengah hembusan gosip melarikan diri ke negeri Cina.
Dua tahun berselang setelah peristiwa Madiun, anak-anak muda PKI seperti Aidit, Njoto dan Lukman, yang tenar disebut “tiga serangkai”, mulai menggeliat, membangun partai yang sempat luluh lantak. Jalan terjal mereka tempuh. Tak mudah membangun partai dalam kondisi traumatik dan serbasulit. Partai punya tiga sampai dengan empat ribu anggota namun nyaris tak bisa berbuat apa-apa karena ketiadaan pemimpin.
Pada 1950 mereka mulai menyusun serpihan kekuatan yang terserak: berupaya mengumpulkan anggota yang tercerai berai dan menerbitkan terbitan berkala partai, seperti Bintang Merah dan kemudian Harian Rakjat. Setelah kembali ke Jakarta, “Mereka berkumpul di sekitar kantor Bintang Merah yang menempati rumah Peris Pardede di gang Kernolong. CC PKI mereka tempatkan di Gang Lontar,” kata Murad Aidit dalam bukunya Aidit Sang Legenda.
Menurut sejarawan Hilmar Farid sejak Januari 1951 Aidit, Nyoto dan Lukman memulai pembangunan partai. “Sejumlah langkah dilakukan dengan agenda rebuilding, front persatuan yang luas, tuntutan moderat dan lain-lain untuk memperkuat posisi partai,” ujar Hilmar Farid melalui pesan singkatnya kepada Majalah Historia Online.
Tapi kerja keras itu bukannya tanpa halangan sama sekali. Bahkan ada resistensi dari dalam, khususnya dari mereka yang tergolong sebagai “golongan tua”. “Tantangan besar lainnya yang mereka hadapi adalah sisa-sisa pimpinan lama termasuk Tan Ling Djie dan Wikana,” kata sejarawan yang kini tengah menempuh program doktor di National University of Singapore itu.
Pengaruh Tan Ling Djie dan Wikana masih terlampau kuat untuk dipatahkan oleh triumvirat muda PKI. Ada perbedaan mendasar yang membuat konflik “golongan tua” versus golongan muda di bawah kepemimpinan Aidit, Njoto dan Lukman: “Aidit lebih kepada front persatuan di bawah Bung Karno sementara Tan Ling Djie cs. lebih cenderung memilih class struggle,” lanjut Farid.
Tentangan keras juga datang dari Alimin, tokoh senior PKI yang mulai kehilangan taring pada usianya yang senja. Pada 1951, bertempat di rumah Trikoyo Ramidjo di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur, Aidit dan Lukman berdebat keras melawan Alimin ihwal strategi yang harus dijalankan oleh PKI. Alimin bersikeras bertahan pada pendapatnya bahwa MMC (Merapi Merbabu Complex) tak boleh dibubarkan karena berpotensi sebagai pendukung penting pembangunan partai. “Waktu itu Alimin tak mau membubarkan MMC karena menurut dia ada tiga hal yang harus diperkuat, yakni petani, partai itu sendiri dan tentara merah,” kata Trikoyo. Tentara merah yang dimaksud Alimin adalah MMC. Aidit dan Lukman pun tak kalah keras. “Mereka berdua menolak ide itu,” lanjut Trikoyo.
Keterangan Trikoyo diamini oleh Murad Aidit lewat bukunya. Menurut Murad, Alimin marah besar terhadap garis yang ditempuh oleh Aidit cs. Aidit tak ambil peduli, mereka tetap menyiapkan penyelenggaraan kongres yang urung dilaksanakan. “Kongres baru terlaksana pada bulan Maret 1954, setelah segala persiapan untuk kongres itu dapat dipersiapkan. Kongres mengesahkan pimpinan yang terdiri central comite dan politbironya,” kata Murad Aidit.
Friksi pun berlanjut. Golongan tua seperti Alimin, Tan Ling Djie dan Wikana didomestifikasi peranannya. Mereka diberi tempat dalam kepengurusan CC PKI, namun tanpa kuasa untuk mengambil kebijakan apapun. Kekuasaan partai terpusat di tangan Aidit, Njoto dan Lukman. Mereka bertiga menjalankan kendali tanpa harus menyingkirkan politisi tua, apalagi Aidit dan Lukman mengagumi sosok Wikana.
“Tidak mungkin mereka disingkirkan, karena itu posisinya saja yang tidak penting. Soalnya bukan tua-muda tapi kontrol terhadap kader dan resources partai. Orang tua seperti Wikana dan Tan Ling Djie masih punya pengaruh kuat, karena itu mesti didomestifikasi,” kata Farid.
Tapi keadaan itu tak berlangsung lama. Tan Ling Djie, rekan Wikana, dipecat dari PKI. Dia dianggap keras kepala dengan garis partai yang mengharuskan partai bekerja di bawah tanah sebagai partai pelopor. Tapi keputusan pemecatan itu urung dilakukan karena Tan Ling Djie menganggap hidup-matinya sudah ada di PKI. Dia tetap dikeluarkan dari CC tanpa dicabut keanggotaannya. Agaknya tak ada juga yang bisa diperbuat oleh Wikana dalam menghadapi keadaan internal partai yang telah sepenuhnya dikendalikan oleh trio Aidit, Lukman dan Njoto.
Transisi kepemimpinan dari yang tua kepada yang muda pun dibumbui kabar tak sedap. Aidit cs. banyak disebut-sebut sebagian kalangan melakukan kup terhadap kepemimpinan partai tanpa menghiraukan kepemimpinan golongan tua. “Aidit dianggap kup terhadap kepemimpinan CC PKI yang lama seperti Wikana,” kata Soemarsono.
Pendapat bahwa Aidit cs. melakukan kup dibantah oleh Hilmar Farid. Menurutnya sejak peristiwa Madiun praktis kepemimpinan PKI kosong. Oleh karena itu agak sulit untuk mengatakan kalau triumvirat Aidit, Njoto dan Lukman melakukan kup. “Trio sulit untuk dibilang kup karena pimpinan memang tidak ada. Mereka sendiri sudah jadi anggota CC per 1 September 1948, termasuk Wikana. Jadi yang tepat mungkin bukan kup tapi ambil alih karena pimpinan kosong dan bukan didongkel. Juga tidak ada serah terima karena tak ada yang menyerahkan,” kata Farid.
Setelah berhasil mengurai benang kusut pada partai yang hampir tercerabut itu trio Aidit, Lukman dan Njoto mulai mendisiplinkan partai. Jejaring partai kembali diaktifkan dan semua lini partai difungsikan kembali. Di tangan mereka orientasi partai kembali digodok. Di bawah PKI, Aidit mendukung kebijakan anti kolonialis dan anti-Barat yang diusung oleh Bung Karno.
Partai Komunis Indonesia berkembang pesat. Tangan dingin Aidit, Lukman dan Njoto yang rata-rata masih berusia 30-an tahun itu berhasil meraih simpati sejuta lebih rakyat Indonesia. Jerih payah mereka membawa PKI menduduki posisi keempat dalam Pemilu 1955.
Suara garang Wikana pun semakin tenggelam di tengah derap langkah PKI yang semakin agresif meraup simpati rakyat. Tapi Wikana bukan Tan Ling Djie yang disingkirkan begitu saja. Dia masih punya posisi penting baik sebagai anggota MPRS maupun anggota DPA sebelum akhirnya tragedi politik pada 1965 menuntaskan kisah hidupnya. [BONNIE]
Mencari Wikana (6)
Berpisah di Jalan Dempo
Kamis, 19 Agustus 2010 - 00:59:02 WIB
Dikenang sebagai ayah yang hangat dan pendiam. Pergolakan politik memisahkannya dari keluarga.
RUMAH yang terletak di Jalan Dempo No. 7A itu tak begitu besar dan lebih menyerupai paviliun. Ukurannya memanjang ke belakang dengan dua kamar tidur, ruang tamu, ruang makan, ruangan kecil di bagian belakang, dan gudang. Semuanya serbakecil. Wikana menjadikan kamar tidur sekaligus tempat kerja. Pada rumah pemberian Chairul Saleh itu sederet pagar dan pintu berdiri cukup tinggi.
Sejak Wikana terpilih menjadi anggota Konstituante pada 1955 dia harus tinggal di Jakarta. Di Konstituante dia mengetuai Komisi Perikemanusiaan. Pada tahun 1960, dia menjadi anggota MPRS dan DPA.
Masih lekat dalam ingatan Tati Sawitri Apramata betapa bapaknya selalu sibuk untuk mengikuti berbagai persidangan. Namun sebagai anak dia tak pernah berani menanyakan apa pekerjaan bapaknya. “Anak zaman dulu mana berani nanya bapaknya kerja apa,” kenang Tati.
Sebagai anggota MPRS dan DPA Wikana tentu sibuk bukan kepalang. Adakalanya sesekali dia bercerita kepada anaknya kalau Presiden Sukarno memanggilnya. Tapi Wikana yang pendiam itu tak banyak bercerita tentang isi pertemuannya, kepada siapa pun di rumahnya. Yang masih bisa diingat oleh Tati adalah kebiasaan bapaknya membawakan oleh-oleh buku tiap kali datang dari acara persidangan.
“Kadang-kadang saya dan adik-adik saya membuka-buka setiap lembar buku dan biasanya ada uang nyelip,” kata Tati diiringi derai tawa.
Wikana, dalam kenangan anak-anaknya, dikenal baik sebagai pria pendiam yang bersahaja. Kendati demikian dia selalu bersikap hangat kepada anak-anaknya. “Dulu saya masih ingat bapak maen berantem-beranteman sama saya,” kata Tati.
Rumah di Jalan Dempo itu membawa kehangatan bagi seluruh anggota keluarga Wikana. Ketika beredar kabar rencana pengangkatan Wikana sebagai Duta Besar Berkuasa Penuh untuk Tanzania, Wikana menawarkan kepada anak-anaknya untuk ikutserta. Dia juga menawari Tati untuk berkuliah di luar negeri selulus dari SMA. “Kalau mau kuliah jangan ke Amerika atau Inggris, di sana cuma main-main saja. Lebih baik ke Jerman,” kata Wikana seperti ditirukan Tati. Mungkin ideologi anti-nekolim merasuki jiwa Wikana sehingga untuk menyekolahkan anaknya pun dia menjadikan dua negara itu tabu.
Tapi mendadak semua kisah manis itu luluh lantak ketika sepulang mengikuti Hari Raya Nasional Cina 1 Oktober 1965 suasana politik bergolak. Tujuh perwira Angkatan Darat diculik dan dibunuh. Kabar beredar menyebut PKI ada di belakang insiden berdarah itu. Hidup Wikana di ujung tanduk. Berbeda dengan anggota delegasi lain yang tetap tinggal di Cina, Wikana memilih untuk pulang. Mungkin dia berpikir takkan disangkutpautkan dengan kejadian itu, terlebih perannya yang tak lagi sentral dalam PKI. Tapi Wikana salah.
Chairul meminta KBRI segera mengurus kepulangan delegasi ke Jakarta. Rombongan bertolak dari RRT pada 5 Oktober dan tiba di Jakarta pada 10 Oktober 1965. Sebelum berangkat pulang, Chairul meminta Wikana sebaiknya tak usah pulang dulu karena di Jakarta sedang tidak aman. Tapi, Wikana tak menghiraukan saran Chairul. Dia tetap ikut pulang.
“Begitu sampai di Kemayoran dia segera disauk tentara, sekarang saya tidak tahu, saya tidak dengar lagi bagaimana nasibnya,” kata Chairul mengisahkan penangkapan Wikana kepada AM Hanafi seperti diceritakan dalam AM Hanafi Menggugat.
Menurut anak ketiga Wikana, Tati Sawitri Apramata, Wikana ditahan secara resmi di daerah Kramat. Petugas tentara dari Kramat datang ke rumahnya di Jalan Dempo No. 7A, meminta keluarga untuk menjenguknya. Tati yang menemuinya.
“Bapak perlu apa?” tanya Tati yang saat itu duduk di kelas 1 SMA 4 Jakarta.
“Tikar,” kata Wikana.
“Bapak sehat-sehat saja?” tanya Tati.
“Sehat,” kata Wikana singkat.
Tidak seperti tahanan, Wikana diberikan kebebasan. “Sekitar dua malam diperiksa, lalu dikembalikan ke rumah,” kata Soemarsono.
Pada suatu sore menjelang magrib, tujuh bulan setelah penangkapan pertama, tiba-tiba datang tamu yang mencari kos. Padahal, di rumah Wikana tidak ada kosan. Sebelumnya Wikana sudah mewanti-wanti kepada anaknya agar jangan mengatakan kepada siapapun yang datang bahwa dia ada di rumah. “Tapi, kakak saya malah bilang bahwa bapak ada di rumah,” ujar Tati.
Bencana datang seketika. Tengah malamnya, tak berapa lama setelah kedatangan si tamu tak diundang, tiba-tiba banyak orang melompati pintu pagar dan tembok rumah yang cukup tinggi. Tati terbangun. Dengan kasar, mereka menanyakan di mana bapaknya. “Mereka tentara semua, bawa senjata, tapi tak bisa dikenali,” kata Tati menahan tangis.
Wikana pun dicokok pada 9 Juni 1966. Sejak saat itu keluarga tak pernah mengetahui keberadaannya. “Sebelum dibawa, bapak minta dibungkusin sarung, celana, dan sikat gigi. Dia berpesan agar jaga ibu,” ujar Tati sambil terisak.
Tati tak tega melihat bapaknya digelandang. Dia hendak mengikutinya. Tapi tentara itu menodongkan senjata. “Kamu, anak kecil, ngapain ke luar,” kata salah seorang dari mereka.
“Saya mau lihat bapak saya ke depan,” kata Tati memberanikan diri.
“Masuk!” bentak salah satu dari mereka.
Menurut tetangga sekitar rumah, ada tiga mobil yang terparkir terpisah di depan rumah. Karena itu mereka tahu kalau yang menangkap Wikana lebih dari sepuluh orang.
Malam itu juga, Asminah istri Wikana melaporkan kejadian penculikan suaminya ke Kodam Jaya dan Kostrad. Pihak Kodam Jaya dan Kostrad menyatakan bahwa malam itu tidak ada penangkapan. Dan setiap penangkapan harus ada surat penangkapan. “Memang pada waktu penangkapan pertama ada suratnya,” ujar Tati.
Kodam Jaya dan Kostrad pun membantu mencari Wikana. Namun, nihil. “Kami hanya mendengar desas-desus saja mengenai keberadaan bapak. Namun, nyatanya tidak ada,” ujar Tati.
Menurut Soemarsono, tentara ada dalam setiap gerakan waktu itu. Memang semua bersumber dari tentara. Jadi, penangkapan-penangkapan itu pun bisa dipastikan dilakukan oleh tentara. “Walaupun bukan oleh tentara di belakangnya pasti adalah tentara,” kata Soemarsono.
Setelah penculikan Wikana, setiap hari rumah di Jalan Dempo dijaga oleh sekitar sepuluh orang petugas keamanan dari Kostrad. Keluarga pun diberi surat jaminan keamanan oleh Panglima Kostrad Kemal Idris. Sesudah tidak dijaga lagi, banyak orang-orang militer yang datang. Mereka memaksa agar keluarga mengosongkan rumah Wikana.
“Ibu tambah sakit. Yang menghadapi orang-orang militer itu saya dan adik-adik saya. Setiap mereka datang, saya tunjukkan surat dari Kostrad. Mereka pun tidak berani,” kata Tati.
Berbekal surat dari Kemal Idris, keluarga pun berhasil mempertahankan rumah itu hingga akhirnya dijual sekitar tahun 1996. “Karena ibu sudah tiada, saya putuskan untuk menjual rumah itu. Hasilnya dibagi rata untuk adik-adik saya,” kata Lenina Soewarti Wiasti Wikana Putri, anak pertama Wikana.
Pencarian anak-anak Wikana pun tak berakhir begitu saja. Tati dan Lelina sempat bertemu dan menanyakan kepada Adam Malik, Asmara Hadi, dan Chairul Saleh mengenai keberadaan bapaknya. Tak ada yang mereka bisa perbuat kecuali membesarkan hati agar bersabar dan berdoa kepada Tuhan. “Ya sudah, kamu urus saja anak dan dampingi suamimu. Masalah itu jangan dipikirkan lagi,” kata Adam Malik ke Lenina.
Tati berharap, kalau memang bapak meninggal di mana kuburannya. Kalau masih hidup, ada dimana? “Kadang-kadang ketika saya melihat pengemis-pengemis di jalanan dan kolong jembatan, saya suka teringat apakah mungkin bapak saya seperti itu. Siapa tahu di situ ada bapak saya,” ujar Tati.
Setelah Wikana tiada, keluarga kehilangan penopang hidup. Dia tidak meninggalkan warisan. “Ibu menjadi tulang punggung keluarga. Dia berjualan segala macam. Yang pernah saya lihat dia jualan es buah. Bahkan sempat menjual pot bunga untuk makan. Karena saya dan Tati sudah menikah, suami-suami kami membantu, meski tidak banyak,” kata Lenina.
Seingat Tati, ada teman-teman bapaknya yang pernah membantu. “Seperti temannya dari Rusia.”
Wikana menyadari risiko perjuangannya. Dia tidak ingin apa yang dialaminya menimpa keluarganya. Dia pun berpesan, terutama ke anak perempuannya, agar tidak menikah dengan orang perjuangan karena khawatir hidup susah seperti yang dialaminya. “Tapi, jika bisa kuat seperti ibu dalam mendampingi bapak, ya, silakan,” kenang Lenina mengutip bapaknya. [HENDRI F.
Disadur dari Majalah Historia.com
+++++++++++++++++++++
Orba SUHARTO jabgan terulang lagi. Cukup sudah derita rakyat. Coba baca tulisan kecil ini.TIDAK ADA KATA PUTUS ASA DALAM KAMUS HIDUPKU
Oleh : Tri Ramidjo.
Upacara pembebasan TAPOL di pulau Buru itu berlangsung di lapangan kota Namlea Buru Utara pada tanggal 20 Desember 1977. Aku termasuk tapol yang dibebaskan pada pembebasan pertama waktu itu.
Aku tidak tahu berapa orang yang dibebaskan dan dengan kapal apa aku dan rombonganku itu diangkut ke Surabaya. Aku juga tak dapat mengenang berapa lama kami melayari lautan dari Namlea ke Surabaya. Tanggal berapa aku sampai di Jakarta di KODIM Jakarta Selatan Kebayoran pun aku tak ingat. Ya, sampai hari ini pun aku tak bisa mengingat kembali hari-hari dan tanggalnnya. Ya, biarlah tak apa. Aku hanya ingin mengingat dan mencatat apa yang terjadi pada hari-hari ketika aku sampai di Jakarta.
Keadaan jasmaniku memang tidak sehat. Aku mengidap penyakit paru-paru yang umumnya teman-teman tapol menyebutnya KP (koch patient ?) dan malaria yang sudah menahun. Tapi hatiku tetap tabah dan kukuat-kuatkan diriku untuk bisa bertemu kembali dengan keluargaku. Keinginan untuk segera bertemu keluarga inilah yang memberi semangat bertahan hidup terutama wajah ibuku yang mendekati usia 80 tahun dan kenyang penderitaan dalam hidupnya tapi tak pernah mengeluh, anakku perempuan yang waktu itu sudah berusia 16 tahun dan isteriku yang kuanggap wanita tercantik di dunia ini. Ya di dunia ini hanya ada dua wanita yang punya sifat keibuan yaitu ibuku dan isteriku.
Ibuku sejak muda mengikuti ayahku yang hidupnya sepenuhnya mengabdi bagi negeri tercinta ini sehingga pada waktu berada di tanah buangan Boven Digul menjadi orang yang paling miskin tapi tak pernah mengeluh. Ibuku di tahun 1940 hanya punya selembar kain dan selembar kebaya. Oom Sjahrir (Sutan Sjahrir yang pernah menjadi PM Republik Indonesia) yang hubungannya sangat dekat dengan keluarga kami, dari tempat pengasingtannya di Banda Neira mengirimkan pakaian-pakaian bekas yang katanya dari keluarga Dr. Tjipto Mangunkusumo yang belum pernah kami kenal secara dekat. Ya, lamunanku pada ibuku yang sangat kurindukan.
Kereta api yang kami naiki dari Surabaya berangkat pada sore hari dan sampai di stasiun Senen pada pagi keesokan harinya. Tapi tidak pagi sekali, sudah agak siang. Dengan memakai caping petani dan menenteng tas pemberian PANGKOKAMTIB ( maaf, aku tak tahu presis, pemberian tas, sepatu dan sarung itu dari mana, katanya dari PANGKOKAMTIB bapak yang baik hati pak Sudomo?) aku bersama rombongan naik truk dari stasiun Senin ke KODIM Jakarta Selatan Kebayoranbaru.
Di KODIM Jakarta Selatan rupanya sudah banyak ibu-ibu keluarga tapol yang menunggu untuk menjemput. Di antaranya ada mas Ari teman lamaku. Ya, dia teman lamaku yang sama-sama berjuang bertempur melawan kolonialis Belanda di th 1945. Bedanya hanya dia tergabung dalam TP Jawa Tengah sedang aku di TRI Kalbar. Dia belum merasakan pedihnya diterpa peluru sedang aku merasakan pedihnya peluru angrem dibokongku sebelah kiri. Aku pernah dimarahi oleh anak buahku karena salah menentukan arah mundur pasukan, sehingga dua hari tak makan hanya makan buah durian sampai mabuk durian. Aku geli mengingat ketololanku waktu itu.
Kukira mas Ari datang untuk menjemputku, tetapi rupanya tidak. Dia menjemput bung Subronto K.Atmodjo yang sama-sama musikus.
Kutanya mas Ari, “apakah isteriku datang menjemputku?”
Jawabnya “tunggu saja, nanti juga datang.”
Terrnyata sampai teman-teman yang terakhir sudah meninggalkan KODIM belum juga keluargaku datang menjemput.
Petugas di Kodim mengatakan, kalau tak ada yang menjemput akan dibawa ke RTC SALEMBA.
Akhirnya datang seorang ibu seorang nenek-nenek. Aku tahu ibu itu ibu Sapar yang puluhan tahun yang lalu pernah menjadi tetanggaku. Kutanya ibu itu akan menjemput siapa. Ibu itu mengatakan akan menjemput anaknya yang dikiranya ikut bebas dalam rombongan pertama itu.
Akhirnya ibu itu mengajakku pulang.
Di tengah perjalanan pulang ibu itu bercerita, bahwa isteriku sudah bersuami lagi dan telah mempunyai seorang anak laki-laki. Sekarang anak laki-laki itu sudah berumur 5 tahun.
Aku terdiam. Aku tak bisa berucap kata. Kemana aku harus menuju sekarang. Ke rumah kontrakan isteriku yang kini sudah berisuamikankan orang lain atau ke mana? Akhirnya kuputuskan untuk ke Pabrik Krupuk milik pak Giyanto yang juga kenalanku. Di sana banyak tempat untuk pekerja-pekerja pabrik krupuk itu.
Kebetulan hari itu pak Giyanto ada di rumah. Beliau menerimaku dengan ramah dan menceritakan tentang isteriku yang telah bersuami lagi dan tentang anakku. Kutanyakan bagaimana tentang ibuku?
Beliau menceritakan, rumah ibuku telah hancur dihancurkan oleh KAMI dan KAPI karena letaknya bersebelahan dengan gudang buku Yayasan Pembaruan – penerbit dan toko buku PKI. Dan kini ibuku tinggal di rumah famili ibuku
Biarlah, untuk sementara aku tak mau berfikir banyak. Kalau umurku masih panjang pasti aku bisa menemukan ibuku.
Pak Giyanto memberi saran agar aku tinggal tenang saja dulu di rumahnya. Mangan ora mangan waton kumpul katanya.
Tak lama setelah aku sampai di rumah pak Giyanto anakku datang. Pakaiannya separuh basah, katanya sedang mencuci pakaian dan mendengar aku pulang dia buru-buru datang.
Maaf, aku hentikan dulu mengetik. Aku tutup dulu pintu kamar. Tak kusadari aku menangs sendiri sesenggukan mengetik kenangan ini. Ya, aku benar-benar menangis. Sepintas berdiri di depanku ayahku Ramidjo yang tersenyum. Kowe nangis le? Mosok pejuang nangis. Aku sing adoh lor adoh kidul ora tau nangis. Teruske olehe ngetik. Songsong hari depan,
Aku tersentak dari rasa trenyuhku dan aku memang harus meneruskan ceritaku.
“Mana ibumu ?” tanyaku.
“Ibu nanti juga ke sini.” Katanya.
Kira-kira setengah jam aku berbincang-bincang dengan anakku. Dia sama sekali tidak menangis. Dia kelihatan tegar dan hatinya teguh. Aku senang melihat sikapnya. Dia benar-benar anakku dan cucu ayahku Ramidjo. Tidak mudah meneteskan air mata. Ya, aku sungguh merasa bangga waktu itu. Aku mengharapkan di kemudian hari nanti dia mau meneruskan cita-cita untuk membuat negeri ini negeri yang benar-benar gemah ripah loh jinawi. Hanya setengah jam aku bertemu dia dan dia segera pamit pulang untuk meneruskan pekerjaan rumahnya mencuci.
Aku berniat untuk berbaring di divan di sebelah meja makan. Tapi sebelum itu datang isteriku. Aku tidak mengatakan dia sebagai bekas isteriku sebab sampai detik ini pun aku belum pernah mencereikan dia walaupun waktu itu dia telah bersuamukan orang lain.
Isteriku menangis sesenggukan mukanya ditelungkupkan di lututku.
“Sudahlah”, kataku.
“Tak ada yang perlu disesalkan. Semua yang kita lakoni ini memang sudah garis hidup kita. Aku tidak menyalahkanmu yang kawin lagi dengan orang lain. Buat apa mesti ditangisi apa yang sudah lalu. Kalau bicara yang salah, akulah yang salah. Bertahun-tahun meninggalkan keluarga. Tidak memberi nafkah dan malahan membebani tugas memelihara dan mengasuh seorang anak. ‘Kan itu anak kita berdua dan yang seharusnya mengasuh dan membesarkan kita berdua. Tapi aku, tanpa pamit mengikuti polisi – e, ya kok mau-maunya digelandang polisi – padahal aku tidak mencuri, tidak berbuat kriminal.” Kataku.
Isteriku makin menangis. Tapi aku waktu itu tetap tegar. Tidak ada perasaan marah waktu itu, tapi rasa benciku kepada Suharto dedengkot orde baru itu makin mendelam dan bahkan rasa benci itu berubah menjadi mendendam.
Apakah sekarang ini, waktu mengetik ini aku masih mendendam Suharto? Jawabku tegas ‘tidak’. Aku tidak dendam dan tidak benci lagi. Rasa benci dan dendam kepada siapa pun sudah kutenggelamkan dalam-dalam ke dasar samudera perasaanku yang paling dalam melebihi dalamnya samudera mana pun.
Mengapa rasa benci dan dendam itu kutenggelamkan? Karena rasa benci dan dendam adalah bagaikan api dalam sekam yang akan membakar diri sendiri sehingga selalu merasa resah, gelisah dan tak ada rasa pasrah.
Isteriku akhirnya berhenti menangis. Kukatakan padanya soal hari depan kita nanti kita pikirkan. Aku belum bisa berfikir sekarang. Dan aku belum tahu apa yang harus kulakukan, sebab aku sekarang ini dalam keadaan sakit.
“Sudahlah.” Kataku kepada isteriku.
“Yang penting kamu mau menandatangani surat penerimaan kepulanganku. Soal yang lain nanti akan selesai dengan sendirinya. Allah maha mengetahui, dan Allah akan membimbing kita di jalan yang benar.” Kataku dengan keyakinan penuh.
Malam itu aku mulai tidur di rumah pak Giyanto. Aku tidur di ruang makan di divan yang terletak di sebelah meja makan. Kupasang kelambu yang biasa kupakai di Pulau Buru. Rupanya nyamuk Jakarta sama saja dengan nyamuk Buru. Gigitnya juga sama gatalnya hanya bedanya di Jakarta tidak ada nyamuk malaria. Aku bisa tidur nyenyak.
Beberapa hari kemudian kuketahui temanku dr. W yang sama-sama belajar di Jepang membuka praktek tidak jauh dari tempatku mondok. Sore itu aku ke kliniknya memeriksakan kesehatanku.
Akhirnya aku tetap berobat ke kliniknya.
Menurut dokter temanku itu, aku sulit disembuhkan kecuali ada mujizat lain. Aku pasrah. Kubeli kunyit, madu dan telur ayam. Setiap akan tidur kuminum air perasan kunyit dicampur kuning telur dan madu dan sedikit garam. Kutekuni jamu ini setiap akan tidur, dan dadaku selalu kugosok dengan reumason cream. Dada terasa hangat dan batuk-batuknya berkurang.
Sebulan telah berlalu dan aku merasa semakin bosan. Apa yang harus kukerjakan. Mencari pekerjaan? Aku ini bisa apa? Dan apa ada orang yang mau menerimaku bekerja dalam keadaan sakit?
Anakku datang. Dia mampir sepulangnya dari sekolah. Kutanya dia bagaimana pelajaran hari ini dan lain-lain yang berhubungan dengan pelajaran di sekolah. Dia kelihatan senang mendapat perhatian tentang pelajarannya. Akhirnya kutanya dia : “ apakah batu asahan peninggalan simbah (ayahku maksudku) masih ada? Wungkal (batu asahan) itu ada di laci lemari paling bawah.” Kataku.
Dia menjawab : “ndak tahu.”
“Ya, coba cari wungkal itu. Wungkal itu wungkal halus dan kasar” Kalau ketemu tolong bawa kemari, ya”, pintaku.
Benar, keesokan harinya anakku datang membawa sebuah batu asahan (wungkal), Wungkal itu dibawa ayahku dari Australia sebelah wungkal kasar dan sebaliknya wungkal halus. Wungkal itu sudah lumutan.
Kutanya anakku “kenapa wungkal ini lumutan begini?”
Jawabnya “ya, karena lama dipakai untuk bandulan timba mengambil air di sumur.”
“Tak apa, masih bisa dipakai”, jawabku.
Wungkal itu kubresihkan. Kucari sebuah botol kecil kuisi minyak tanah bercampur minyak kelapa. Kucari lagi sobekan-sobekan baju kaos untuk lap. Nah, lengkap sudah. Kumasukkan semuanya ke dalam tas plastik merah.
Keesokan harinya mulailah aku dengan profesi baruku menjadi pengasah gunting dan pengasah pisau, berkeliling di jalan-jalan sekitar daerah Menteng Jakarta Pusat. Hasilnya? Lumayan. Aku bisa makan tanpa harus makan di tempat pondokanku walaupun ibu Giyanto yang baik hati itu selalu menyediakan makanan untukku. Kukatakan kepada beliau tak usah menyediakan makan lagi untukku karena biasanya aku makan di rumah teman. Dan kalau aku pulang belum makan aku akan ambil sendiri.
Tiga bulan sudah berlangsung sejak aku menjalankan profesiku. Seperti biasa aku meneriakkan “asah guntung, asah pisau” berkeliling di daerah gedongan “Menteng”. Di Jalan Pekalongan di dekat rumah pak Chaerul Saleh - menteri dalam kabinet Gotong Royong Bung Karno – aku dipanggil seseorang.
O, rupanya seorang pembantu rumah tangga dengan menggandeng anak perempuan kecil. Kelihatannya seperti anak Tionghwa.
Pembantu itu menunjukkan sebilah pisau berwarna putih perak berkilat.
“Pak, tolong asah pisau ini bisa gak?” tanyanya.
“O, ini pisau sashimi. Ini masih cukup tajam”. Kataku terus terang.
“Ya, pak masih tajam. Tapi ini gompal sedikit. Apa bisa gompalnya dihilangkan?” tanyanya.
“Baiklah, tapi agak lama untuk meratakannya.” Kataku.
“Ongkosnya berapa?” tanyanya.
“Terserah, berapa saja. Saya tidak ngarani soal ongkos. Berapa sajalah, bisa baik atau tidak.” Jawabku.
Mulailah aku mengasah dengan wungkal bagian yang kasar untuk meratakan gompalnya. Setelah betul-betul rata kuasah lagi dengan wungkal bagian halus. Rata sudah dan kucoba untuk mencukur bulu kakiku. Sungguh, tajam sekali pisau itu. Aku sendiripun merasa puas melihat ketajaman pisau itu.
Tengah pembantu itu memberikan uang 500 rupiah sebuah mobil sedan TOYOTA CROWN berhenti. Seorang nyonya keluar dari mobil dan langsung menghampiri. Nyonya itu melihat pisaunya dan lalu mencobanya.
“Kore wa yoku kireru. Yokatta.” (ini tajam sekali. Syukurlah). Celotehnya.
“Sashimi wo kiru tame desu, ne?” (untuk memotong sashimi, bukan?) kataku.
“Hai, sashimi no tame desu. Nihon go dekimasu, ne.” (ya, untuk sashimi. Bisa bahasa Jepang, ya).
“Hai, dekimasu.” (ya, bisa) jawabku.
Kemudian terjadilah dialog macam-macam dengan nyonya itu. Dia Tanya tentang harga daging dan lain-lain. Di tahun 1979 waktu itu belum ada super market seperti sekarang. Biasanya orang asing membeli ikan atau daging di toko Kem Cik atau tempat-tempat belanja tertentu.
Akhirnya nyonya itu bertanya “Doko de Nihongo wo benkyou shita ka? (di mana anda belajar bahasa Jepang).
“Nihon no Waseda de benkyou shimashita”. ( di Waseda univ. di Jepang) jawabku.
“Waseda………?” nyonya itu bergumam lalu masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian nyonya itu keluar bersama suaminya. Suaminya berkata “douzo, ohairi kudasai” –silakan masuk.
Saya merasa agak malu dengan cara tuan itu mempersilakan masuk. Caranya sangat sopan sedang saya hanya seorang pengasah gunting.
Aku duduk di kursi tamu. Kemudian tuan itu memperkenalkan diri dan memberikan kartu namanya.
Dalam tulisan ini sengaja saya tidak mau menyebutkan nama tuan itu karena waktu beliau meninggakan Indonesia setahun kemudian beliau tidak mau memperkenalkan saya kepada orang Jepang lain dan berarti bahwa beliau tidak mau dikenal namanya sebagai orang yang pernah mengenal saya.
Tuan itu menanyakan mengapa saya sebagai orang yang pernah belajar di Waseda University, universitas yang sangat terkenal di Jepang dan untuk ujian masuknya sangat sulit, bekerja sebagai pengasah gunting dan pisau? Apakah pekerjaan itu dilakukan untuk coverjob sebagai intelejen? Apakah dari BAKIN?
Saya jawab, bahwa saya adalah sampah. Sampah saja masih ada nilainya sebab sampah masih bisa didaur ulang dan dijadikan pupuk. Tetapi orang-orang seperti saya adalah sampah mati, sampah yang sangat tidak berguna. Ibarat penyakit, penyakut kusta atau lepra yang siapa pun tak akan mendekat. Dan orang-orang seperti saya ini biasa dijadikan kambing hitam.
Semula tuan itu tidak juga bisa mengertri. Akhirnya saya berterus terang, bahwa saya baru tiga bulan yang lalu bebas sebagai tahanan politik dari Pulau Buru.
Mendengar keteranganku, bahwa aku adalah tapol yang dibebaskan dari Pulau Buru tuan itu bangkit berdiri. Kemudian dia membawa foto-foto dokumentasi pembebasan tapol Buru. Dia menunjukkkan sebuah foto dan menanyakan apakah aku kenal foto itu. Aku jawab, bahwa itu adalah foto ahli hukum terkenal Profesor Doktor Suprapto SH, jawabku. Berturut-turut dia menunjukkan foto Subronto K.Atmodjo, Ferdinan Runturambi dll. Semuanya memang kukenal karena kebetulan sama-sama satu unit di Unit XV Indrapura. Dan kebetulan ada foto saya sendiri yang sedang memanggul bungkusan tikar dan mengenakan caping bambu yang biasa dipakai waktu mencangkul.
“Soo ka, soo ka. Kawai-soo-da. Komatta-ne.” ( begitukah, susah, ya). Gumamnya. Kemudia dia berkata.
“Sayang, saya sudah punya asisten. Tapi begini saja. Bisa Bantu saya tiga hari dalam seminggu? Kalau mau silakan besok datang ke sini.”
Begitulah ceritanya.
Keesokan harinya aku mulai bekerja. Semula aku hanya bekerja tiga kali seminggu yaitu hari Senin, Rabu dan Jum’at. Tetapi kemudian aku bekerja penuh dalam seminggu dan hari Sabtu dan Minggu libur.
Tuan tempat aku bekerja itu sungguh berperi kemanusiaan.
Melihat aku dalam keadaan sakit dia berusaha membelikan obat-obatan dari Jepang dan memberi vitamin yang saya anggap sangat baik. Nama vitamin itu “Popon S” dan ternyata vitamin yang berisi B1, B6, B12, mineral dan unsur-unsur lainnya itu menambah daya tahan tubuh yang luar biasa.
Selain memberi vitamin berbentuk tablet, tuan itu hampir setiap makan siang mengajakku ke restoran Jepang dan aku diharuskan makan banyak makanan-makanan bergizi. Setiap pergi tugas ke luar Jakarta, ke Bali, Sumatra dan tempat-tempat lainnya aku selalu diajak serta. Kegemaranku memotret juga tersalur dan aku memang dulunya terbiasa memegang kamera film. Ketika itu film masih hitam putih dan kameranya juga cukup berat tidak seperti sekarang ini semuanya serba jadi. Tapi untunglah aku mampu dan bisa mengerjakannya, dan aku pernah ikut membuat film perjalanan Marcopolo dari ujung utara Sumatra (daerah Aceh) sampai ke Sumatra Selatan Tanjung Karang – Lampung dan sekitarnya. Pernah di daerah Sumatra Barat masuk ke hutan untuk mencari tempat tumbuhnya bunga Raflessa. Seorang di antara orang-orang Jepang yang ikut rombongan kami memotret dan mengeluarkan rol-rol film dari kotaknya. Kotak-kotak dan kertas-kertas bekas film yang sudah dipakai itu dimasukkan kembali ke dalam tas dan tidak dibuang begitu saja padahal berada di dalam hutan. Sampah-sampah kotak dan kertas-kertas itu baru dibuang di kotak sampah di hotel. Begitu hati-hatinya orang-orang Jepang itu menjaga kebersihan lingkungan.
Aku mulai punya banyak kenalan orang-orang Jepang dan mulailah aku mencari tambahan penghasilan dengan mengajar bahasa Indonesia kepada orang-orang Jepang.
Kehidupanku mulai berubah. Aku bertambah sehat. Prenghasilanku lumayan dan akhirnya aku bisa mengontrak sebuah rumah untuk 2 tahun. Aku berhasil mengumpulkan keluargaku yang berserakan.
Tinggallah kami sekeluarga, ibuku yang sudah 80 tahun, isteriku, anakku (perempuan) yang baru masuk SMA dan anakku laki-laki berumur 5 tahun dan aku. Aku beruntung mendapat seorang anak laki-laki dari isteriku yang sempat bersuamikan orang lain. Jika tidak anakku tentu hanya seorang sebab aku tidak akan mampu lagi untuk mendapatkan seorang anak pun karena akibat penyiksaan dengan stroom listrik ketika diinterogasi membuat diriku i m p o t e n yang hingga kini tak tersembuhkan.
Apa yang harus kuucapkan? Sebagai seorang muslim aku hanya bisa berucap Subhanallah. Alhamdulillahirabbilalamin.
Juga setiap selesai shalat aku selalu memanjatkan do’a agar pak Harto panjang umur dan sebagai penyebab dari semua derita yang kualami dan dialami oleh korban-korban peristiwa G30S, mau kiranya menggunakan sisa hidupnya untuk bertaubat, bukan hanya bertaubat kehadirat Allah tapi mengakui dosa-dosanya kepada Rakyat dan negeri tercinta ini dan mengembalikan harta-harta yang sudah diambilnya. Maaf, semula saya ingin memakai kata “dirampasnya” atau “dirampoknya” tapi kupikir kata-kata itu kasar dan tidak sopan dan tidak lazim dipakai di zaman Bung Karno karena melanggar kode etik jurnalistik maka kuganti dengan kata “diambilnya”.
Semoga saja pengalaman getir-pahit ini tidak terulang kembali bagi generasi kini dan selanjutnya.
Stop ! - bahasa Jepangnya TOMARE ! - segala bentuk pelanggaran HAM.
Sekian.
Tangerang, Senin Pahing 06 November 2006.
Lihat komentar selanjutnya
Komentar Anda
Nama
E-mail
Komentar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar