Sabtu, 30 Juli 2011

Bulan Ramadhan Telah Tiba.......

Akhirnya Ramadhan Datang juga.....

Seperti biasanya, pagi hari (2 hari menjelang ramadhan) secangkir kopi "produk" Kota Kotamobagu menemaniku menatap gunung Klabat yang masih kokoh berdiri yang tidak terpengaruh dengan erupsi gunung Lokon dan Soputan yang baru saja terjadi.

Dimedia cetak yang saya baca pagi ini, geliat bulan ramadhan mulai nampak dengan ditandai seruan moral yang saling bersahutan dari tokoh Agama dan organisasi Keagamaan di Sulawesi Utara untuk menjaga dan menghormati bulan Ramadhan. Seruan-seruan ini adalah hal lazim terjadi, apalagi Sulawesi Utara yang sering dijadikan barometer kerukunan agama.

Dihalaman lain dimedia yang sama, harga kebutuhan pokok naik dari biasanya, ini juga sebuah kelaziman yang kerap terjadi menjelang ramadhan maupun hari suci lainnya. Namun entah karena spirit keagamaan plus kegembiraan menyambut ramadhan yang hanya setahun sekali, naiknya harga sembako tidak menyurutkan semangat mereka yang akan berpuasa untuk pergi kepasar-pasar tradisional maupun mall-mall yang banyak bertebaran di kota Manado. Tiada tersirat wajah susah menyambut bulan ramadhan ini.

Baru separuh gelas kopi yang saya habiskan, seorang kawan mengirimkan sms yang isinya "Mentari bersinar tidak selamanya terang, rembulan bertengger tidak selamanya purnama, gembira tidak selamanya akan bahagia, benar tidak selamanya baik tapi Ramdhan akan selamanya menabur berkah bagi umat islam hingga akhir zaman. Marhaban ya Ramadhan. Mohon maaf lahir dan Batin". Sebuah kalimat yang mengingatkan saya bahwa bulan penuh berkah itu telah datang. Bulan Ramadhan dalam hukum islam diyakini sebagai bulan penuh berkah dari Allah Swt.

Dibulan Ramdhan ini umat Islam diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa, puasa yang dimaksud disini bukan hanya sekedar menahan rasa lapar dan dahaga. Tapi lebih dari itu untuk menahan hawa nafsu, dan perilaku buruk lainnya seperti menumpuk harta secara tidak sah.

Puasa bukan hanya sekedar menjalankan proses ritual tahunan, tapi untuk mengembalikan fitrah sejati manusia. Manusia yang menghargai sesamanya, manusia yang hidupnya bukan hanya sekedar memanjakan dirinya tapi juga memanusiakan orang lain. Menahan rasa lapar sejatihnya untuk lebih mengenalkan diri kita atas kehidupan mereka yang hari ini telah dimiskinkan oleh kebijakan yang salah. Yang mengherankan, setiap tahun kita menjalankan ritual tahunan ini. Tapi juga setiap tahun angka korupsi di negeri ini semakin tinggi yang berbanding lurus dengan menguatnya angka kemiskinan

Belum se-jam menerima sms tersebut. Seorang kawan dari Samarinda mengirimkan e-mail yang isinya memberitahukan telah terjadi penutupan sebuah rumah ibadah Ahmadiyah. Penutupan rumah ibadah yang dilakukan Satpol PP Pemkot Samarinda yang didukung oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan Kantor Departemen agama setempat. Saya jadi bertanya-tanya, apakah penutupan rumah Ibadah juga sudah bagian dari upaya "bersih-bersih" menjelang ramadhan atau jangan-jangan penutupan rumah ibadah ini adalah "jalan pintas" untuk menuju Surga.

Setahu saya, bulan puasa adalah bulan yang disediakan oleh Allah swt untuk menjadi manusia Terlepas dari rasa kebencian terhadap sesama. Juga menurut sejarah yang saya ketahui kegiatan tutup-menutup rumah ibadah yang tidak seiman tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhamad SAW. Pertanyaanya, Kenapa kita tidak pernah mencoba sedikit saja untuk belajar mengikuti sifat-sifat pemaaf dan penuh kasih yang dimiliki oleh Rasulullah.

Seharusnya, bila kelompok lain, semisal Ahmadiyah dianggap "menodai" ajaran yang kita yakini selama ini. Dibulan puasa ini dijadikan ajang untuk memperkuat keimanan itu. Saya masih meyakini, bahwa seorang muslim yang benar, bila terjadi penyimpangan agama plus degradasi moral umat sebaiknya mengoreksi dan instropeksi diri sendiri bukan kemudian mengkambing-hitamkan pihak lain apalagi harus melakukan tindakan kekerasan

Islam yang kuyakini selama ini, adalah agama yang membawah rahmat dan kedamaian bagi seluruh mahluk hidup yang dimuka bumi. Bila kita bersepakat tentang nilai itu, adalah hal yang layak kita mulai meninggalkan upaya kekerasan dan juga tindakan penghakiman kepada kelompok lain.

Biarkanlah mimpi-mimpi untuk masuk surga tetap menjadi mimpi semua ciptaan Tuhan, dan biarkan juga Tuhan menentukan siapa yang lebih berhak untuk masuk dalam Surga. Juga biarkan kebenaran mutlak itu tetap menjadi Hak Allah, tidak kemudiam berpikir untuk mrngambil alih hak itu. Karena ketika kita mulai berpikir untuk mengambil alih hak Allah itu, maka kita sejatihnya sementara keluar dari hakikat bahwa Islam itu; pembawah rahmat dan pembawah keselamatan bagi makhluk hidup dimuka bumi.

Semoga saja dibulan Ramadhan ini, yang sebentar lagi kita lakoni, akan menjadikan kita sebagai manusia yang penuh kasih, dan juga manusia yang mau menghormati ciptaan tuhan lainnya dan menanggalkan segala bentuk amarah dan kekerasan. Selamat menjalankan ibadah puasa, mohon maaf lahir dan batin dari Anton Miharjo dan keluarga.

Tidak ada komentar: