Jumat, 04 November 2011

PENDEKATAN KEAMANAN MATIKAN DEMOKRASI DI PAPUA

Oleh M. Ananto Setiawan* Peristiwa penembakan dan penangkapan massal terhadap ratusan orang yang menghadiri Kongres Rakyat Papua III kembali merenyuhkan hati kita. Menurut beberapa sumber, tercatat sedikitnya 6 orang tewas dalam peristiwa tersebut dan sekitar 300-an orang ditangkap pasca pembubaran kongres siang itu. Tank lapis baja, panser, dan pasukan bersenjata kembali menghiasi jalan-jalan di bumi cendrawasih pasca kongres. Tak hanya itu, pihak keamananpun menyisir sejumlah tempat dan mess mahasiswa yang diduga menjadi tempat persembunyian aktivis kemerdekaan Papua tersebut. Situasi kian mencekam, karena sepanjang hari terus terdengar suara letusan senjata api dari berbagai arah. Pasca peristiwa tersebut Kapolda Papua mengeluarkan statemen akan melibas semua orang yang diduga terlibat dengan tindakan makar tersebut. Kengerian menggelanyut, bukan hanya di hati Rakyat Papua, tetapi juga bagi kita Bangsa Indonesia. Pada kongres yang dilaksakan tanggal 17-19 Oktober tersebut Rakyat Papua membahas langkah-langkah mereka untuk menegakkan kedaulatan hak-hak dasar Rakyat Papua, termasuk hak mereka untuk merdeka. Hak untuk merdeka dari berbagai siksaan yang selama ini terus menghantui Rakyat Papua pada umumnya. Namun hal inilah yang kemudian dijadikan alasan pihak keamanan (TNI/Polri) untuk membubarkan kongres, yang sebenarnya juga telah selesai 15 menit sebelum pembubaran paksa oleh pihak keamanan. Lebih jauh, pihak keamanan menyatakan ada indikasi makar dalam kongres tersebut, melalui pengibaran bendera dan pendeklarasian Negara Papua. Matinya Iklim Demokrasi di Papua Sungguh disayangkan, pemerintah dan pihak keamanan lebih mengutamakan pendekatan represif dalam menjawab berbagai persoalan di Papua dan pada akhirnya juga turut memakan korban jiwa. Pihak keamanan yang diterjunkan di Papua pun lebih menggunakan logika perang dari pada pendekatan kemanusian yang seharusnya dapat mereka lakukan. Pendekatan keamanan yang selalu dilakukan oleh pihak keamanan tersebut hanya semakin memperburuk keadaan di Papua dan mematikan iklim demokrasi di tanah cendrawasih. Hal ini terlihat karena penyelesaian masalah yang seharusnya dapat ditempuh melalui jalan dialog tak pernah terwujud, bahkan pemerintah terutama pihak keamanan lebih mengedepankan pendekatan keamanan yang bersifat represif dan mengenyampingkan persoalan-persoalan utama yang sebenarnya menjadi tuntutan Rakyat Papua. Logika Damai untuk Papua Berbagai persoalan yang terjadi di Papua seharusnya menjadi perhatian yang serius dari pemerintah Indonesia, apabila menginginkan Papua tetap menjadi bagian dari NKRI. Tentunya dengan mengedepankan jalan damai/dialog dan bukan secara terus-menerus menempatkan persoalan Papua sebagai permasalahan keamanan. Hal ini sebenarnya yang sangat diinginkan Rakyat Papua sebagai bangsa yang bermartabat. Penarikan personel keamanan dan TNI non-organik sudah seharusnya dilakukan pemerintah, mengingat sudah terlalu banyaknya jumlah pasukan yang dikirim ke tanah cendrawasih. Karena sejatinya penempatan pasukan yang sedemikian banyak itu tentu sangat akan mengganggu iklim demokrasi yang sedang dibangun ditanah Papua, yang juga telah menjadi penyebab utama membaranya (lagi) Tanah Papua. Persoalan kesejahteraan dan keadilan sudah seharusnya menjadi perhatian utama pemerintah hari ini dalam melihat permasalahan Papua, yang memang bukan permasalahan keamanan. Dialog harus ditempatkan sebagai kunci utama permasalahan di Papua. Pendekatan-pendekatan yang lebih bermartabat ini sudah barang pasti akan lebih efektif apabila dibandingkan dengan pendekatan keamanan yang selalu diutamakan pemerintah di Jakarta. Dengan duduk bersama dan dialog, pemerintah tentunya akan lebih mengetahui persoalan-persoalan sebenarnya di Papua yang hasilnya nanti dapat dijadikan kunci penyelesaian dari permasalahan Papua selama ini. Hal ini seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah, dalam upayanya untuk terus memperbaiki keadaan di Papua. Terlebih melihat kerja-kerja pengamanan negara yang di dalamnya terdapat 240 juta jiwa, dan bukan hanya terdiri dari segelintir orang atas nama kekuasaan. * Penulis adalah aktivis Sahabat Munir, sekaligus Anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul jabodetabek. (dikutip dari portal Prakarsa Rakyat atau www.prakarsa-rakyat.org).

Selasa, 01 November 2011

Abdullah Al Kudus: Menghijaukan Gunung Lemongan

Abdullah Al Kudus: Menghijaukan Gunung Lemongan Abdullah Al Kudus berbicara dengan tenang. "Saya pengangguran secara ekonomi," kata warga Desa Klakah, Kecamatan Klakah, Lumajang, Jawa Timur, ini. Meski pengangguran, pria kelahiran 1974 ini sangat sibuk. Kegiatannya seabrek. Salah satunya, bersama Laskar Hijau, yang dia bentuk tiga tahun lalu, ia melakukan konservasi Gunung Lemongan di Lumajang. Dan kegiatan tersebut membuatnya mendapat penghargaan Satu Indonesia Award yang diselenggarakan Astra International dan didukung Tempo Institute tahun lalu. Mimpinya adalah Gunung Lemongan kembali hijau. Di gunung ini terdapat sekitar 6.000 hektare yang berkategori kritis. Dampaknya, ketersediaan air di sembilan danau yang ada di sekitarnya menurun. Selain itu, bencana tanah longsor dan banjir mengancam warga sekitar. Banyak tantangan dia hadapi dalam proyek tersebut. Misalnya saja, selama musim kemarau beberapa bulan terakhir ini, lahan konservasi seluas sekitar 100 hektare yang baru ditanami musnah terbakar. Namun ia dan Laskar Hijaunya tak putus semangat. "Ya, kami tanami kembali," katanya. Selain itu, kesadaran masyarakat yang masih rendah tentang lingkungan menjadi tantangannya. Banyak masyarakat masih membuka lahan dengan cara membakar. Ada pula yang masih melakukan pembalakan liar. Namun ia tak menyalahkan warga karena mereka masih dililit problem ekonomi. Namun ia dan Laskar Hijau tak lelah berkampanye kepada warga. Hasilnya positif. Warga mulai bisa diajak bekerja sama dalam pembibitan tanaman. "Saat ini kami tidak pernah kekurangan bibit. Malah tenaganya yang kurang," ujarnya. Bibit yang ditanam di lahan konservasi itu pun merupakan swadaya masyarakat. Hingga kini, belum semua lahan kembali hijau. Jalan masih sangat panjang bagi Abdullah dan tim Laskar Hijaunya. "Setidaknya perlu 20 tahun," ucapnya. Sebelumnya, ia bersama masyarakat sekitar Ranu (Danau) Lemongan dan siswa Sekolah Rakyat Merdeka, yang dia didirikan, telah berhasil menghijaukan kawasan mereka. Kawasan tersebut rusak akibat pembalakan liar yang merebak pada 1998-2002. Namun kegiatan Abdullah tak hanya di sektor lingkungan. Bapak tiga anak ini juga memiliki seabrek kegiatan lain, dari sosial hingga budaya, termasuk mendirikan Solidaritas Buruh Migran Indonesia. Abdullah Al Kudus bukan sekadar seorang pengangguran. DAVID PRIYASIDHARTA Koran Tempo, 30 Oktober 2011 korantempo.com ---------------------------------------------------------------- This message was sent using IMP, the Internet Messaging Program.

Selasa, 16 Agustus 2011

Kemerdekaan Yang Ternoda(2)

Kemerdekaan yang Ternoda (2)
Oleh Anton Miharjo

Seperti tradisi tahun sebelumnya, selasa16 Agustus siang, Presiden SBY membacakan pidato kenegaraan. Pidato SBY kali ini sangat ditunggu oleh publik, karena pidato tersebut dilakukan disaat hiruk-pikuk elite politik hampir mencapai puncaknya, apalagi dua hari sebelumnya, Nazaruddin, buronan interpol, berhasil dibawah pulang ke Indonesia.

Pidato ini penting karena masih banyak PR yang menumpuk dipundak SBY. Seperti Wabah korupsi yang makin luas, kebebasan beragama yang tergerus, Papua yang lagi membara, kasus Pelanggaran HAM yang belum terselesaikan, pembahasan UU jaminan sosial dan yang paling teranyar krisis utang Amerika Serikat yang katanya berpotensi berimplikasi ke krisis ekonomi dunia.

Pidato kenegaraan sehari menjelang peringatan hari kemerdekaan, sepertinya sudah menjadi tontonan wajib bagi para abdi negara dan para politisi-politisi didaerah. Biasanya, digelar rapat "nonton bareng" untuk mendengar pidato kenegaraan tersebut. Seorang teman, dengan setengah berkelakar, mengatakan nasionalis-tidaknya seorang anggota DPRD diukur dari kehadiran dalam rapat "nonton bareng" itu.

" Tahun 2012, Kita tetapkan 11 prioritas nasional, yaitu: reformasi birokrasi dan tata kelola; pendidikan; kesehatan; penanggulangan kemiskinan; ketahanan pangan; infrastruktur; iklim investasi dan iklim usaha; energi; lingkungan hidup dan pengelolaan bencana; daerah tertinggal, terdepan, dan pasca-konflik; serta kebudayaan, kreativitas, dan inovasi teknologi," kata Presiden SBY dalam pidatonya yang disiarkan secara langsung Media Televisi.

Salah satu hal yang luput diprioritaskan oleh SBY dalam pidatonya kali ini, adalah masalah penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM dan juga gejolak di tanah Papua. Laporan Kontras menyatakan bahwa dalam 2 bulan terakhir ini ada 8 kekerasan di papua yg melibatkan militer dan para militer. Belum lagi proyek Mifee di Merauke Papua yg oleh WALHI dinyatakan sbg proyek yg melanggar HAM. Setahun yg lalu Presiden SBY bahkan sudah menyatakan akan segera menyelesaikan masalah Papua dengan melakukan komunikasi konstruktif dengan rakyat Papua, tapi sampai sekarang masalah di Papua tak kunjung selesai.

Belum lagi dengan kasus-kasus pelangggaran HAM berat lainnya, seperti kasus pembunuhan Munir, kasus penghilangan aktivis menjelang reformasi, dan kasus-kasus pelanggaran HAM berat lainnya yang sampai sekarang belum ada penyelesaianya. Maka tidak heran kemudian, Kontras hari ini menyerahkan ribuan surat dari seluruh daerah tentang sebuah harapan penyelesain kasus-kasus kekerasan dan pelanggaran HAM di Indonesia. Maka tidak heran kemudian dikalangan aktivis melakukan aksi penaikan bendera setengah tiang menyambut hari kemerdekaan.

Hal yang menarik dari pidato nota keuangan APBN tahun 2012, adalah rencana kenaikan 10% gaji PNS, TNI dan Polri. Pastinya, kabar gembira bagi abdi negara yang bergaji rendahan. Tapi juga rencana kenaikan gaji ini, biasanya akan selalu diikuti dengan kenaikan harga kebutuhan pokok. Olehnya, hal yang lebih penting diutamakan pemerintah adalah menekan semampunya pergerakan harga kebutuhan pokok, karena bila hal ini tidak lakukan maka kabar gembira itu tak akan punya nilai.

Pada materi pidato lainnya, SBY juga menjanjikan peningkatan kualitas dan jangkauan pemerataan pendidikan. Dalam pidatonya, SBY menyatakan alokasi dana untuk pendidikan sebesar Rp 286,6 triliyun rupiah, anggaran kemendiknas itu berada dikisaran 20% dari total APBN 2012. Presiden mengatakan, alokasi anggaran pendidikan juga tetap diprioritaskan untuk memberikan Bantuan Operasional Sekolah atau BOS bagi 31,3 juta siswa setingkat SD dan 13,4 juta siswa setingkat SMP; serta menyediakan beasiswa bagi lebih dari 8 juta siswa miskin pada semua jenjang pendidikan.

Kita semua berharap, keinginan Pemerintah untuk meningkatkan kualitas dan pemerataan pendidikan terwujud. Dalam artian pungutan liar menjelang masuk sekolah tidak lagi menjadi beban tersendiri. Bahwa sudah menjadi rahasia umum, meski sudah dilarang, beberapa sekolah masih saja memberikan beban kepada siswa yang baru masuk sekolah berupa uang bangku, baju seragam sekolah dan embel-embel lainnya.

Tentunya harapan-harapan itu akan terwujud bila pada operasinalnya dana-dana pendidikan tbut dapat digunakan sebagaimana mestinya, kita juga berharap penyalagunaan dana BOS tidak lagi terdengar, seperti yang kerap terjadi daerah, misalnya kasus penyalahgunaan dana pendidikan di Kota Manado, yang sampai hari ini tidak jelas akhir kisahnya.






Minggu, 14 Agustus 2011

Surat Selamat Tinggal Kepada Fidel Castro Dari Che Guevara

Surat Selamat Tinggal Kepada Fidel Castro

Che Guevara (1965)

Surat ini dibacakan oleh Fidel Castro pada tanggal 3 oktober 1965, pada rapat terbuka yang mengumumkan Komite Sentral Partai Komunis Kuba yang baru terbentuk dengan dihadiri oleh istri Guevara dan anak-anaknya, Castro menyatakan:  

"Saya hendak bacakan sebuah surat, yang ditulis tangan dan kemudian diketik, dari kawan Ernesto Guevara, yakni penjelasan diri ....Tertulis demikian: 'havana' --tanpa tanggal, surat yang musti dibacakan pada kesempatan yang amat baik, namun sesungguhnya dibuat pada tanggal 1 April tahun ini."

Pembacaan, surat ini merupakan penjelasan terbuka pertama kali sejak guevara tidak pernah nampak lagi di Kuba.

Havana,
Tahun Pertanian


Fidel:

Pada saat ini aku teringat banyak hal --ketika aku pertama kali bertemu denganmu di rumah Maria Antonia, ketika kau mengusulkan aku untuk ikut serta, seluruh ketegangan terlibat dalam persiapan itu.(peperangan/gerilya melawan Batista, pent) 

Suatu ketika ketegangan-ketegangan itu akan menghampiri kita lagi dan menagih nyawa kita, dan kemungkinan nyata dari fakta itu memukul kita semua. Di kemudian hari tahulah kita bahwa itu benar, bahwa dalam revolusi salah satu pihak akan menang atau mati (bila itu benar revolusi). Banyak kawan yang berjatuhan sepanjang jalan menuju kemenangan.

Saat ini segala sesuatunya tidak lagi terlalu dramatis, karena kita lebih matang. Namun kejadian-kejadian kembali terulang. Aku merasa bahwa aku telah memnuhi kewajibanku yang mengikatkan aku pada revolusi Kuba,secara teritorial, dan kuucapkan selamat berpisah padamu, pada rakyatmu, yang sekarang rakyatku juga.

Secara resmi aku mengundurkan diri dari kedudukan dalam kepemimpinan nasional partai, kedudukan, sebagai menteri, pangkat komandanku, dan kewarganegaraan Kuba-ku. Tak ada yang legal yang mengikatku dengan Kuba. Satu-satunya ikatan adalah hal lain --ikatan yang tak bisa diputuskan seperti pemberhentian seseorang dari sebuah jabatan.

Merenungkan kehidupan masa laluku, aku yakin aku telah bekerja dengan cukup jujur dan pengabdian untuk mengkonsolidasikan kejayaan revolusioner. Satu-satunya kesalahanku yang serius adalah tidak punya kepercayaan yang besar padamu saat pertama di Sierra Maestra dulu, dan tidak segera yakin akan kualitasmu sebagai seorang pemimpin dan seorang revolusioner.  

Hari-hari kehidupanku kulewati dengan indah di sini, dan di sisimu aku merasa bangga memiliki rakyat yang demikian tangguh menghadapi saat-saat penuh penderitaan dalam krisis Karibia.

Jarang sekali ada negarawan yang lebih ulung darimu menghadapi saat-saat seperti itu. Akupun bangga mengikutimu tanpa keraguan, mengidentifikasikan dengan jalan pikiran,pandangan,perhitungan menghadapi bahaya, dan prinsip-prinsipmu. Kali ini bangsa-bangsa lain mengharapkan sumbangsihku. Dan aku bisa melakukannya tanpa mengikutsertakanmu karena tanggung jawabmu yang besar sebagai pimpinan kuba, dan tibalah saatnya bagi kita untuk berpisah.

Ketahuilah, bahwa aku melakukan tugas ini dengan campuran perasaan bahagia dan sedih. Kutinggalkan di sini harapan-harapanku yang paling murni sebagai seorang pembangun dan seluruh ketulusanku yang paling dalam.Kutinggalkan orang-orang yang telah menganggapku anak. Itu semua sesungguhnya menimbulkan luka yang dalam bagiku.Akan kubawa ke medan juang baru segala hal yang kau ajarkan padaku, semangat revolusioner rakyat kita, perasaan untuk memenuhi kewajiban yang amat suci: berjuang menentang imperialisme dimanapun ia adanya. Ini yang akan mengobati dan  mengeringkan luka di jiwaku.

Kunyatakan sekali lagi bahwa aku melepaskan Kuba dari tanggung jawab apapun juga, kecuali teladan-teladan yang diberikannya. Kalau saja saat-saat akhir hayatku aku berada di bawah langit lain, pikiranku yang terakhir adalah tentang rakyat Kuba dan terutama tentang dirimu. Aku amat berterima kasih atas ajaran-ajaranmu, teladan-teladanmu, dan aku akan memegangnya hingga konsekuensiku yang paling akhir dari tindakanku.

Aku selalu mengidentifikasikan diri dengan kebijaksanaan luar negeri dari revolusi kita, dan akan meneruskannya. Dimanapun aku berada, aku akan merasa bertanggung jawab terhadap revolusi Kuba, dan aku kan menjaganya. Aku tak merasa malu bahwa aku tak meninggalkan kekayaan materi untuk anak-anak dan istriku; aku bahagia dengan cara seperti itu. Aku tak memintakan apapun untuk mereka, karena negara akan mencukupi kebutuhan hidup dan pendidikan untuk mereka.

Aku ingin mengatakan banyak hal padamu dan pada rakyat kita, namun aku merasa hal itu tak perlu. kata-kata tak akan mampu mengekspresikan apa yang ingin kuungkapkan itu, dan kupikir tak ada manfaatnya untuk membuat coretan lebih banyak lagi di sini.

Hasta la victoria siempre! (Maju terus menuju kemenangan)
Patria o muerte! (Tanah air atau mati)
Kupeluk kau dengan sepenuh semangat revolusionerku.

Che

Karya-karya Che Guevara |

Jumat, 12 Agustus 2011

Puisi Untuk Indonesia

Seharian ini saya mencoba membaca puisi-puisi dari para penyair yang kesohor. Dari semua karya itu, saya menemukan sebuah puisi dari Kahlil Gibran. Puisi ini setidaknya bisa mengambarkan Indonesia hari ini. Baik dari elite politiknya,Alim Ulamanya,seniman dan rakyatnya. Selamat menikmati puisi dari sang penyair kesohor itu


BANGSA KASIHAN

Kasihan bangsa yang memakai pakaian yang tidak ditenunnya,
memakan roti dari gandum yang tidak dituainya
dan meminum anggur yang tidak diperasnya

Kasihan bangsa yang menjadikan orang bodoh menjadi pahlawan,
dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah.

Kasihan bangsa yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur, sementara menyerah padanya ketika bangun.

Kasihan bangsa yang tidak pernah angkat suara
kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan,
tidak sesumbar kecuali di runtuhan,
dan tidak memberontak kecuali ketika lehernya
sudah berada di antara pedang dan landasan.

Kasihan bangsa yang negarawannya serigala,
falsafahnya karung nasi,
dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru.

Kasihan bangsa yang menyambut penguasa barunya
dengan trompet kehormatan namun melepasnya dengan cacian,
hanya untuk menyambut penguasa baru lain dengan trompet lagi
Kasihan bangsa yang orang sucinya dungu
menghitung tahun-tahun berlalu
dan orang kuatnya masih dalam gendongan.

Kasihan bangsa yang berpecah-belah,
dan masing-masing mengangap dirinya sebagai satu bangsa
+++++++++kAHLIL GIBRAN

Minggu, 07 Agustus 2011

Netralitas Birokrasi Menjelang Pilkada Kabupaten Sangihe

Tak terasa sudah prosesesi Pilkada Sangihe semakin dekat, yang ditandai dengan makin sibuknya para kontestan yang akan bertarung. Menarik untuk disimak dan dianalisis, karena bagaimanapun hasil akhir dari prosesi Pilkada tersebut akan berdampak langsung pada ruang hidup masyarakat di Sangihe dalam 5 tahun kedepan.
Wacana Pilkada Sangihe terus bergulir dan santer dibicarakan oleh semua pihak, mulai dari penetapan tanggal penjoblosan yang kontroversial oleh KPUD sampai pada topik siapa yang akan menang dan siapa yang kalah dalam pertarungan tersebut, apakah Calon A atau Calon B?. Para kontestan Pilkada, tim sukses sampai pada kelompok pengembira sibuk melakukan kalkulasi dan geriliya politik, berbagai kamus politik entah itu rasional atau irasional dijadikan sumber analisis untuk memenangkan pertarungan.
Kalau kita bercermin pengalaman Pilkada dibeberapa daerah di Indonesia, tidak semua daerah yang telah melakukan Pilkada berakhir dengan kemenangan demokrasi atau kedaulatan rakyat dalam arti yang sesungguhnya. Yakni adanya perbaikan hak-hak publik disemua sektor kehidupan, yang terjadi justru sebaliknya; angka korupsi masih sangat tinggi, kemiskinan makin menguat dan pengangguran semakin tak terbendung, itulah realitas politik yang terjadi ketika sebuah Pilkada dilakukan dengan mengabaikan subtansi demokrasi.
Seharusnya Pilkada mempunyai 3 hal penting jika ingin disebut sebagai lembaga strategis dalam kehidupan demokrasi lokal. Pertama Pilkada menyediakan ruang kepada rakyat sebagai kesempatan untuk mengejawantahkan mandat institusional langsung. Mandat yang sering disebut sebagai kedaulatan rakyat tersebut sangat penting dalam demokrasi, karena demokrasi tanpa melibatkan rakyat dalam semua proses hanyalah oligarkie.
Kedua, Pilkada menyediakan kesempatan bagi perubahan politik secara damai melalui sirkulasi elite dan atau peneguhan komitmen baru. Yang kemungkinan lahirnya kebijakan politik baru yang lebih pro rakyat. Ketiga, Pilkada memberi kesempatan kepada rakyat untuk menjadi penentu atas kontestasi, kompetisi dan rivalitas politik serta pilihan nilai yang menentukan nasib mereka hingga Pilkada berikutnya.
Dengan Pilkada setidaknya bisa mengurangi dampak negative yang bisa mendistorsi tujuan mencapai tata pemerintahan demokratis, transparan dan bertanggung-jawab sekaligus untuk membangun dan meningkatkan kapasitas masyarakat dengan cara menumbuhkan civic engagemen. Dengan cara ini masyarakat mengembangkan kepeduliannya terhadap masalah-masalah sosial ekonomi dan politiknya. Pada titik ini, syarat utama terjadinya demokrasi yang subtantif adalah peran civil society.
Seharusnya Civil society (masyarakat sipil) dalam konteks Pilkadal baik dalam konteks formal maupun informal tidak bisa lagi menjadi alat pengabsah kekuasaan. Civil Society tidak semestinya dilumpuhkan oleh kekuatan apapun, apalagi sampai terlena dengan adanya janji-janji Politik, money politik atau pengunaan simbol-simbol primodialisme oleh para elite politik.
Pilkada sangat menuntut kesiapan civil society untuk mengartikulasikan kepentingan-kepentingannya, sehingga bentuk dan sikap politik yang diambil adalah cerminan dari kebutuhan yang ingin diwujudkan. Dengan adanya Posisi yang jelas dari civil society akan melahirkan figur kepala daerah yang diinginkan secara benar dan tepat serta bisa mempertanggungjawabkan apa yang dikampanyekan.
Harus diakui realitas civil society dinegara ini cukup buram, ada kecenderungan civil society hanya dijadikan obyek untuk melapangkan jalan bagi kekuasaan oligarki. Singkatnya ada fenomena dimana civil society melumpuhkan dirinya sendiri ( a Self crippling entity). Bila hal ini terjadi didalam sebuah proses demokrasi seperti Pilkada, maka hampir dapat dipastikan Pilkada yang menghabiskan dana rakyat miliaran rupiah hanya akan berbuah pada peneguhan kesengsaraan rakyat selama 5 tahun. Yang berujung pada plesetan oleh sebagian orang bahwa reformasi menjadi ‘repotnasi’ menemui kebenaran.
Melemahnya kekuatan civil society, nampaknya dimanfaatkan secara jeli oleh para elite politik untuk mendulang dukungan. Bukanlah hal yang asing lagi, setiap calon kerap memanifulasi simbol-simbol primodial, baik kewilayahan, etnis, sub kultur maupun agama. Hal ini bisa menjadi stimulus bentrokan karena sebagian pemilih pada akhirnya mengunakan sentimen ini untuk menentukan pilihannya.

Netralitas Birokrasi
Peran birokrasi lokal dalam pemilihan pimpinan daerah (pilkada) secara langsung di beberapa daerah merupakan isu crucial yang patut dicermati. Masalahnya adalah apakah birokrasi lokal dalam pilkada akan menunjukkan sikap yang netral atau justru sebaliknya berpihak atau terpolitisasi oleh kepentingan partai politik dan pihak pemodal.

Sejarah politik Indonesia menunjukkan bahwa birokrasi senantiasa tidak ditempatkan pada posisi, fungsi dan perannya sebagai sebuah organisasi yang mengurus negara secara profesional. Hal ini bisa ditelusuri sejak masa sebelum kolonial Belanda sampai era Orde Baru pimpinan Soeharto. Di era Orde Baru, misalnya, birokrasi senantiasa terlibat dalam mendukung partai tertentu di pemilu. Birokrasi juga ditempatkan sebagai alat bagi kepentingan penguasa untuk mempertahankan kekuasaanya. Peran birokrasi sangat menonjol seiring dengan melemahnya peran partai politik dan parlemen. Sentralisasi kekuasaan didukung penuh oleh sistem birokrasi yang otoritarian. Secara politik, birokrasi dijadikan sebagai pembina partai politik. Secara ekonomi, birokrasi digunakan untuk menopang jalannya pembangunan ekonomi nasional. Sebagai hasilnya, proses demokratisasi terhambat – dimana kesadaran rakyat akan hak politiknya rendah – dan partai politik tidak berperan sebagaimana partai politik di negara demokratis.

Dalam negara yang demokratis, birokrasi tidak terlibat dalam politik. Karena birokrasi menempatkan dirinya sebagai institusi yang profesional dan netral. Demokrasi dan birokrasi adalah saling berkaitan. Proses demokratisasi lokal yang berlangsung sejak 2001 diharapkan bisa mendorong reformasi birokrasi lokal. Sebaliknya, reformasi bitrokrasi lokal juga diharapkan akan memperkuat proses demokratisasi lokal. Idealnya reformasi birokrasi akan menjadikan institusi ini netral, lebih transparan, dapat dipertanggungjawabkan dan aspiratif. Dalam konteks pilkada, netralitas birokrasi sangat diperlukan agar pimpinan daerah yang terpilih benar-benar sesuai dengan aspirasi rakyat, kompeten, dan memiliki integritas.

Bila melihat apa yang terjadi menjelang Pilkada Sangihe, ada hal yang tak dapat diabaikan begitu saja. Entah itu namanya instruksi, mobilisasi atau spontanitas tapi yang jelas birokrasi mulai terlibat atau lebih tepatnya dikatakan dilibatkan dalam upaya dukung-mendukung terhadap calon tertentu, yang konon katanya akan mengangkat kesejahteraan para birokrasi. Nampaknya, para abdi negara ini lupa tentang adanya larangan untuk terlibat memberikan dukungan atau fasilitas terhadap calon tertentu. Untuk itu selain tindakan tegas yang diperlukan untuk mengakhiri persoalan ini, juga sangat dibutuhkan kedewasaan berpolitik para kontestan Pilkada. Karena dampak negative dari pelibatan PNS, bukan hanya menghasilkan Pilkada yang tidak fair tapi akan melahirkan kondisi birokrasi yang tidak solid, profesional,dan terkotak-kotak yang ujung-ujungnya akan mengakibatkan menurunnya kualitas kinerja birokrasi dalam memberikan pelayanan.


Pada akhirnya kita semua berharap; Rakyat Sangihe bisa menentukan pilihan politiknya yang tepat, maju mundurnya Kabupaten Minahasa akan sangat ditentukan dalam Pilkada pertama kali ini, dan kesemuanya ini sangat tergantung kemampuan dan kejelian masayarakat sebagai pemegang penuh kedaulatan dalam menentukan pilihan politiknya.
++++++++++++++

Kamis, 04 Agustus 2011

Kemerdekaan yang Ternoda

Kemerdekaan yang Ternoda
Hari ini disebuah tempat dipusat perbelanjaan kota Manado. Istrahat sejenak sembari menunggu datangnya waktu buka puasa. Perlahan tapi pasti, sinar matahari mulai berangsur sirna menuju peraduannya. Saat pikiran mulai menemui jalan buntu, seorang pedagang koran mendekatiku dan menawarkan koran yang dibawahnya.

"Bang beli koran, Anggie diperiksa DK Demokrat", ujarnya meyakinkan. Untuk menemani dari kepenatan, saya membeli koran tersebut. Sejurus kemudian, saya mulai terhanyut dengan berita dimedia tersebut. Mata saya mempelototi upaya bersih-bersih ala Demokrat yang dilakukan selepas rakernas beberapa waktu lalu. Memang dalam dua bulan terakhir dihampir semua media massa kita mendengar, membaca dan melihat kisruh partai penguasa itu

Dihalaman lain dari koran yang saya beli. Berita menyambut hari kemerdekaan mulai nampak. Sejumlah kegiatan mulai dirancang disana- sini. Suatu hal yang pasti seperti tahun-tahun sebelumnya, gerak jalan, bola volly, panjat tebing sampai panjat pinang akan menjadi kegiatan yang utama dalam menyambut hari kemerdekaan.

Meski tidak ada data ilmiah yang menyatakan tentang menguatnya sikap nasionalisme dikarenakan sejuta kegiatan yang digagas menjelang hari kemerdekaan, tapi kegiatan-kegiatan itu sudah menjadi kelaziman. Menurut mereka yang kerap menjadi panitia kemerdekaan itu, kegiatan yang digagas bermakna menjaga sikap patriotisme dan untuk mengingatkan arti kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh mereka yang hidup ditahun 1940-an.

Dalam banyak definisi, kemerdekaan diartikan; lepas dari penjajahan, bebas dari perbudakan, bebas dari rasa takut, bebas menyatakan pendapat, berorganisasi dan bebas menjalankan keyakinan sebagaimana yang diyakini. Tentunya makna merdeka itu negaralah yang harus memastikan, apalagi kalau kita merujuk ke Undang-undang dasar itu.

Tapi bila memperhatikan berita dari koran yang saya baca, nampaknya kemerdekaan bisa juga disimpulkan kebebasan untuk melakukan penyuapan, juga bermakna kebebasan untuk mengambil uang negara. Karena sampai saat ini mereka yang telah nyata- nyata dinyatakan bersalah masih bebas berkeliaran disana-sini. Lihat saja Nazaruddin dengan bebasnya mengeluarkan nyanyiannya, tanpa ada upaya yang sungguh-sungguh mencari keberadaannya. Belum lagi, mereka yang dituduh oleh Nazaruddin yang juga dikuatkan oleh kesaksian sopir dan para pengawal Nazar itu masih bebas menikmati kemerdekaan itu, tanpa ada niatan untuk diperiksa.

Cerita yang kontras dalam hal urusan curi-mencuri dinegeri yang merdeka ini, dialami oleh Supriyatun, janda anak lima itu, yang tinggal dirumah setengah gubuk berukuran 5 X 10 meter di kecamatan Mojoroto, Kediri Jawa Timur. Hanya karena mencuri beras 10 kilogram beras guna meyambung hidup dan anak-anaknya. Harus terancam hukuman bui, dan sampai saat ini harus menjalani wajib lapor di kepolisian setempat. Inilah keajaiban hukum dinegeri merdeka, tajam bagi mereka yang miskin dan tumpul bagi mereka yang berkuasa.

Bila kita merefleksikan perjalanan kemerdekaan yang sudah berumuran tua itu. Dalam hal kebebasan beragama, nampaknya tidak akan pernah dipenuhi oleh negara. Ditanah merdeka ini, masih banyak orang-orang menjalankan keyakinannya secara sembunyi-sembunyi, takut dianggap melecehkan keyakinan mayoritas, seperti yang dialami oleh pengikut Ahmadiyah. Hal yang sama juga dialami oleh Jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin, yang sekota dengan SBY di kota Bogor. Sampai saat ini tidak bisa menjalankan ibadahnya hanya karena terhalangi alasan sepele yang bertajuk IMB.

Memang tidak semua, mengalami hal mengenaskan ditanah merdeka ini. Dirumah kopi, tempat dimana saya melepaskan kepenatan. Sang pemilik dengan santainya,tanpa dibebani rasa ketakutan menghitung keuntungan yang diraihnya, sembari memperhatikan para pelayan melayani para pengunjung dengan penuh kehangatan. Setelah hilang kepenatan, juga jam di dinding warung kopi ini menunjukan saatnya buka puasa. Segera saya pesan air mineral dan kopi hangat, selanjutnya melepaskan rasa dahaga yang sedari siang mengerogoti leher.

Sejam kemudian, saya meninggalkan warung kopi itu. Guna mempersingkat waktu mencapai jalan utama Samrat, juga menghindar dari kemacetan yang sudah menjadi kelaziman di kota Manado. Saya melalui gang sempit, disamping SPBU Boulevard yang masih sibuk berjibaku melayani antrian panjang dari para pemilik kendaraan bermotor.

Melalui jalan sempit itu, seolah saya baru memenangi kegiatan menyambut hari kemerdekaan. Sepanjang ruas jalan, mereka yang tidak mampu berbaris "menyambutku", sembari mengulurkan tangan berharap pemberian dari isi kantungku yang juga isinya tak seberapa. Bak datangnya sang juara, lambaian dan uluran tangan itu berakhir dimuka jalan utama Samrat.

Konon katanya, para pengemis itu rela berbaris panjang di gang sempit, karena adanya larangan mengemis dilokasi-lokasi strategis di kota Manado. Larangan ini dikeluarkan oleh Sang Walikota. Katanya, keberadaan pengemis hanya akan menganggu prestise dan estetika kota. Ternyata kemerdekaan itu mempunyai makna "dilarang Mengemis di Negeri Sendiri" .

Manado, 4 Agustus 2011.
Anton Miharjo

Sabtu, 30 Juli 2011

Bulan Ramadhan Telah Tiba.......

Akhirnya Ramadhan Datang juga.....

Seperti biasanya, pagi hari (2 hari menjelang ramadhan) secangkir kopi "produk" Kota Kotamobagu menemaniku menatap gunung Klabat yang masih kokoh berdiri yang tidak terpengaruh dengan erupsi gunung Lokon dan Soputan yang baru saja terjadi.

Dimedia cetak yang saya baca pagi ini, geliat bulan ramadhan mulai nampak dengan ditandai seruan moral yang saling bersahutan dari tokoh Agama dan organisasi Keagamaan di Sulawesi Utara untuk menjaga dan menghormati bulan Ramadhan. Seruan-seruan ini adalah hal lazim terjadi, apalagi Sulawesi Utara yang sering dijadikan barometer kerukunan agama.

Dihalaman lain dimedia yang sama, harga kebutuhan pokok naik dari biasanya, ini juga sebuah kelaziman yang kerap terjadi menjelang ramadhan maupun hari suci lainnya. Namun entah karena spirit keagamaan plus kegembiraan menyambut ramadhan yang hanya setahun sekali, naiknya harga sembako tidak menyurutkan semangat mereka yang akan berpuasa untuk pergi kepasar-pasar tradisional maupun mall-mall yang banyak bertebaran di kota Manado. Tiada tersirat wajah susah menyambut bulan ramadhan ini.

Baru separuh gelas kopi yang saya habiskan, seorang kawan mengirimkan sms yang isinya "Mentari bersinar tidak selamanya terang, rembulan bertengger tidak selamanya purnama, gembira tidak selamanya akan bahagia, benar tidak selamanya baik tapi Ramdhan akan selamanya menabur berkah bagi umat islam hingga akhir zaman. Marhaban ya Ramadhan. Mohon maaf lahir dan Batin". Sebuah kalimat yang mengingatkan saya bahwa bulan penuh berkah itu telah datang. Bulan Ramadhan dalam hukum islam diyakini sebagai bulan penuh berkah dari Allah Swt.

Dibulan Ramdhan ini umat Islam diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa, puasa yang dimaksud disini bukan hanya sekedar menahan rasa lapar dan dahaga. Tapi lebih dari itu untuk menahan hawa nafsu, dan perilaku buruk lainnya seperti menumpuk harta secara tidak sah.

Puasa bukan hanya sekedar menjalankan proses ritual tahunan, tapi untuk mengembalikan fitrah sejati manusia. Manusia yang menghargai sesamanya, manusia yang hidupnya bukan hanya sekedar memanjakan dirinya tapi juga memanusiakan orang lain. Menahan rasa lapar sejatihnya untuk lebih mengenalkan diri kita atas kehidupan mereka yang hari ini telah dimiskinkan oleh kebijakan yang salah. Yang mengherankan, setiap tahun kita menjalankan ritual tahunan ini. Tapi juga setiap tahun angka korupsi di negeri ini semakin tinggi yang berbanding lurus dengan menguatnya angka kemiskinan

Belum se-jam menerima sms tersebut. Seorang kawan dari Samarinda mengirimkan e-mail yang isinya memberitahukan telah terjadi penutupan sebuah rumah ibadah Ahmadiyah. Penutupan rumah ibadah yang dilakukan Satpol PP Pemkot Samarinda yang didukung oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan Kantor Departemen agama setempat. Saya jadi bertanya-tanya, apakah penutupan rumah Ibadah juga sudah bagian dari upaya "bersih-bersih" menjelang ramadhan atau jangan-jangan penutupan rumah ibadah ini adalah "jalan pintas" untuk menuju Surga.

Setahu saya, bulan puasa adalah bulan yang disediakan oleh Allah swt untuk menjadi manusia Terlepas dari rasa kebencian terhadap sesama. Juga menurut sejarah yang saya ketahui kegiatan tutup-menutup rumah ibadah yang tidak seiman tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhamad SAW. Pertanyaanya, Kenapa kita tidak pernah mencoba sedikit saja untuk belajar mengikuti sifat-sifat pemaaf dan penuh kasih yang dimiliki oleh Rasulullah.

Seharusnya, bila kelompok lain, semisal Ahmadiyah dianggap "menodai" ajaran yang kita yakini selama ini. Dibulan puasa ini dijadikan ajang untuk memperkuat keimanan itu. Saya masih meyakini, bahwa seorang muslim yang benar, bila terjadi penyimpangan agama plus degradasi moral umat sebaiknya mengoreksi dan instropeksi diri sendiri bukan kemudian mengkambing-hitamkan pihak lain apalagi harus melakukan tindakan kekerasan

Islam yang kuyakini selama ini, adalah agama yang membawah rahmat dan kedamaian bagi seluruh mahluk hidup yang dimuka bumi. Bila kita bersepakat tentang nilai itu, adalah hal yang layak kita mulai meninggalkan upaya kekerasan dan juga tindakan penghakiman kepada kelompok lain.

Biarkanlah mimpi-mimpi untuk masuk surga tetap menjadi mimpi semua ciptaan Tuhan, dan biarkan juga Tuhan menentukan siapa yang lebih berhak untuk masuk dalam Surga. Juga biarkan kebenaran mutlak itu tetap menjadi Hak Allah, tidak kemudiam berpikir untuk mrngambil alih hak itu. Karena ketika kita mulai berpikir untuk mengambil alih hak Allah itu, maka kita sejatihnya sementara keluar dari hakikat bahwa Islam itu; pembawah rahmat dan pembawah keselamatan bagi makhluk hidup dimuka bumi.

Semoga saja dibulan Ramadhan ini, yang sebentar lagi kita lakoni, akan menjadikan kita sebagai manusia yang penuh kasih, dan juga manusia yang mau menghormati ciptaan tuhan lainnya dan menanggalkan segala bentuk amarah dan kekerasan. Selamat menjalankan ibadah puasa, mohon maaf lahir dan batin dari Anton Miharjo dan keluarga.

Jumat, 29 Juli 2011

Mencari Wikana

Mencari Wikana

Mencari Wikana (1)
Sepakterjang Pemuda dari Sumedang
(disadur dari Majalah Historia.com)

Dia berperan penting pada hari-hari buncit menjelang proklamasi. Hidupnya berakhir tragis.

PADA lokasi bekas rumah bersejarah di jalan Pegangsaan Timur No. 56 berdiri sebatang tiang menjulang tinggi dengan simbol petir di pucuknya. Sederet kalimat tertera pada dasar tiang itu: “Disinilah Dibatjakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada Tanggal 17 Agustus 1945 djam 10.00 pagi oleh Bung Karno dan Bung Hatta.” 

Enam puluh lima tahun lalu, sesosok pemuda kurus berambut klimis berkacamata minus mendatangi rumah bersejarah yang dulu masih berdiri tegak. Wikana, pemuda itu, ditemani pemuda lain, Aidit, kelak menjadi orang nomor satu Partai Komunis Indonesia (PKI), Darwis, Yusuf Kunto dan Soebadio Sastrosatomo. Kepada Bung Karno Wikana meyakinkan kalau kemerdekaan harus segera diumumkan malam ini juga, kalau tidak “besok akan terjadi pertumpahan darah,” kata Wikana setengah mengancam. Bung Karno tersinggung. Dia membentak balik Wikana seraya menantang menyembelih lehernya malam itu juga, “Ini leher saya, seretlah saya ke pojok itu, sudahilah nyawa saya malam ini juga. Jangan menunggu sampai besok pagi!”

Cuplikan adegan itulah yang melambungkan nama Wikana sebagai pemuda revolusioner dan banyak dikutip di dalam kitab-kitab sejarah. Selebihnya, samar-samar. Padahal ada banyak peran penting lain yang dimainkannya. Dia pernah aktif dalam berbagai organisasi kepemudaan, mulai Angkatan Pemuda Indonesia (API) sampai Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo). Setahun setelah proklamasi, dia juga tercatat pernah menjadi Menteri Negara Urusan Pemuda selama empat kali periode kabinet, dua kali dalam kabinet Sjahrir dan dua kali pada kabinet Amir Sjarifuddin.

Wikana terlahir dari keluarga menak Sumedang. Ayahnya, Raden Haji Soelaiman, pendatang dari Demak, Jawa Tengah. Kendati menak merupakan golongan yang mendapatkan previlese semasa penjajahan, tidak demikian halnya dengan keluarga Wikana. “Dia datang dari keluarga perjuangan, kakaknya, Winanta seorang Digulis,” kata Soemarsono, tokoh pemuda angkatan ’45 yang ditemui pekan lalu (12/8) oleh Majalah Historia Online di kediaman putrinya di Bintaro, Jakarta Selatan. 

Boleh dibilang Wikana punya otak encer. Sebagai anak priayi, dia punya hak untuk mengenyam pendidikan. Tapi untuk masuk ELS (Europeesch Lagere School), sekolah dasar yang menggunakan bahasa Belanda sebagai pengantar, tidak cukup bermodal anak raden saja. Kemampuan bahasa Belanda dan kepintaran si anak menjadi standar utama. Wikana kecil memenuhi syarat itu dan berhasil lulus dari ELS. Lepas dari ELS Wikana melanjutkan sekolah ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Semasa muda itulah Wikana sempat menjadi salah satu dari sekian pemuda satelit Bung Karno di Bandung. 

Selain menguasai bahasa Belanda, Wikana juga pandai bercasciscus bahasa Inggris, Jerman, Prancis dan Rusia. Tati Sawitri Apramata, putri ketiga Wikana, mengenang ayahnya sebagai kutu buku yang pandai berbahasa asing. “Bapak bisa banyak bahasa, hobinya baca buku. Pulang dari sidang, selalu bawa buku, dari mana-mana selalu buku yang dibawa,” kenang perempuan berusia 61 tahun yang kini tinggal di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur itu. Sidang yang dimaksud Tati adalah sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), di mana ayahnya menjadi anggota. 

Sosok Wikana yang cerdas dan tajam diamini oleh Soemarsono. Menurut lelaki yang pernah satu kos dengan Achmad Azhari, kawan sekerja Wikana, pemuda dari Sumedang itu dikenal sebagai orang yang tak banyak bicara, cerdas, dan tajam. Kepada Wikana pula Soemarsono sempat berguru soal teori-teori dalam dunia politik. “Dia yang mengajari saya tentang terminologi dan istilah-istilah dalam politik,” kata Soemarsono yang telah mengenal Wikana sebelum Jepang menduduki Indonesia pada 1942. Bukan saja Soemarsono, Aidit dan MH Lukman termasuk anak muda yang mengagumi pemimpin PKI Jawa Barat itu. 

Dua tahun sebelum Jepang mendarat di Indonesia, Wikana, bersama dengan Adam Malik dan Pandu Kartawiguna sempat masuk kerangkeng atas tuduhan subversif terhadap pemerintah kolonial. Dia menyebarkan pamflet Menara Merah yang punya kaitan dengan PKI bawah tanah. PKI sendiri telah dilarang oleh pemerintah kolonial pascapemberontakan 1926. 

Trikoyo Ramidjo, salah satu anggota PKI yang sempat terlibat dalam upaya pembangunan kembali partai setelah Madiun affairs, mengatakan kalau Wikana memang anggota PKI bawah tanah. “Dia jadi anggota partai sejak tahun 1930-an, cita-citanya jelas sekali untuk kemerdekaan Indonesia,” ujar pria yang pernah melewati masa kecilnya di Boven Digul, Papua mengikuti ayahnya sebagai tahanan politik kolonial. 

Tak hanya sebagai anggota PKI bawah tanah, Wikana juga tercatat pernah aktif sebagai anggota Partai Indonesia (Partindo) yang didirkan oleh Mr Sartono pada 1931 pascapenangkapan Bung Karno. Pada 1938 ketika Barisan Pemuda Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) didirikan, dia terpilih sebagai ketuanya yang pertama. Keyakinannya yang anti-kolonialisme mendorong Wikana aktif mengikuti berbagai organisasi politik yang melawan Belanda secara frontal. 

Semasa zaman kolonial, Wikana menjadi pemimpin PKI bawah tanah di Jawa Barat. Ia juga berkawan dekat dengan Widarta tokoh PKI bawah tanah yang bertanggungjawab di wilayah Jakarta. Widartalah yang merekrut Aidit dan MH Lukman masuk PKI namun ironisnya harus mati karena keputusan internal partainya sendiri. Sohib Wikana itu diadili in absentia oleh Amir Sjarifuddin gara-gara menjalankankan kebijakan yang dianggap tak sejalan dengan garis partai pada peristiwa Tiga Daerah di wilayah karesidenan Pekalongan. Sebuah eksekusi di Pantai Parangtritis meringkus nyawanya. 

Berbeda dengan Widarta yang meregang nyawa di ujung bedil, karier Wikana jalan terus. Dia menjadi tokoh pemuda dari sekian banyak pemuda yang bergerak di pusaran arus revolusi. Ketokohan Wikana mendapatkan pengakuan dan karena itulah dia dipercaya oleh Perdana Menteri Sjahrir untuk duduk sebagai menteri negara urusan pemuda dalam kabinet Sjahrir kedua dan ketiga. Tak jelas capaian apa yang dia buat semasa memegang jabatan itu. 

Tapi jalan terang hidup Wikana mulai meredup setelah peristiwa Madiun 1948. Posisinya sebagai Gubernur Militer wilayah Surakarta digantikan oleh Gatot Subroto. Sampai tahun 1950-an dia masih tercatat sebagai anggota Comite Central (CC) PKI yang mulai menggeliat di bawah kepemimpinan triumvirat Aidit, Njoto dan Lukman. Namun praktis Wikana tak memainkan peran penting sebagaimana yang pernah dilakukannya pada era-era awal revolusi. Dia punya posisi yang lumayan terhormat: sebagai anggota MPRS, anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan sejumlah aktivitas organisasi lainnya. Satu-satunya yang dia tak miliki adalah kekuasaan, baik di pemerintahan maupun di dalam partai. 

Beberapa pekan sebelum peristiwa G.30.S 1965 terjadi, Wikana berserta beberapa elemen PKI lainnya pergi ke Peking untuk menghadiri perayaan hari Nasional Cina 1 Oktober 1965. Tapi sontak terdengar kabar dari tanah air tentang insiden penculikan dan pembunuhan para jenderal. PKI disalahkan. Delegasi terceraiberai. Wikana meminta anggota delegasi lain untuk tetap berada di Peking selagi menunggu kepastian dari berita yang simpang siur. Dia sendiri memilih pulang ke tanah air. “Kalau harus mati, saya pilih mati di tanah air,” kata Wikana sebagaimana dikatakan oleh Abriyanto, cucu menantu yang beberapa waktu belakangan tekun menyusun biografi Wikana.

Wikana benar. Kurang dari setahun setelah peristiwa G.30.S 1965, dia ditangkap. Sempat bermalam di Kodam Jaya namun dipulangkan kembali. Tak berapa lama kemudian segerombolan tentara tak dikenal datang ke rumahnya di Jalan Dempo No. 7 A, Matraman, Jakarta Pusat. Mereka membawa Wikana dan sampai hari ini, pemuda garang yang sempat membuat Bung Karno naik pitam itu, tak pernah kembali pulang. Dia hilang tak tentu rimbanya. [BONNIE TRIYANA]



Mencari Wikana (2)
Anak Menak Revolusioner
Kamis, 19 Agustus 2010 - 01:20:03 WIB

Lahir dari keluarga priayi bukan halangan untuk jadi pejuang. Sangat membenci penjajah. 

MUNGKIN Nonoh tak pernah menyangka kalau anak lelakinya itu kelak menjadi seorang pemuda yang punya peran menentukan dalam periode revolusi Indonesia. Dia lahir pada 16 Oktober 1914 di Sumedang, Jawa Barat sebagai anak keempatbelas dari enambelas bersaudara. Ayahnya Raden Haji Soelaiman, seorang pendatang Demak, Jawa Tengah.

Wikana lahir pada tahun yang sama ketika Belanda memperkuat pertahanan kota Sumedang dari serangan musuh. Pada masa Perang Dunia I (1914-1918) Belanda membangun benteng-benteng di sekitar kota Sumedang. Perjuangan politik bukan hal baru buat keluarga menak itu. Kakaknya Winanta, pernah ditahan di Boven Digul atas tuduhan terlibat pemberontakan komunis 1926. Wikana muda belajar politik pada Winanta yang menuangkan pengalamannya selama di Digul dalam buku “Antara Hidup dan Mati atau Buron dari Boven Digul” yang disunting oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Cerita Dari Digul.

Menurut Ben Anderson, Wikana mengenyam pendidikan di ELS (Europeesche Lagere School) dan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs).  “Setelah lulus dari MULO pada 1932, Wikana bergerak dengan penanya dalam mingguan Fikiran Rakjat di Bandung. Dia masuk menjadi anggota Partai Indonesia (Partindo) cabang Bandung,” tulis mingguan Merdeka, 15 Mei 1947. Partindo merupakan pecahan dari Partai Nasionalis Indonesia (PNI) pascapenangkapan Bung Karno. PNI-Baru yang lain didirikan oleh Bung Hatta dengan mengganti “Partai” menjadi “Pendidikan” sesuai dengan nafas politiknya. 

“Wikana (bersama Asmara Hadi, Soepeno, Sukarni, Goenadi, dan SK. Trimurti-Red) pernah menjadi anak didik Sukarno di Bandung (Sukarno bergabung dengan Partindo pada 1 Agustus 1932-Red),” tulis Anderson dalam Revolusi Pemuda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946.

Wikana juga mempunyai hubungan erat dengan sekolah Taman Siswa di Jawa Barat. Bahkan, “Wikana merupakan produk Taman Siswa yang terkemuka,” tulis LK Hing dalam The Taman Siswa in Postwar Indonesia. 

“Wikana kemudian hijrah ke Surabaya pada 1935. Di sana dia memimpin mingguan Pedoman Masjarakat Baroe. Pada 1938, dia kemudian pindah ke Jakarta dan memimpin harian Kebangoenan. Pada tahun itu juga dia diangkat menjadi Penulis Umum II Partai Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo),” tulis mingguan Merdeka, 15 Mei 1947.

Gerindo yang didirikan pada 24 Mei 1937 di Jakarta oleh Amir Sjarifuddin dan Muhammad Yamin lahir setelah gerakan non-kooperatif yang dilancarkan Partindo dibubarkan pada November 1936, dan PNI-Baru lumpuh. Kandasnya gerakan non-kooperatif menimbulkan pemikiran baru yaitu gerakan kooperatif dengan Belanda untuk melawan ancaman fasisme, terutama fasisme Jepang.

Pada Kongres Gerindo pertama di Jakarta, 20-24 Juli 1938, AK Gani terpilih sebagai Ketua dan Amir Sjarifuddin sebagai Wakil Ketua. Dan pada Kongres Kedua, 24-30 Juli 1939 di Palembang, Amir Sjarifuddin terpilih menjadi Ketua dan Wilopo sebagai Wakil Ketua Komite Tetap.

Di bidang kepemudaan dibentuk Barisan Pemuda Gerindo setelah Juli 1938. Azas dari Barisan Pemuda Gerindo ini sama dengan Gerindo itu sendiri. Ia adalah pendukung dan pelaksana putusan-putusan Gerindo. “Wikana terpilih sebagai ketua pertamanya,” tulis Anderson.

Wikana kemudian diganti oleh Ismail Widjaja dan AM Hanafi sebagai Sekretaris Umum. “Saya menjabat Sekretaris Jenderal Pucuk Pimpinan Barisan Pemuda Gerindo sejak tahun 1939, menggantikan saudara Wikana yang didesak mengundurkan diri oleh Ketua PB. Gerindo Dr A.K. Gani karena tercium keradikalannya yang ‘komunistis’ demi untuk keselamatan dan kelangsungan perjuangan Gerindo,” kata AM Hanafi dalam bukunya AM Hanafi Menggugat.

Kira-kira satu tahun sebelum Jepang datang, Soemarsono kenal dengan Wikana karena kebetulan sama-sama berkegiatan di daerah Kemayoran. 

“Di Jakarta, bapak tinggal di Jalan Garuda,” kata Lenina.

Soemarsono kenal Wikana sekaligus kenal temannya yang juga anggota Gerindo, Achmad Azhari dari Palembang. Soemarsono yang baru mau masuk Gerindo juga kenal dengan teman Wikana yang lain, yaitu pelukis S. Sudjojono dan Hariyadi. 

“Ahmad Azhari dan Wikana satu tempat kerja sebagai tukang ketik di Percetakan Negara di Salemba. Azhari satu rumah sama saya. Saya banyak dengar mengenai Wikana dari Azhari. Azhari sangat menyanjung sekali Wikana. Wikana dianggap senior di antara pemuda-pemuda Gerindo. Wikana dianggap paling matang mengenai pengertian-pengertian perjuangan dan politik. Di kalangan pemuda pergerakan, Wikana memiliki pengaruh yang kuat. Ketokohannya satu level di bawah Amir Sjarifuddin,” kata Soemarsono.  

Saat Wikana menikahi Asminah binti Oesman di Kemayoran pada 1940, Soemarsono datang memberi selamat. “Dia dapat anak Sunter. Saya datang waktu perkawinan itu karena Azhari. Saya kasih salam dan perkenalan sama Wikana,” ujar Soemarsono.

Dari hasil pernikahannya, Wikana dan Asminah dikaruniai enam anak, yaitu Lenina Soewarti Wiasti Wikana Putri, Temo Zein Karmawan Soekana Pria (alm.), Tati Sawitri Apramata, Kania Kingkin Pratapa, Rani Sadakarana, dan Remondi Sitakodana.

Pekerjaan sebagai organisatoris tak membuat Wikana alpa menulis. “Kalau sudah sampai di rumah, bapak pasti membaca dan menulis. Makan saja sampai dianter. Jadi kalau sudah namanya menulis, mengetik, dan baca buku, gak bisa diganggu,” kata Tati. 

“Bapak adalah pembelajar otodidak. Dia bisa bahasa Jerman, Inggris, Rusia dan Prancis. Kalau bahasa Belanda adalah bahasa komunikasi sehari-hari,” kata Lenina.

Lenina menambahkan, kegemaran bapaknya adalah membaca buku. “Kalau anaknya ulangtahun, hadiahnya pasti buku. Kami diajak ke toko buku untuk memilih sendiri buku yang disukai. Kalau saya suka buku biografi dan sejarah,” ujar Lelina.  

Melalui penanya Wikana menyebarkan gagasan-gagasan tentang pergerakan dan komunisme. Dia menulis Organisatie, Pengoempoelan Boeah Pena (Oesaha Penerbitan Tengara, 1947), Dokumentasi Pemuda Sekitar Proklamasi Indonesia Merdeka (bersama DN Aidit, Legiono, dan Badan Penerangan Pusat SBPI, 1948), Satu Dua Pandangan Marxisme (Revolusioner, 194?). Pada Oktober 1938, Wikana, Amir Sjarifuddin, Asmara Hadi, dan A.M. Sipahutar menjadi dewan redaksi dalam majalah bulanan politik Toedjoean Rakjat. 

Menurut Harry Poeze, Wikana juga aktif dalam surat kabar Menara Merah yang diterbitkan oleh PKI bawah tanah. Menara Merah menganut garis Moskow, yang menetapkan pembentukan front rakyat untuk membendung gerakan maju kekuatan-kekuatan totaliter Jerman dan Jepang. Menara Merah kemudian dilanjutkan oleh “generasi ketiga” PKI di bawah pimpinan Widarta dan K. Midjaja.

“Wikana bertugas menyebarkan Menara Merah di Jawa Barat, tapi penanggungjawab utama adalah Pamoedji yang telah menyuruh suratkabar ini dicetak di Surabaya. Pada bulan Juni 1940, satu eksemplar surat kabar ini disita. Dalam hubungan ini, Amir Sjarifuddin, Adam Malik, dan Wikana diduga tersangkut,” tulis Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, Jilid 1, Agustus 1945-Maret 1946.

“Wikana ditangkap oleh Belanda karena menyebarkan Menara Merah dengan Adam Malik dan Pandu Kartawiguna,” tulis Anderson. 

Wikana tidak suka sama Belanda. “Karena bapak pernah ditempeleng sama orang Belanda,” kata Tati. Wikana bersama Sukarni, Adam Malik, dan lainnya dibebaskan dari penjara Cilacap setelah penyerahan Belanda kepada Jepang pada 8-9 Maret 1942. Sidik Kertapati mengenang Wikana sebagai orang yang dikenal lama oleh para pemuda pergerakan sejak sama-sama aktif dalam gerakan revolusioner zaman Belanda. Karena aktivitasnya, “Wikana selalu menjadi buronan politik dan sering keluar-masuk penjara di zaman kolonial Belanda,”



Mencari Wikana (3)
Lakon dalam Pusaran Revolusi
Kamis, 19 Agustus 2010 - 01:16:22 WIB

Relasi Wikana yang luas di kalangan intelijen Jepang berhasil mengamankan pembacaan teks proklamasi.

KEMAYORAN, pada sebuah sore, 14 Agustus 1945. Beberapa pemuda berkumpul di sebuah kebun pisang dekat lapangan terbang Kemayoran. Saat itu Chaerul Saleh, Asmara Hadi, A.M. Hanafi, Sudiro, S.K. Trimurti dan Sajuti Melik berniat menemui Bung Karno dan Bung Hatta yang kabarnya akan mendarat dari Saigon, Vietnam. Sesuatu telah membuat mereka gundah. Jepang telah kalah perang sementara kemerdekaan untuk Indonesia direken sebagai hadiah Jepang. 

Ketika Bung Karno dan Bung Hatta menapakkan kaki keluar dari tangga dan berjalan menjauhi pesawat tiba-tiba para pemuda itu menghampiri keduanya.

“Selamat datang kembali Bung Karno, Bung Hatta. Kami semua menunggu oleh-oleh yang Bung bawa dari Saigon,” kata Chaerul Saleh

“Pokoknya kemerdekaan sudah dekat. Kita semua harus siap,” sahut Bung Karno.

“Proklamirkan kemerdekaan sekarang juga Bung,” timpal Chaerul Saleh.

“Kita tidak bisa bicara soal itu di sini, Kempetai mengawasi kita. Bubarlah! Nanti kita bicarakan lagi,” tandas Bung Karno menutup percakapan.

Bung Karno dan Bung Hatta pergi begitu saja dan terkesan tak menghiraukan anak-anak muda itu. Mereka pun membubarkan diri kenang A.M. Hanafi dalam bukunya Menteng 31 Jembatan Dua Angkatan. Bola panas dari pertemuan itu masih terus bergulir pada beberapa jam ke depan. 

Dalam pertemuan itu Wikana tidak hadir. Dia masih berada di kantor Subardjo di jalan Kebon Sirih. Menurut Suhartono, dalam buku Kaigun Penentu Krisis Proklamasi, meski saat itu Subardjo termasuk golongan tua dan Wikana golongan muda, namun keduanya dikenal memiliki hubungan yang cukup dekat. Ketika Maeda meminta Subardjo untuk mendirikan sebuah asrama pendidikan pemuda-pemuda Indonesia yang kemudian diberi nama Asrama Indonesia Merdeka, Subardjo meminta Wikana untuk mengepalai Asrama itu yang terletak di Jalan Bungur Raya 56.  Di Asrama itu Wikana, atas permintaan Subardjo, mengadakan diskusi-diskusi politik dan kebangsaan yang  menghadirkan Sukarno, Mohammad Hatta, Iwa Kusuma Sumantri, Sutan Sjahrir, RP Singgih, J. Latuharhary, Maramis, dan Buntaran sebagai pembicaranya.

Malam harinya sekitar pukul 20.00 para pemuda yang sempat menemui Bung Karno dan Bung Hatta di Kemayoran kembali berkumpul di belakang Eijkman Instituut (Lembaga Bakteriologi di Pegangsaan Timur No. 17 sekarang Fakultas Kesehatan Masyarakat UI-Red). Di sana pemuda dari kelompok Menteng 31 seperti Chaerul Saleh, Djohar Noer, Abu Bakar Lubis, Armansyah, dan Subadio Sastrosatomo sudah menunggu. Kali ini Wikana turut serta bersama Aidit. Mereka kembali membahas rencana proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Pada pukul 23.00 diputuskan untuk mengirim perwakilan pemuda menemui Bung Karno dan Bung Hatta. Wikana dipilih menjadi ketua utusan sekaligus juru bicara. Pertimbangannya, dia dianggap sudah kaya pengalaman berorganisasi. Wikana pernah menjadi anggota Barisan Pemuda Gerindo, Laskar Jawa Barat, Angkatan Pemuda Indonesia. “Saat itu Wikana termasuk yang paling senior. Dia sudah menjadi top figure,” kata Soemarsono.

Bersama Chaerul Saleh, Subadio Sastrosatomo dan beberapa pemuda lain Wikana menuju kediaman Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Di sana rupanya sudah ada Bung Hatta, Subarjo, Iwa Kusumasumantri, Joyopranoto dan Buntaran. Setelah menjelaskan maksud kedatangannya Wikana mulai melobi Bung Karno.

“Proklamasi kemerdekaan harus segera dibacakan,” kata Wikana

“Tunggu sebentar…” kata Bung Karno meminta pertimbangan tokoh-tokoh yang lain.

“… Kami tidak setuju kalau pemuda-pemuda yang memproklamasikan kemerdekaan, kecuali jika saudara-saudara memang sudah siap. Boleh coba! Saya ingin melihat kesanggupan saudara-saudara,” Bung Hatta menantang.

“Kalau Bung Karno tidak mau mengumumkan proklamasi, di Jakarta besok akan terjadi pertumpahan darah yang amat dahsyat…”

Mendengar ucapan Wikana yang bernada ancaman, Bung Karno naik darah. Setengah melompat dia berdiri di hadapan Wikana.

“Ini batang leherku. Seretlah saya ke pojok itu, sudahilah nyawa saya malam ini juga jangan menunggu besok…” Wikana terkejut mendengar kekukuhan hati Bung Karno. Dia sebenarnya tidak bermaksud mengancam namun “Bung Karno salah paham,” kata Soemarsono

Dalam autobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat, dia menceritakan alasan penolakannya. Saat itu Bung Karno merasa bahwa para pemuda belum memiliki kesiapan total bila sewaktu-waktu terjadi bentrokan fisik melawan kekuatan senjata Jepang. Sedangkan Harry Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia mengatakan penolakan Bung Karno dan Bung Hatta karena keduanya tak ingin meninggalkan anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang sudah berada di Jakarta untuk rapat.

Yang jelas lobi Wikana gagal. Menjelang sahur pukul 1.30 dini hari para pemuda akhirnya undur diri. Mereka melanjutkan rapat ke Asrama BAPERPI (Badan Permusyawaratan Pelajar-Pelajar Indonesia), Jalan Cikini No. 71, tak jauh dari kediaman Bung Karno.

Saat itu asrama merupakan eksponen penting dalam merancang strategi-strategi perjuangan menuju kemerdekaan. Ada tiga asrama yang saat itu popular sebagai dapur dialektika kebangsaan, rapat-rapat rahasia, dan merancang strategi perjuangan. Asrama Menteng 31, Asrama Indonesia Merdeka, dan Asrama Cikini 71. Menurut Ben Anderson dalam buku Revolusi Pemuda, asrama menjadi tempat yang penting bagi sejarah pergerakan kaum muda Indonesia di zaman pendudukan Jepang.

Hasil rapat para pemuda kemudian memutuskan kemerdekaan harus dinyatakan sendiri oleh rakyat, jangan menunggu kemerdekaan dari Jepang. Para pemuda juga berencana untuk menjauhkan Bung Karno dan Bung Hatta dari tangan Jepang. Para pemuda sepakat untuk membawa kedua tokoh keluar Jakarta, pilihan lokasi jatuh ke Rengasdengklok, Karawang.

Dari keterangan Sidik Kertapati dalam bukunya Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945 pukul 6.00 pagi sebuah mobil keluar dari Cikini 71 membawa beberapa orang yang akan menculik Bung Karno. Chaerul Saleh, Wikana, dan dr. Muwardi pergi ke Pegangsaan Timur No. 56 untuk membangunkan Sukarno dan menyiapkan keberangkatan. Sementara itu Sukarni dan Yusuf Kunto menuju kediaman Bung Hatta di Miyakodori (sekarang Jalan Diponegoro-Red).

Kepada Bung Karno Wikana mengatakan, “Situasi gawat dan tidak stabil Bung harus disingkirkan!”

“Lalu bagaimana dengan istri dan anakku.”

“Dibawa sekalian saja Bung. Segera kemasi barang-barang.”

Sementara itu, kelompok pemuda yang mendapat tugas mengambil Bung Hatta menggunakan dalih bahwa Bung Karno memanggil Bung Hatta karena ada situasi genting. “Para pemuda tahu Bung Hatta tidak bisa diancam apalagi ditakut-takuti makanya mereka menggunakan nama Bung Karno untuk membawanya,” tutur Soemarsono.

Tapi ternyata di Rengasdengklok para pemuda juga gagal membujuk Bung Karno dan Bung Hatta untuk membacakan proklamasi. Sementara itu di Jakarta muncul kepanikan karena hilangnya Bung Karno dan Bung Hatta. Subardjo dan Sudiro kemudian membujuk Wikana untuk mengatakan di mana Bung Karno dan Bung Hatta berada. Setelah mendengar janji Subardjo untuk membantu melaksanakan proklamasi kemerdekaan Wikana akhirnya tak kuat hati untuk terus menyimpan rahasia. Kepada Subardjo dan Sudiro dia ceritakan di mana Bung Karno dan Bung Hatta disembunyikan.

“Nyanyian” Wikana ini sempat disesalkan oleh Chaerul Saleh dan A.M. Hanafi. “Saya dan Chaerul Saleh menggasak Wikana habis-habisan. Tapi mau apalagi?! Untunglah dia mengakui kesalahannya kalau tidak habislah namanya sebagai pejuang di mata kami,” kata A.M. Hanafi mengungkapkan kekesalannya.

Setelah mengetahui di mana Bung Karno dan Bung Hatta berada Subardjo langsung menjemput keduanya kembali ke Jakarta. Pada saat yang bersamaan beberapa pemuda yang memang sengaja ditinggal di Jakarta untuk memantau situasi mengadakan rapat dadakan. Saat itu hadir Wikana, A.M. Hanafi, Pardjono, Pandu Kartawiguna, Djohar Noer, S.K. Wijoto dan Ridwan Bazar. Masing-masing membagi tugas untuk persiapan penyelenggaraan proklamasi. Djohar Noer, S.K. Wijoto dan Ridwan Bazar bertugas menghubungi kantor berita Domei dan kantor Radio Hosokioku. Pardjono mengurus stensil dan penyebaran kabar proklamasi kemerdekaan. 

Sementara itu Wikana bertugas mengatur semua keperluan pembacaan proklamasi di rumah Bung Karno. Dia juga memastikan kesediaan Laksamana Maeda untuk menjadikan rumahnya sebagai tempat perumusan naskah proklamasi. Wikana pulalah yang mengatur agar para Kaigun (Angkatan Laut Jepang) untuk tidak mengganggu jalannya proklamasi. Melalui perantara Subardjo, Wikana memang punya hubungan luas di kalangan Jepang, tidak terkecuali di kalangan intelijen Kaigun. Karena perannyalah perhelatan proklamasi aman dari jamahan Kempetai yang bisa saja menghabisi para tokoh itu sewaktu-waktu. 

Dini hari 17 Agustus 1945 setelah kembali dari Rengasdengklok Bung Karno dan Bung Hatta langsung mengadakan rapat bersama beberapa tokoh pemuda lain di antaranya Sukarni dan B.M. Diah untuk merumuskan teks naskah proklamasi. Setelah dirasa pas, Bung Karno dan Bung Hatta akhirnya menandatangani teks naskah proklamasi pada pukul 04.00 dinihari di kediaman Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol No. 1. Proklamasi baru dibacakan pagi hari pukul 10.00 di teras depan kediaman Bung Karno. Wikana sempat pula ketar-ketir karena si Bung Besar itu sedang kambuh sakit malarianya. Namun kekhawatirannya pupus ketika Bung Karno membacakan naskah proklamasi itu. Dan Indonesia pun menyatakan kemerdekaannya.[JAY AKBAR]


Mencari Wikana (4)
Saujana Merdeka Menteri Sederhana
Kamis, 19 Agustus 2010 - 01:13:27 WIB

Sempat menduduki beberapa jabatan penting. Hatta mendepaknya karena dia orang kiri.

SOSOKNYA tak terlalu tinggi. Kumis tipis melintang dan jenggot lumayan panjang menghiasi wajah tirusnya. Hanya kacamata bundar dan pakaian sederhana yang selalu menemaninya ke mana pun dia pergi. Gaya hidupnya bersahaja. Namun sosok pendiam itu memiliki peran yang tidak sedikit dalam hari-hari di sekitar revolusi 17 Agustus. Tekadnya dalam berjuang memerdekakan rakyat begitu kuat. “Rakyat kita belum merasakan benar apa kemerdekaan itu,” ujar Ibrahim Isa, mengutip keterangan Wikana kepada Fransisca C. Fanggidaej –orang yang pernah menumpang di rumah dinas Wikana di Solo– suatu waktu.

Nama Wikana hampir dilupakan orang selama puluhan tahun. Pria kelahiran Sumedang, 16 Oktober 1914, ini tak diketahui nasibnya setelah diculik oleh kawanan tentara tak dikenal pada medio 1966. Jasa-jasanya bagi negeri seakan ikut sirna bersama jiwa-raganya yang hilang entah ke mana.

Tak lama setelah proklamasi, pada 27 Agustus 1945 Wikana –pejuang dari golongan pemuda– terpilih menjadi salah seorang pengurus di dalam PNI (Partai Nasional Indonesia), partai negara yang didirikan dengan maksud sebagai wadah untuk memperkuat persatuan bangsa, memperbesar rasa cinta, setia, dan bakti kepada tanah air. Namun kehadiran partai itu tak lama. Banyak pihak menentang kehadirannya, tak terkecuali Sjahrir.

Wikana lalu masuk ke dalam organisasi Angkatan Pemuda Indonesia (API) di mana dia menjadi ketua organisasi yang berdiri pada 1 September 1945 itu. Bersama Soemarsono, dia mewakili API ke Kongres Pemuda Pertama di Yogyakarta, 10-11 November 1945. Wikana ikut menjadi pembicara di samping Amir Sjarifuddin dan Adam Malik. Agenda terpenting kongres itu adalah rencana peleburan gerakan pemuda dalam satu organsisasi atas dasar prinsip-prinsip sosialis.


Mencari Wikana (5)
Tersisih dari Perahu Partai
Kamis, 19 Agustus 2010 - 01:08:06 WIB

Wikana tersingkirkan oleh para pengagumnya. Garis politik memisahkan mereka.

PERISTIWA Madiun 1948 menyudutkan PKI ke tubir jurang kehancuran. Partai berlambang palu-arit itu dituduh berada di belakang peristiwa yang disebut-sebut sebagai “pemberontakan” itu. Sebelas orang tokoh PKI ditembak, yakni Amir Sjarifuddin, Maroeto Daroesman, Suripno, Oey Gee Hwat, Sardjono, Harjono, Sukarno, Djokosujono, Katamhadi, Ronomarsono dan D. Mangku. Sebelum mereka dieksekusi, Musso telah terlebih dahulu ditembak mati oleh tentara.

Peristiwa itu melumpuhkan PKI. Partai yang sempat melancarkan perlawanan pada era kolonial itu harus menemui kenyataan diperangi oleh saudara sebangsanya sendiri saat negeri telah merdeka. Sebagian pengikut PKI kocar-kacir menyelamatkan diri. Aidit dan Lukman dua dari sekian komunis muda yang menyembunyikan diri di tengah hembusan gosip melarikan diri ke negeri Cina.

Dua tahun berselang setelah peristiwa Madiun, anak-anak muda PKI seperti Aidit, Njoto dan Lukman, yang tenar disebut “tiga serangkai”, mulai menggeliat, membangun partai yang sempat luluh lantak. Jalan terjal mereka tempuh. Tak mudah membangun partai dalam kondisi traumatik dan serbasulit. Partai punya tiga sampai dengan empat ribu anggota namun nyaris tak bisa berbuat apa-apa karena ketiadaan pemimpin. 

Pada 1950 mereka mulai menyusun serpihan kekuatan yang terserak: berupaya mengumpulkan anggota yang tercerai berai dan menerbitkan terbitan berkala partai, seperti Bintang Merah dan kemudian Harian Rakjat. Setelah kembali ke Jakarta, “Mereka berkumpul di sekitar kantor Bintang Merah yang menempati rumah Peris Pardede di gang Kernolong. CC PKI mereka tempatkan di Gang Lontar,” kata Murad Aidit dalam bukunya Aidit Sang Legenda.

Menurut sejarawan Hilmar Farid sejak Januari 1951 Aidit, Nyoto dan Lukman memulai pembangunan partai. “Sejumlah langkah dilakukan dengan agenda rebuilding, front persatuan yang luas, tuntutan moderat dan lain-lain untuk memperkuat posisi partai,” ujar Hilmar Farid melalui pesan singkatnya kepada Majalah Historia Online. 

Tapi kerja keras itu bukannya tanpa halangan sama sekali. Bahkan ada resistensi dari dalam, khususnya dari mereka yang tergolong sebagai “golongan tua”. “Tantangan besar lainnya yang mereka hadapi adalah sisa-sisa pimpinan lama termasuk Tan Ling Djie dan Wikana,” kata sejarawan yang kini tengah menempuh program doktor di National University of Singapore itu.  

Pengaruh Tan Ling Djie dan Wikana masih terlampau kuat untuk dipatahkan oleh triumvirat muda PKI. Ada perbedaan mendasar yang membuat konflik “golongan tua” versus golongan muda di bawah kepemimpinan Aidit, Njoto dan Lukman: “Aidit lebih kepada front persatuan di bawah Bung Karno sementara Tan Ling Djie cs. lebih cenderung memilih class struggle,” lanjut Farid. 

Tentangan keras juga datang dari Alimin, tokoh senior PKI yang mulai kehilangan taring pada usianya yang senja. Pada 1951, bertempat di rumah Trikoyo Ramidjo di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur, Aidit dan Lukman berdebat keras melawan Alimin ihwal strategi yang harus dijalankan oleh PKI. Alimin bersikeras bertahan pada pendapatnya bahwa MMC (Merapi Merbabu Complex) tak boleh dibubarkan karena berpotensi sebagai pendukung penting pembangunan partai. “Waktu itu Alimin tak mau membubarkan MMC karena menurut dia ada tiga hal yang harus diperkuat, yakni petani, partai itu sendiri dan tentara merah,” kata Trikoyo. Tentara merah yang dimaksud Alimin adalah MMC. Aidit dan Lukman pun tak kalah keras. “Mereka berdua menolak ide itu,” lanjut Trikoyo.  

Keterangan Trikoyo diamini oleh Murad Aidit lewat bukunya. Menurut Murad, Alimin marah besar terhadap garis yang ditempuh oleh Aidit cs. Aidit tak ambil peduli, mereka tetap menyiapkan penyelenggaraan kongres yang urung dilaksanakan. “Kongres baru terlaksana pada bulan Maret 1954, setelah segala persiapan untuk kongres itu dapat dipersiapkan. Kongres mengesahkan pimpinan yang terdiri central comite dan politbironya,” kata Murad Aidit. 

Friksi pun berlanjut. Golongan tua seperti Alimin, Tan Ling Djie dan Wikana didomestifikasi peranannya. Mereka diberi tempat dalam kepengurusan CC PKI, namun tanpa kuasa untuk mengambil kebijakan apapun. Kekuasaan partai terpusat di tangan Aidit, Njoto dan Lukman. Mereka bertiga menjalankan kendali tanpa harus menyingkirkan politisi tua, apalagi Aidit dan Lukman mengagumi sosok Wikana. 

“Tidak mungkin mereka disingkirkan, karena itu posisinya saja yang tidak penting. Soalnya bukan tua-muda tapi kontrol terhadap kader dan resources partai. Orang tua seperti Wikana dan Tan Ling Djie masih punya pengaruh kuat, karena itu mesti didomestifikasi,” kata Farid. 

Tapi keadaan itu tak berlangsung lama. Tan Ling Djie, rekan Wikana, dipecat dari PKI. Dia dianggap keras kepala dengan garis partai yang mengharuskan partai bekerja di bawah tanah sebagai partai pelopor. Tapi keputusan pemecatan itu urung dilakukan karena Tan Ling Djie menganggap hidup-matinya sudah ada di PKI. Dia tetap dikeluarkan dari CC tanpa dicabut keanggotaannya. Agaknya tak ada juga yang bisa diperbuat oleh Wikana dalam menghadapi keadaan internal partai yang telah sepenuhnya dikendalikan oleh trio Aidit, Lukman dan Njoto. 

Transisi kepemimpinan dari yang tua kepada yang muda pun dibumbui kabar tak sedap. Aidit cs. banyak disebut-sebut sebagian kalangan melakukan kup terhadap kepemimpinan partai tanpa menghiraukan kepemimpinan golongan tua. “Aidit dianggap kup terhadap kepemimpinan CC PKI yang lama seperti Wikana,” kata Soemarsono. 

Pendapat bahwa Aidit cs. melakukan kup dibantah oleh Hilmar Farid. Menurutnya sejak peristiwa Madiun praktis kepemimpinan PKI kosong. Oleh karena itu agak sulit untuk mengatakan kalau triumvirat Aidit, Njoto dan Lukman melakukan kup.  “Trio sulit untuk dibilang kup karena pimpinan memang tidak ada. Mereka sendiri sudah jadi anggota CC per 1 September 1948, termasuk Wikana. Jadi yang tepat mungkin bukan kup tapi ambil alih karena pimpinan kosong dan bukan didongkel. Juga tidak ada serah terima karena tak ada yang menyerahkan,” kata Farid. 

Setelah berhasil mengurai benang kusut pada partai yang hampir tercerabut itu trio Aidit, Lukman dan Njoto mulai mendisiplinkan partai. Jejaring partai kembali diaktifkan dan semua lini partai difungsikan kembali. Di tangan mereka orientasi partai kembali digodok. Di bawah PKI, Aidit mendukung kebijakan anti kolonialis dan anti-Barat yang diusung oleh Bung Karno. 

Partai Komunis Indonesia berkembang pesat. Tangan dingin Aidit, Lukman dan Njoto yang rata-rata masih berusia 30-an tahun itu berhasil meraih simpati sejuta lebih rakyat Indonesia. Jerih payah mereka membawa PKI menduduki posisi keempat dalam Pemilu 1955.  

Suara garang Wikana pun semakin tenggelam di tengah derap langkah PKI yang semakin agresif meraup simpati rakyat. Tapi Wikana bukan Tan Ling Djie yang disingkirkan begitu saja. Dia masih punya posisi penting baik sebagai anggota MPRS maupun anggota DPA sebelum akhirnya tragedi politik pada 1965 menuntaskan kisah hidupnya. [BONNIE]


Mencari Wikana (6)
Berpisah di Jalan Dempo
Kamis, 19 Agustus 2010 - 00:59:02 WIB

Dikenang sebagai ayah yang hangat dan pendiam. Pergolakan politik memisahkannya dari keluarga. 

RUMAH yang terletak di Jalan Dempo No. 7A itu tak begitu besar dan lebih menyerupai paviliun. Ukurannya memanjang ke belakang dengan dua kamar tidur, ruang tamu, ruang makan, ruangan kecil di bagian belakang, dan gudang. Semuanya serbakecil. Wikana menjadikan kamar tidur sekaligus tempat kerja. Pada rumah pemberian Chairul Saleh itu sederet pagar dan pintu berdiri cukup tinggi. 

Sejak Wikana terpilih menjadi anggota Konstituante pada 1955 dia harus tinggal di Jakarta. Di Konstituante dia mengetuai Komisi Perikemanusiaan. Pada tahun 1960, dia menjadi anggota MPRS dan DPA. 

Masih lekat dalam ingatan Tati Sawitri Apramata betapa bapaknya selalu sibuk untuk mengikuti berbagai persidangan. Namun sebagai anak dia tak pernah berani menanyakan apa pekerjaan bapaknya. “Anak zaman dulu mana berani nanya bapaknya kerja apa,” kenang Tati. 

Sebagai anggota MPRS dan DPA Wikana tentu sibuk bukan kepalang. Adakalanya sesekali dia bercerita kepada anaknya kalau Presiden Sukarno memanggilnya. Tapi Wikana yang pendiam itu tak banyak bercerita tentang isi pertemuannya, kepada siapa pun di rumahnya. Yang masih bisa diingat oleh Tati adalah kebiasaan bapaknya membawakan oleh-oleh buku tiap kali datang dari acara persidangan.

“Kadang-kadang saya dan adik-adik saya membuka-buka setiap lembar buku dan biasanya ada uang nyelip,” kata Tati diiringi derai tawa.

Wikana, dalam kenangan anak-anaknya, dikenal baik sebagai pria pendiam yang bersahaja. Kendati demikian dia selalu bersikap hangat kepada anak-anaknya. “Dulu saya masih ingat bapak maen berantem-beranteman sama saya,” kata Tati. 

Rumah di Jalan Dempo itu membawa kehangatan bagi seluruh anggota keluarga Wikana. Ketika beredar kabar rencana pengangkatan Wikana sebagai Duta Besar Berkuasa Penuh untuk Tanzania, Wikana menawarkan kepada anak-anaknya untuk ikutserta. Dia juga menawari Tati untuk berkuliah di luar negeri selulus dari SMA. “Kalau mau kuliah jangan ke Amerika atau Inggris, di sana cuma main-main saja. Lebih baik ke Jerman,” kata Wikana seperti ditirukan Tati. Mungkin ideologi anti-nekolim merasuki jiwa Wikana sehingga untuk menyekolahkan anaknya pun dia menjadikan dua negara itu tabu. 

Tapi mendadak semua kisah manis itu luluh lantak ketika sepulang mengikuti Hari Raya Nasional Cina 1 Oktober 1965 suasana politik bergolak. Tujuh perwira Angkatan Darat diculik dan dibunuh. Kabar beredar menyebut PKI ada di belakang insiden berdarah itu. Hidup Wikana di ujung tanduk. Berbeda dengan anggota delegasi lain yang tetap tinggal di Cina, Wikana memilih untuk pulang. Mungkin dia berpikir takkan disangkutpautkan dengan kejadian itu, terlebih perannya yang tak lagi sentral dalam PKI. Tapi Wikana salah. 

Chairul meminta KBRI segera mengurus kepulangan delegasi ke Jakarta. Rombongan bertolak dari RRT pada 5 Oktober dan tiba di Jakarta pada 10 Oktober 1965. Sebelum berangkat pulang, Chairul meminta Wikana sebaiknya tak usah pulang dulu karena di Jakarta sedang tidak aman. Tapi, Wikana tak menghiraukan saran Chairul. Dia tetap ikut pulang. 

“Begitu sampai di Kemayoran dia segera disauk tentara, sekarang saya tidak tahu, saya tidak dengar lagi bagaimana nasibnya,” kata Chairul mengisahkan penangkapan Wikana kepada AM Hanafi seperti diceritakan dalam AM Hanafi Menggugat.

Menurut anak ketiga Wikana, Tati Sawitri Apramata, Wikana ditahan secara resmi di daerah Kramat. Petugas tentara dari Kramat datang ke rumahnya di Jalan Dempo No. 7A, meminta keluarga untuk menjenguknya. Tati yang menemuinya. 

“Bapak perlu apa?” tanya Tati yang saat itu duduk di kelas 1 SMA 4 Jakarta.

“Tikar,” kata Wikana. 

“Bapak sehat-sehat saja?” tanya Tati.

“Sehat,” kata Wikana singkat.

Tidak seperti tahanan, Wikana diberikan kebebasan. “Sekitar dua malam diperiksa, lalu dikembalikan ke rumah,” kata Soemarsono.

Pada suatu sore menjelang magrib, tujuh bulan setelah penangkapan pertama, tiba-tiba datang tamu yang mencari kos. Padahal, di rumah Wikana tidak ada kosan. Sebelumnya Wikana sudah mewanti-wanti kepada anaknya agar jangan mengatakan kepada siapapun yang datang bahwa dia ada di rumah. “Tapi, kakak saya malah bilang bahwa bapak ada di rumah,” ujar Tati. 

Bencana datang seketika. Tengah malamnya, tak berapa lama setelah kedatangan si tamu tak diundang, tiba-tiba banyak orang melompati pintu pagar dan tembok rumah yang cukup tinggi. Tati terbangun. Dengan kasar, mereka menanyakan di mana bapaknya. “Mereka tentara semua, bawa senjata, tapi tak bisa dikenali,” kata Tati menahan tangis.

Wikana pun dicokok pada 9 Juni 1966. Sejak saat itu keluarga tak pernah mengetahui keberadaannya. “Sebelum dibawa, bapak minta dibungkusin sarung, celana, dan sikat gigi. Dia berpesan agar jaga ibu,” ujar Tati sambil terisak.

Tati tak tega melihat bapaknya digelandang. Dia hendak mengikutinya. Tapi tentara itu menodongkan senjata. “Kamu, anak kecil, ngapain ke luar,” kata salah seorang dari mereka.

“Saya mau lihat bapak saya ke depan,” kata Tati memberanikan diri.

“Masuk!” bentak salah satu dari mereka.

Menurut tetangga sekitar rumah, ada tiga mobil yang terparkir terpisah di depan rumah. Karena itu mereka tahu kalau yang menangkap Wikana lebih dari sepuluh orang. 

Malam itu juga, Asminah istri Wikana melaporkan kejadian penculikan suaminya ke Kodam Jaya dan Kostrad. Pihak Kodam Jaya dan Kostrad menyatakan bahwa malam itu tidak ada penangkapan. Dan setiap penangkapan harus ada surat penangkapan. “Memang pada waktu penangkapan pertama ada suratnya,” ujar Tati.

Kodam Jaya dan Kostrad pun membantu mencari Wikana. Namun, nihil. “Kami hanya mendengar desas-desus saja mengenai keberadaan bapak. Namun, nyatanya tidak ada,” ujar Tati. 

Menurut Soemarsono, tentara ada dalam setiap gerakan waktu itu. Memang semua bersumber dari tentara. Jadi, penangkapan-penangkapan itu pun bisa dipastikan dilakukan oleh tentara. “Walaupun bukan oleh tentara di belakangnya pasti adalah tentara,” kata Soemarsono. 

Setelah penculikan Wikana, setiap hari rumah di Jalan Dempo dijaga oleh sekitar sepuluh orang petugas keamanan dari Kostrad. Keluarga pun diberi surat jaminan keamanan oleh Panglima Kostrad Kemal Idris. Sesudah tidak dijaga lagi, banyak orang-orang militer yang datang. Mereka memaksa agar keluarga mengosongkan rumah Wikana. 

“Ibu tambah sakit. Yang menghadapi orang-orang militer itu saya dan adik-adik saya. Setiap mereka datang, saya tunjukkan surat dari Kostrad. Mereka pun tidak berani,” kata Tati.

Berbekal surat dari Kemal Idris, keluarga pun berhasil mempertahankan rumah itu hingga akhirnya dijual sekitar tahun 1996. “Karena ibu sudah tiada, saya putuskan untuk menjual rumah itu. Hasilnya dibagi rata untuk adik-adik saya,” kata Lenina Soewarti Wiasti Wikana Putri, anak pertama Wikana. 

Pencarian anak-anak Wikana pun tak berakhir begitu saja. Tati dan Lelina sempat bertemu dan menanyakan kepada Adam Malik, Asmara Hadi, dan Chairul Saleh mengenai keberadaan bapaknya. Tak ada yang mereka bisa perbuat kecuali membesarkan hati agar bersabar dan berdoa kepada Tuhan. “Ya sudah, kamu urus saja anak dan dampingi suamimu. Masalah itu jangan dipikirkan lagi,” kata Adam Malik ke Lenina. 

Tati berharap, kalau memang bapak meninggal di mana kuburannya. Kalau masih hidup, ada dimana? “Kadang-kadang ketika saya melihat pengemis-pengemis di jalanan dan kolong jembatan, saya suka teringat apakah mungkin bapak saya seperti itu. Siapa tahu di situ ada bapak saya,” ujar Tati.  

Setelah Wikana tiada, keluarga kehilangan penopang hidup. Dia tidak meninggalkan warisan. “Ibu menjadi tulang punggung keluarga. Dia berjualan segala macam. Yang pernah saya lihat dia jualan es buah. Bahkan sempat menjual pot bunga untuk makan. Karena saya dan Tati sudah menikah, suami-suami kami membantu, meski tidak banyak,” kata Lenina.   

Seingat Tati, ada teman-teman bapaknya yang pernah membantu. “Seperti temannya dari Rusia.”

Wikana menyadari risiko perjuangannya. Dia tidak ingin apa yang dialaminya menimpa keluarganya. Dia pun berpesan, terutama ke anak perempuannya, agar tidak menikah dengan orang perjuangan karena khawatir hidup susah seperti yang dialaminya. “Tapi, jika bisa kuat seperti ibu dalam mendampingi bapak, ya, silakan,” kenang Lenina mengutip bapaknya. [HENDRI F.

Disadur dari Majalah Historia.com


+++++++++++++++++++++
Orba SUHARTO jabgan terulang lagi. Cukup sudah derita rakyat. Coba baca tulisan kecil ini.TIDAK ADA KATA PUTUS ASA DALAM KAMUS HIDUPKU

Oleh : Tri Ramidjo.


Upacara pembebasan TAPOL di pulau Buru itu berlangsung di lapangan kota Namlea Buru Utara pada tanggal 20 Desember 1977. Aku termasuk tapol yang dibebaskan pada pembebasan pertama waktu itu.

Aku tidak tahu berapa orang yang dibebaskan dan dengan kapal apa aku dan rombonganku itu diangkut ke Surabaya. Aku juga tak dapat mengenang berapa lama kami melayari lautan dari Namlea ke Surabaya. Tanggal berapa aku sampai di Jakarta di KODIM Jakarta Selatan Kebayoran pun aku tak ingat. Ya, sampai hari ini pun aku tak bisa mengingat kembali hari-hari dan tanggalnnya. Ya, biarlah tak apa. Aku hanya ingin mengingat dan mencatat apa yang terjadi pada hari-hari ketika aku sampai di Jakarta.

Keadaan jasmaniku memang tidak sehat. Aku mengidap penyakit paru-paru yang umumnya teman-teman tapol menyebutnya KP (koch patient ?) dan malaria yang sudah menahun. Tapi hatiku tetap tabah dan kukuat-kuatkan diriku untuk bisa bertemu kembali dengan keluargaku. Keinginan untuk segera bertemu keluarga inilah yang memberi semangat bertahan hidup terutama wajah ibuku yang mendekati usia 80 tahun dan kenyang penderitaan dalam hidupnya tapi tak pernah mengeluh, anakku perempuan yang waktu itu sudah berusia 16 tahun dan isteriku yang kuanggap wanita tercantik di dunia ini. Ya di dunia ini hanya ada dua wanita yang punya sifat keibuan yaitu ibuku dan isteriku.

Ibuku sejak muda mengikuti ayahku yang hidupnya sepenuhnya mengabdi bagi negeri tercinta ini sehingga pada waktu berada di tanah buangan Boven Digul menjadi orang yang paling miskin tapi tak pernah mengeluh. Ibuku di tahun 1940 hanya punya selembar kain dan selembar kebaya. Oom Sjahrir (Sutan Sjahrir yang pernah menjadi PM Republik Indonesia) yang hubungannya sangat dekat dengan keluarga kami, dari tempat pengasingtannya di Banda Neira mengirimkan pakaian-pakaian bekas yang katanya dari keluarga Dr. Tjipto Mangunkusumo yang belum pernah kami kenal secara dekat. Ya, lamunanku pada ibuku yang sangat kurindukan.

Kereta api yang kami naiki dari Surabaya berangkat pada sore hari dan sampai di stasiun Senen pada pagi keesokan harinya. Tapi tidak pagi sekali, sudah agak siang. Dengan memakai caping petani dan menenteng tas pemberian PANGKOKAMTIB ( maaf, aku tak tahu presis, pemberian tas, sepatu dan sarung itu dari mana, katanya dari PANGKOKAMTIB bapak yang baik hati pak Sudomo?) aku bersama rombongan naik truk dari stasiun Senin ke KODIM Jakarta Selatan Kebayoranbaru.

Di KODIM Jakarta Selatan rupanya sudah banyak ibu-ibu keluarga tapol yang menunggu untuk menjemput. Di antaranya ada mas Ari teman lamaku. Ya, dia teman lamaku yang sama-sama berjuang bertempur melawan kolonialis Belanda di th 1945. Bedanya hanya dia tergabung dalam TP Jawa Tengah sedang aku di TRI Kalbar. Dia belum merasakan pedihnya diterpa peluru sedang aku merasakan pedihnya peluru angrem dibokongku sebelah kiri. Aku pernah dimarahi oleh anak buahku karena salah menentukan arah mundur pasukan, sehingga dua hari tak makan hanya makan buah durian sampai mabuk durian. Aku geli mengingat ketololanku waktu itu.

Kukira mas Ari datang untuk menjemputku, tetapi rupanya tidak. Dia menjemput bung Subronto K.Atmodjo yang sama-sama musikus.

Kutanya mas Ari, “apakah isteriku datang menjemputku?”

Jawabnya “tunggu saja, nanti juga datang.”

Terrnyata sampai teman-teman yang terakhir sudah meninggalkan KODIM belum juga keluargaku datang menjemput.

Petugas di Kodim mengatakan, kalau tak ada yang menjemput akan dibawa ke RTC SALEMBA.

Akhirnya datang seorang ibu seorang nenek-nenek. Aku tahu ibu itu ibu Sapar yang puluhan tahun yang lalu pernah menjadi tetanggaku. Kutanya ibu itu akan menjemput siapa. Ibu itu mengatakan akan menjemput anaknya yang dikiranya ikut bebas dalam rombongan pertama itu.

Akhirnya ibu itu mengajakku pulang.

Di tengah perjalanan pulang ibu itu bercerita, bahwa isteriku sudah bersuami lagi dan telah mempunyai seorang anak laki-laki. Sekarang anak laki-laki itu sudah berumur 5 tahun.

Aku terdiam. Aku tak bisa berucap kata. Kemana aku harus menuju sekarang. Ke rumah kontrakan isteriku yang kini sudah berisuamikankan orang lain atau ke mana? Akhirnya kuputuskan untuk ke Pabrik Krupuk milik pak Giyanto yang juga kenalanku. Di sana banyak tempat untuk pekerja-pekerja pabrik krupuk itu.

Kebetulan hari itu pak Giyanto ada di rumah. Beliau menerimaku dengan ramah dan menceritakan tentang isteriku yang telah bersuami lagi dan tentang anakku. Kutanyakan bagaimana tentang ibuku?

Beliau menceritakan, rumah ibuku telah hancur dihancurkan oleh KAMI dan KAPI karena letaknya bersebelahan dengan gudang buku Yayasan Pembaruan – penerbit dan toko buku PKI. Dan kini ibuku tinggal di rumah famili ibuku

Biarlah, untuk sementara aku tak mau berfikir banyak. Kalau umurku masih panjang pasti aku bisa menemukan ibuku.

Pak Giyanto memberi saran agar aku tinggal tenang saja dulu di rumahnya. Mangan ora mangan waton kumpul katanya.

Tak lama setelah aku sampai di rumah pak Giyanto anakku datang. Pakaiannya separuh basah, katanya sedang mencuci pakaian dan mendengar aku pulang dia buru-buru datang.

Maaf, aku hentikan dulu mengetik. Aku tutup dulu pintu kamar. Tak kusadari aku menangs sendiri sesenggukan mengetik kenangan ini. Ya, aku benar-benar menangis. Sepintas berdiri di depanku ayahku Ramidjo yang tersenyum. Kowe nangis le? Mosok pejuang nangis. Aku sing adoh lor adoh kidul ora tau nangis. Teruske olehe ngetik. Songsong hari depan,

Aku tersentak dari rasa trenyuhku dan aku memang harus meneruskan ceritaku.

“Mana ibumu ?” tanyaku.

“Ibu nanti juga ke sini.” Katanya.

Kira-kira setengah jam aku berbincang-bincang dengan anakku. Dia sama sekali tidak menangis. Dia kelihatan tegar dan hatinya teguh. Aku senang melihat sikapnya. Dia benar-benar anakku dan cucu ayahku Ramidjo. Tidak mudah meneteskan air mata. Ya, aku sungguh merasa bangga waktu itu. Aku mengharapkan di kemudian hari nanti dia mau meneruskan cita-cita untuk membuat negeri ini negeri yang benar-benar gemah ripah loh jinawi. Hanya setengah jam aku bertemu dia dan dia segera pamit pulang untuk meneruskan pekerjaan rumahnya mencuci.

Aku berniat untuk berbaring di divan di sebelah meja makan. Tapi sebelum itu datang isteriku. Aku tidak mengatakan dia sebagai bekas isteriku sebab sampai detik ini pun aku belum pernah mencereikan dia walaupun waktu itu dia telah bersuamukan orang lain.

Isteriku menangis sesenggukan mukanya ditelungkupkan di lututku.

“Sudahlah”, kataku.

“Tak ada yang perlu disesalkan. Semua yang kita lakoni ini memang sudah garis hidup kita. Aku tidak menyalahkanmu yang kawin lagi dengan orang lain. Buat apa mesti ditangisi apa yang sudah lalu. Kalau bicara yang salah, akulah yang salah. Bertahun-tahun meninggalkan keluarga. Tidak memberi nafkah dan malahan membebani tugas memelihara dan mengasuh seorang anak. ‘Kan itu anak kita berdua dan yang seharusnya mengasuh dan membesarkan kita berdua. Tapi aku, tanpa pamit mengikuti polisi – e, ya kok mau-maunya digelandang polisi – padahal aku tidak mencuri, tidak berbuat kriminal.” Kataku.

Isteriku makin menangis. Tapi aku waktu itu tetap tegar. Tidak ada perasaan marah waktu itu, tapi rasa benciku kepada Suharto dedengkot orde baru itu makin mendelam dan bahkan rasa benci itu berubah menjadi mendendam.

Apakah sekarang ini, waktu mengetik ini aku masih mendendam Suharto? Jawabku tegas ‘tidak’. Aku tidak dendam dan tidak benci lagi. Rasa benci dan dendam kepada siapa pun sudah kutenggelamkan dalam-dalam ke dasar samudera perasaanku yang paling dalam melebihi dalamnya samudera mana pun.

Mengapa rasa benci dan dendam itu kutenggelamkan? Karena rasa benci dan dendam adalah bagaikan api dalam sekam yang akan membakar diri sendiri sehingga selalu merasa resah, gelisah dan tak ada rasa pasrah.

Isteriku akhirnya berhenti menangis. Kukatakan padanya soal hari depan kita nanti kita pikirkan. Aku belum bisa berfikir sekarang. Dan aku belum tahu apa yang harus kulakukan, sebab aku sekarang ini dalam keadaan sakit.

“Sudahlah.” Kataku kepada isteriku.

“Yang penting kamu mau menandatangani surat penerimaan kepulanganku. Soal yang lain nanti akan selesai dengan sendirinya. Allah maha mengetahui, dan Allah akan membimbing kita di jalan yang benar.” Kataku dengan keyakinan penuh.

Malam itu aku mulai tidur di rumah pak Giyanto. Aku tidur di ruang makan di divan yang terletak di sebelah meja makan. Kupasang kelambu yang biasa kupakai di Pulau Buru. Rupanya nyamuk Jakarta sama saja dengan nyamuk Buru. Gigitnya juga sama gatalnya hanya bedanya di Jakarta tidak ada nyamuk malaria. Aku bisa tidur nyenyak.

Beberapa hari kemudian kuketahui temanku dr. W yang sama-sama belajar di Jepang membuka praktek tidak jauh dari tempatku mondok. Sore itu aku ke kliniknya memeriksakan kesehatanku.

Akhirnya aku tetap berobat ke kliniknya.

Menurut dokter temanku itu, aku sulit disembuhkan kecuali ada mujizat lain. Aku pasrah. Kubeli kunyit, madu dan telur ayam. Setiap akan tidur kuminum air perasan kunyit dicampur kuning telur dan madu dan sedikit garam. Kutekuni jamu ini setiap akan tidur, dan dadaku selalu kugosok dengan reumason cream. Dada terasa hangat dan batuk-batuknya berkurang.

Sebulan telah berlalu dan aku merasa semakin bosan. Apa yang harus kukerjakan. Mencari pekerjaan? Aku ini bisa apa? Dan apa ada orang yang mau menerimaku bekerja dalam keadaan sakit?

Anakku datang. Dia mampir sepulangnya dari sekolah. Kutanya dia bagaimana pelajaran hari ini dan lain-lain yang berhubungan dengan pelajaran di sekolah. Dia kelihatan senang mendapat perhatian tentang pelajarannya. Akhirnya kutanya dia : “ apakah batu asahan peninggalan simbah (ayahku maksudku) masih ada? Wungkal (batu asahan) itu ada di laci lemari paling bawah.” Kataku.

Dia menjawab : “ndak tahu.”

“Ya, coba cari wungkal itu. Wungkal itu wungkal halus dan kasar” Kalau ketemu tolong bawa kemari, ya”, pintaku.

Benar, keesokan harinya anakku datang membawa sebuah batu asahan (wungkal), Wungkal itu dibawa ayahku dari Australia sebelah wungkal kasar dan sebaliknya wungkal halus. Wungkal itu sudah lumutan.

Kutanya anakku “kenapa wungkal ini lumutan begini?”

Jawabnya “ya, karena lama dipakai untuk bandulan timba mengambil air di sumur.”

“Tak apa, masih bisa dipakai”, jawabku.

Wungkal itu kubresihkan. Kucari sebuah botol kecil kuisi minyak tanah bercampur minyak kelapa. Kucari lagi sobekan-sobekan baju kaos untuk lap. Nah, lengkap sudah. Kumasukkan semuanya ke dalam tas plastik merah.

Keesokan harinya mulailah aku dengan profesi baruku menjadi pengasah gunting dan pengasah pisau, berkeliling di jalan-jalan sekitar daerah Menteng Jakarta Pusat. Hasilnya? Lumayan. Aku bisa makan tanpa harus makan di tempat pondokanku walaupun ibu Giyanto yang baik hati itu selalu menyediakan makanan untukku. Kukatakan kepada beliau tak usah menyediakan makan lagi untukku karena biasanya aku makan di rumah teman. Dan kalau aku pulang belum makan aku akan ambil sendiri.

Tiga bulan sudah berlangsung sejak aku menjalankan profesiku. Seperti biasa aku meneriakkan “asah guntung, asah pisau” berkeliling di daerah gedongan “Menteng”. Di Jalan Pekalongan di dekat rumah pak Chaerul Saleh - menteri dalam kabinet Gotong Royong Bung Karno – aku dipanggil seseorang.

O, rupanya seorang pembantu rumah tangga dengan menggandeng anak perempuan kecil. Kelihatannya seperti anak Tionghwa.

Pembantu itu menunjukkan sebilah pisau berwarna putih perak berkilat.

“Pak, tolong asah pisau ini bisa gak?” tanyanya.

“O, ini pisau sashimi. Ini masih cukup tajam”. Kataku terus terang.

“Ya, pak masih tajam. Tapi ini gompal sedikit. Apa bisa gompalnya dihilangkan?” tanyanya.

“Baiklah, tapi agak lama untuk meratakannya.” Kataku.

“Ongkosnya berapa?” tanyanya.

“Terserah, berapa saja. Saya tidak ngarani soal ongkos. Berapa sajalah, bisa baik atau tidak.” Jawabku.

Mulailah aku mengasah dengan wungkal bagian yang kasar untuk meratakan gompalnya. Setelah betul-betul rata kuasah lagi dengan wungkal bagian halus. Rata sudah dan kucoba untuk mencukur bulu kakiku. Sungguh, tajam sekali pisau itu. Aku sendiripun merasa puas melihat ketajaman pisau itu.

Tengah pembantu itu memberikan uang 500 rupiah sebuah mobil sedan TOYOTA CROWN berhenti. Seorang nyonya keluar dari mobil dan langsung menghampiri. Nyonya itu melihat pisaunya dan lalu mencobanya.

“Kore wa yoku kireru. Yokatta.” (ini tajam sekali. Syukurlah). Celotehnya.

“Sashimi wo kiru tame desu, ne?” (untuk memotong sashimi, bukan?) kataku.

“Hai, sashimi no tame desu. Nihon go dekimasu, ne.” (ya, untuk sashimi. Bisa bahasa Jepang, ya).

“Hai, dekimasu.” (ya, bisa) jawabku.

Kemudian terjadilah dialog macam-macam dengan nyonya itu. Dia Tanya tentang harga daging dan lain-lain. Di tahun 1979 waktu itu belum ada super market seperti sekarang. Biasanya orang asing membeli ikan atau daging di toko Kem Cik atau tempat-tempat belanja tertentu.

Akhirnya nyonya itu bertanya “Doko de Nihongo wo benkyou shita ka? (di mana anda belajar bahasa Jepang).

“Nihon no Waseda de benkyou shimashita”. ( di Waseda univ. di Jepang) jawabku.

“Waseda………?” nyonya itu bergumam lalu masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian nyonya itu keluar bersama suaminya. Suaminya berkata “douzo, ohairi kudasai” –silakan masuk.

Saya merasa agak malu dengan cara tuan itu mempersilakan masuk. Caranya sangat sopan sedang saya hanya seorang pengasah gunting.

Aku duduk di kursi tamu. Kemudian tuan itu memperkenalkan diri dan memberikan kartu namanya.

Dalam tulisan ini sengaja saya tidak mau menyebutkan nama tuan itu karena waktu beliau meninggakan Indonesia setahun kemudian beliau tidak mau memperkenalkan saya kepada orang Jepang lain dan berarti bahwa beliau tidak mau dikenal namanya sebagai orang yang pernah mengenal saya.

Tuan itu menanyakan mengapa saya sebagai orang yang pernah belajar di Waseda University, universitas yang sangat terkenal di Jepang dan untuk ujian masuknya sangat sulit, bekerja sebagai pengasah gunting dan pisau? Apakah pekerjaan itu dilakukan untuk coverjob sebagai intelejen? Apakah dari BAKIN?

Saya jawab, bahwa saya adalah sampah. Sampah saja masih ada nilainya sebab sampah masih bisa didaur ulang dan dijadikan pupuk. Tetapi orang-orang seperti saya adalah sampah mati, sampah yang sangat tidak berguna. Ibarat penyakit, penyakut kusta atau lepra yang siapa pun tak akan mendekat. Dan orang-orang seperti saya ini biasa dijadikan kambing hitam.

Semula tuan itu tidak juga bisa mengertri. Akhirnya saya berterus terang, bahwa saya baru tiga bulan yang lalu bebas sebagai tahanan politik dari Pulau Buru.

Mendengar keteranganku, bahwa aku adalah tapol yang dibebaskan dari Pulau Buru tuan itu bangkit berdiri. Kemudian dia membawa foto-foto dokumentasi pembebasan tapol Buru. Dia menunjukkkan sebuah foto dan menanyakan apakah aku kenal foto itu. Aku jawab, bahwa itu adalah foto ahli hukum terkenal Profesor Doktor Suprapto SH, jawabku. Berturut-turut dia menunjukkan foto Subronto K.Atmodjo, Ferdinan Runturambi dll. Semuanya memang kukenal karena kebetulan sama-sama satu unit di Unit XV Indrapura. Dan kebetulan ada foto saya sendiri yang sedang memanggul bungkusan tikar dan mengenakan caping bambu yang biasa dipakai waktu mencangkul.

“Soo ka, soo ka. Kawai-soo-da. Komatta-ne.” ( begitukah, susah, ya). Gumamnya. Kemudia dia berkata.

“Sayang, saya sudah punya asisten. Tapi begini saja. Bisa Bantu saya tiga hari dalam seminggu? Kalau mau silakan besok datang ke sini.”

Begitulah ceritanya.

Keesokan harinya aku mulai bekerja. Semula aku hanya bekerja tiga kali seminggu yaitu hari Senin, Rabu dan Jum’at. Tetapi kemudian aku bekerja penuh dalam seminggu dan hari Sabtu dan Minggu libur.

Tuan tempat aku bekerja itu sungguh berperi kemanusiaan.

Melihat aku dalam keadaan sakit dia berusaha membelikan obat-obatan dari Jepang dan memberi vitamin yang saya anggap sangat baik. Nama vitamin itu “Popon S” dan ternyata vitamin yang berisi B1, B6, B12, mineral dan unsur-unsur lainnya itu menambah daya tahan tubuh yang luar biasa.

Selain memberi vitamin berbentuk tablet, tuan itu hampir setiap makan siang mengajakku ke restoran Jepang dan aku diharuskan makan banyak makanan-makanan bergizi. Setiap pergi tugas ke luar Jakarta, ke Bali, Sumatra dan tempat-tempat lainnya aku selalu diajak serta. Kegemaranku memotret juga tersalur dan aku memang dulunya terbiasa memegang kamera film. Ketika itu film masih hitam putih dan kameranya juga cukup berat tidak seperti sekarang ini semuanya serba jadi. Tapi untunglah aku mampu dan bisa mengerjakannya, dan aku pernah ikut membuat film perjalanan Marcopolo dari ujung utara Sumatra (daerah Aceh) sampai ke Sumatra Selatan Tanjung Karang – Lampung dan sekitarnya. Pernah di daerah Sumatra Barat masuk ke hutan untuk mencari tempat tumbuhnya bunga Raflessa. Seorang di antara orang-orang Jepang yang ikut rombongan kami memotret dan mengeluarkan rol-rol film dari kotaknya. Kotak-kotak dan kertas-kertas bekas film yang sudah dipakai itu dimasukkan kembali ke dalam tas dan tidak dibuang begitu saja padahal berada di dalam hutan. Sampah-sampah kotak dan kertas-kertas itu baru dibuang di kotak sampah di hotel. Begitu hati-hatinya orang-orang Jepang itu menjaga kebersihan lingkungan.

Aku mulai punya banyak kenalan orang-orang Jepang dan mulailah aku mencari tambahan penghasilan dengan mengajar bahasa Indonesia kepada orang-orang Jepang.

Kehidupanku mulai berubah. Aku bertambah sehat. Prenghasilanku lumayan dan akhirnya aku bisa mengontrak sebuah rumah untuk 2 tahun. Aku berhasil mengumpulkan keluargaku yang berserakan.

Tinggallah kami sekeluarga, ibuku yang sudah 80 tahun, isteriku, anakku (perempuan) yang baru masuk SMA dan anakku laki-laki berumur 5 tahun dan aku. Aku beruntung mendapat seorang anak laki-laki dari isteriku yang sempat bersuamikan orang lain. Jika tidak anakku tentu hanya seorang sebab aku tidak akan mampu lagi untuk mendapatkan seorang anak pun karena akibat penyiksaan dengan stroom listrik ketika diinterogasi membuat diriku i m p o t e n yang hingga kini tak tersembuhkan.

Apa yang harus kuucapkan? Sebagai seorang muslim aku hanya bisa berucap Subhanallah. Alhamdulillahirabbilalamin.

Juga setiap selesai shalat aku selalu memanjatkan do’a agar pak Harto panjang umur dan sebagai penyebab dari semua derita yang kualami dan dialami oleh korban-korban peristiwa G30S, mau kiranya menggunakan sisa hidupnya untuk bertaubat, bukan hanya bertaubat kehadirat Allah tapi mengakui dosa-dosanya kepada Rakyat dan negeri tercinta ini dan mengembalikan harta-harta yang sudah diambilnya. Maaf, semula saya ingin memakai kata “dirampasnya” atau “dirampoknya” tapi kupikir kata-kata itu kasar dan tidak sopan dan tidak lazim dipakai di zaman Bung Karno karena melanggar kode etik jurnalistik maka kuganti dengan kata “diambilnya”.

Semoga saja pengalaman getir-pahit ini tidak terulang kembali bagi generasi kini dan selanjutnya.

Stop ! - bahasa Jepangnya TOMARE ! - segala bentuk pelanggaran HAM.

Sekian.

Tangerang, Senin Pahing 06 November 2006.

Lihat komentar selanjutnya
Komentar Anda
Nama
E-mail
Komentar