Kamis, 21 Mei 2009

Serikat Tani Tou Wasian, Mengembalikan Gairah Bertani Pemuda Desa


SERIKAT TANI TOU WASIAN,
MENGEMBALIKAN GAIRAH BERTANI PEMUDA DESA
Pembangunan selama ini dimengerti sebagai serangkaian upaya untuk memperbaiki kondisi kehidupan rakyat, melalui langkah pencapaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan dukungan stabilitas politik yang tinggi. Terdapat anggapan bahwa: (1) pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan dengan sendirinya membawa perbaikan hidup rakyat kebanyakan, terutama bagi kaum miskin; (2) bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi berarti produksi telah membuka lapangan kerja dan menggairahkan pasar, sehingga bisa menjawab kebutuhan rakyat, dan (3) bahwa politik atau dinamika politik merupakan hambatan bagi gerak ekonomi.

Pemikiran demikian berakibat pada tumbuhnya pemisahan tegas antara visi ekonomi dan kepentingan politik. Slogan pertumbuhan dan kesejahteraan ekonomi membuat rakyat cenderung pragmatis dan menjauhi politik dan pembangunan Organisasi . Akibatnya, rakyat terasing dari gerak pembangunan karena negara telah menempatkan diri sebagai agen tunggal kemajuan dan '‘dewa'’ bagi kesejahteraan rakyat. Desa dan rakyat pedesaan dibanjiri berbagai program, suntikan modal, rencana bantuan dan berbagai kredit dikucurkan namun ini semua tidak membawa hasil nyata bagi pengembangan rakyat pedesaan. Partisipasi dan inisiatif rakyat, terutama di pedesaan, dihambat dan nyaris tidak berfungsi dan dominasi negara berlangsung tanpa kontrol kritis. Organisasi Tani sebagai kontrol terhadap proses pembangunan dan juga wadah untuk memperkuat solidaritas antar masyarakat nyaris tidak tidak pernah tumbuh normal

Foto STTW Menjelang Konggres Pertama
Berangkat dari keprihatinan tersebut, Community organizer (CO) YDRI sejak tahun 2007 mencoba mendorong dan memfasilitasi pembentukan Organisasi Tani di Desa Tombasian atas, sebuah desa yang terletak di Kabupaten Minahasa, dengan lama perjalanan 2 Jam dari Kota Manado. Desa Tombasian merupakan desa yang subur dan dekat lokasi wisata spiritual, Pinabetengan. Perjalanan menuju desa Tombasian nyaris tidak menyisahkan kelelahan, sepanjang perjalanan keindahan Tanah Minahasa yang berbukit dan subur itu merupakan spirit tersendiri yang bisa membuat organizer rakyat makin yakin bahwa perubahan rakyat sesungguhnya bisa dimulai dari kekuatan rakyat itu sendiri.

Pelajaran menarik dari Serikat Tani Tou Wasian, adalah Organisasi ini lahir dari inisiasi para pemuda desa yang dulunya kerap dianggap sebagai kumpulan pemuda berandal desa, yang hanya mabuk-mabukan, apolitis dan bahkan kerap meresahkan ketentraman masyarakat setempat. Stigma-stigma buruk inilah yang dijadikan sebagai spriit utama dalam melakukan pengornisasian Pemuda Desa Tombasian

Melalui pendekatan emosional dengan pemuda setempat, CO YDRI mulai mengembang diskusi kelompok. Dari rangkaian diskusi kelompok yang dilakukan lahirlah ide dari para pemuda untuk membentuk sebuah Organisasi yang basis keanggotaanya bukan hanya pemuda setempat tapi dari desa-desa sekitar . Pada Tanggal 5 September 2008 untuk pertama kalinya dilakukan pertemuan besar yang selanjutnya disepakati untuk untuk menamakan wadah bersama tersebut Serikat Tani Tou Wasian dan secara demokratis.

Pemilihan nama “Serikat Tani Tou Wasian ”, menurut Ketua Serikat Tani Tou Wasian diilhami dari semangat bertani orang-orang Tombasian yang begitu tinggi. Saat itu kegiatan mapalus atau mengolah lahan pertanian secara bersama-sama yang sering diistilahkan “Ba Serikat”. Kini dengan memakai nama “Serikat Tani” diharapkan bisa menjadi pemacu semangat orang-orang muda sekarang untuk bisa mencontoh semangat orang tua dahulu dalam bidang pertanian. “Tou Wasian” sendiri adalah untuk menunjukkan jati diri organisasi ini yang anggotanya adalah generasi muda Tombasian Atas, Ungkap Calvin Mundung.

Foto II ( anggota STTW memanfaatkan lahan tidur)
Tujuan utama dari Serikat Tani Tani To Wasian (STTW) adalah memperjuangkan hak-hak tani petani serta mendorong pemenuhan negara atas hak sipil-politik maupun hak- ekonomi sosial dan budaya bagi petani. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut program STTW menjadi wadah berhimpun bagi petani maupun masyarakat umum yang memiliki kepedulian dan keberpihakan terhadap petani dan juga wadah pembelajaran bersama pengetahuan teknis pertanian dan masalah lain yang mempengaruhi dunia pertanian.

Untuk mendukung pencapain tujuan tersebut Serikat Tani Tou Wasian mengembangkan program pendidikan terhadap pemuda tentang teknis tani organik dan juga mengembangkan proyek percontohan usaha tani padi sawh dengan metode SRI (System of Rice Intensififastion) di desa Tumpaan.

Foto III STTW membuat Pupuk Pupuk Organik
Usaha tani padi sawah dengan metode SRI yang coba dikembangkan oleh Serikat Tani Tou Wasian, bukanlah tanpa alasan, menurut Sekretaris Serikat Tani Tou Wasian, Ever Ondang; ”metode SRI adalah model budidaya padi intensif dan efisien yang berbasis pada pengelolaan: tanah – tanaman – air, yang mengutamakan produktivitas tinggi dan nilai ekologis dan mempunyai prinsip Hukum pengembalian, Bertani yang sepadan dan yang paling utama mengedepankan kearifan lokal.

Sementara untuk mendukung pencapaian program kerja, sumber dana Serikat Tani Tou Wasian bersandarkan swadaya anggota, yang setiap bulannya ada iuran dan uang pangkal anggota. Minimnya dana pendukung tidak membuat kegiatan Organisasi mengalami hambatan, karena budaya kebersamaan dan rasa memiliki organisasi menjadi modal utama dalam pengembangan Organisasi. Dengan prinsip tersebut anggota aktif organisasi tani To Wasian makin hari makin banyak.